Breaking News
Memuat breaking news...

HUT Ke 39 Yayasan Perguruan SIM, Mendikdasmen Abdul Mu’ti: YPSIM Miliki Arti Penting Masa Depan Pendidikan Indonesia

Redaksi
Redaksi
Rabu, 26 Agustus 2026 - 2.14 PM WIB
HUT Ke 39 Yayasan Perguruan SIM, Mendikdasmen Abdul Mu’ti: YPSIM Miliki Arti Penting Masa Depan Pendidikan Indonesia
Mendikdasmen Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., bersama anggota Komisi X DPRD RI, dr Sofyan Tan di acara HUT ke-39 YPSIM di Medan, Rabu (26/8). Waspada.id/ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., mengapresiasi kiprah Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) yang selama 39 tahun konsisten mengembangkan pendidikan sekaligus merawat keberagaman bangsa.

Apresiasi itu disampaikan Abdul Mu’ti saat menghadiri peringatan HUT ke-39 YPSIM bertema “39 Tahun Merawat Keberagaman Bangsa” di halaman Universitas Satya Terra Bhinneka, Jalan PDAM Tirtanadi Sunggal, Medan, Rabu (26/8).

Bahkan, Abdul Mu’ti melontarkan pernyataan yang mengundang tawa dan tepuk tangan hadirin. "Kalau semua lembaga pendidikan di Indonesia seperti ini, maka Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah tidak diperlukan lagi. Semua sudah selesai diurus oleh masyarakat,” kata Abdul Mu’ti.

Menurutnya, pernyataan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap kontribusi YPSIM yang didirikan dr. Sofyan Tan dalam menjalankan amanat konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Apa yang dilakukan Pak Sofyan Tan adalah bukti nyata bagaimana masyarakat berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan memperkuat ke-Indonesia-an kita,” ujarnya.

Abdul Mu’ti menilai YPSIM tidak sekadar menjalankan fungsi pendidikan, tetapi juga menghadirkan praktik nyata bagaimana keberagaman agama, suku, budaya dan latar belakang ekonomi dapat hidup bersama dalam satu lingkungan pendidikan.

Menurut dia, sekolah seharusnya menjadi meeting point sekaligus melting point bagi anak-anak Indonesia.

Anak-anak dari latar belakang yang berbeda dapat belajar bersama tanpa kehilangan identitas masing-masing, sekaligus tumbuh sebagai generasi yang memiliki semangat kebangsaan.

“Persatuan bukan berarti menyeragamkan perbedaan. Justru kekuatan Indonesia terletak pada kemampuan menerima perbedaan dan bekerja sama di tengah keberagaman,” katanya.

Dalam konteks tersebut, Abdul Mu’ti menilai keberadaan YPSIM memiliki arti penting bagi masa depan pendidikan Indonesia. Terlebih, sejak awal YPSIM memberikan ruang pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui konsep subsidi silang.

Ia juga mengapresiasi sinergi YPSIM dengan pemerintah, termasuk hubungan dengan Komisi X DPR RI yang salah satunya diwakili Sofyan Tan.

Ketika Sofyan Tan menyampaikan harapan terkait dukungan pemerintah terhadap program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP), Abdul Mu’ti kembali melontarkan gurauan.

“Kalau tadi Pak Sofyan Tan masih menyebut PIP dan KIP, itu hanya basa-basi saja. Karena sesungguhnya tanpa dikasih PIP dan KIP pun saya kira sekolah ini, kampus ini akan maju,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina YPSIM Sofyan Tan mengungkapkan perjalanan panjang lembaga pendidikan tersebut yang bermula dari kondisi serba terbatas.

YPSIM, kata Sofyan, didirikan dengan modal pinjaman bank sebesar Rp60 juta. Saat itu, yayasan hanya memiliki lahan seluas 1.500 meter persegi, tujuh ruang kelas dan tiga ruang administrasi untuk menampung 171 siswa.

Sebagian besar siswa ketika itu bahkan tidak membayar uang sekolah.

“Sofyan Tan ini gila,” ujar Sofyan mengenang komentar sejumlah orang terhadap perjuangannya membangun YPSIM.

Sebagai seorang dokter, Sofyan Tan mengaku menyisihkan penghasilannya dan turun langsung mencari anak-anak dari keluarga miskin, termasuk di kawasan pinggir sungai, untuk diberikan kesempatan memperoleh pendidikan.

Perjuangan tersebut terus berkembang hingga 39 tahun kemudian YPSIM memiliki tujuh lembaga pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Saat ini, jumlah peserta didik di sekolah-sekolah YPSIM mencapai 4.533 siswa. Sementara Universitas Satya Terra Bhinneka telah memiliki sekitar 7.500 mahasiswa.

Sofyan Tan menegaskan, komitmen YPSIM terhadap masyarakat kurang mampu tidak berhenti pada pendirian lembaga pendidikan. Program anak asuh dan subsidi silang terus dijalankan. Hingga kini, lebih dari Rp71 miliar telah dialokasikan untuk membantu pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Sekolah boleh cantik, boleh mewah, tetapi isinya diperuntukkan bagi orang-orang yang terzalimi secara ekonomi,” tegasnya.

Sofyan Tan juga menawarkan YPSIM menjadi mitra pemerintah dalam mengembangkan model pendidikan integratif yang menggabungkan pendidikan bermutu dengan semangat keberagaman dan pemerataan akses.

“Kalau ingin membangun sekolah integrasi, sekolah yang bermutu, Pak Menteri boleh belajar dari Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda. Kami siap untuk berpartner dengan pemerintah membangun masa depan generasi muda,” katanya.

Ia berharap pengalaman YPSIM selama 39 tahun dapat menjadi contoh bahwa pendidikan bermutu, keberagaman dan keberpihakan kepada masyarakat kurang mampu dapat berjalan beriringan dalam mempersiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam peringatan tersebut turut hadir Staf Ahli Mendikdasmen Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Prof. Dr. H. Biyanto, M.Ag., Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar Dr. Rita Pranawati, S.S., M.A., para donatur dan orang tua siswa, Anggota Dewan Pembina YPSIM Felix Iskandar Harjatanaya, Ketua YPSIM Finche Kosmanto, serta jajaran kepala sekolah, guru dan pimpinan Universitas Satya Terra Bhinneka.

Rangkaian peringatan HUT ke-39 YPSIM juga diisi dengan pemberian penghargaan masa bakti kepada sejumlah guru dan tenaga pendidik serta penghargaan bagi siswa berprestasi.

Usai prosesi potong tumpeng, Abdul Mu’ti secara spontan mengajak Sofyan Tan bernyanyi bersama para siswa yang tergabung dalam paduan suara dan sebelumnya tampil menghibur para undangan. (Id142)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement