Breaking News
Memuat breaking news...

IHSG Ambruk 11,57 Persen, Rupiah Bertahan di Atas Rp18.000

Redaksi
Redaksi
Jumat, 16 Oktober 2026 - 4.33 PM WIB
IHSG Ambruk 11,57 Persen, Rupiah Bertahan di Atas Rp18.000
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.id): Pasar keuangan Indonesia menutup perdagangan Jumat (16/10/2026) dalam tekanan berat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun 11,57 persen ke level 5.185 setelah sempat mengalami penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada sesi pembukaan. Sementara itu, nilai tukar rupiah bertahan di atas Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, menilai tekanan tajam di pasar saham domestik tidak terlepas dari kekhawatiran investor terhadap kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Kabar mengenai kajian perubahan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market telah memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar. Jika perubahan tersebut benar-benar dilakukan, persepsi investor global terhadap pasar modal Indonesia berpotensi berubah dan memengaruhi aliran modal asing.

Pada perdagangan Jumat, IHSG sempat menyentuh level terendah 5.185, yang sekaligus menjadi level penutupan. Koreksi sebesar 11,57 persen menunjukkan besarnya tekanan jual yang melanda pasar saham domestik.

Gunawan menilai, tekanan tersebut perlu dicermati karena pasar keuangan Indonesia juga tengah menghadapi tantangan dari ketidakpastian geopolitik global dan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat.

“Tekanan di pasar saham saat ini perlu diwaspadai karena bukan hanya berkaitan dengan sentimen MSCI. Ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan suku bunga global juga menjadi tantangan bagi pasar keuangan domestik,” ujar Gunawan.

Rupiah Ikut Tertekan di Atas Rp18.000

Pelemahan tajam IHSG turut membayangi pergerakan rupiah. Mata uang domestik ditransaksikan di kisaran Rp18.000 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat.

Menurut Gunawan, pelemahan rupiah sejalan dengan memburuknya sentimen di pasar keuangan domestik. Apabila tekanan terhadap saham berlanjut dan investor asing mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia, risiko arus modal keluar atau capital outflow perlu diantisipasi.

Situasi tersebut berpotensi memperbesar tekanan terhadap rupiah, terutama jika kebutuhan dolar AS meningkat di tengah ketidakpastian pasar global.

Selain persoalan MSCI, perkembangan inflasi Amerika Serikat juga menjadi perhatian. Kenaikan inflasi produsen AS memunculkan spekulasi bahwa Federal Reserve atau The Fed dapat mempertahankan kebijakan moneter ketat, bahkan mempertimbangkan kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi terus berlanjut.

Ekspektasi suku bunga AS menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor karena dapat memengaruhi daya tarik aset keuangan global, pergerakan dolar, serta aliran modal ke negara berkembang.

Dolar dan Imbal Hasil Obligasi AS Melemah

Menariknya, sejumlah indikator keuangan AS justru mengalami pelemahan pada akhir pekan ini. Indeks dolar AS atau US Dollar Index tercatat berada di kisaran 102,1, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun mendekati 5,05 persen.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan terhadap rupiah dan IHSG tidak hanya ditentukan oleh indikator eksternal, tetapi juga dipengaruhi sentimen spesifik dari dalam negeri, terutama kekhawatiran terhadap prospek pasar modal Indonesia.

Gunawan menilai, perkembangan MSCI menjadi salah satu faktor penting yang perlu terus dicermati. Kepastian mengenai klasifikasi pasar saham Indonesia akan berpengaruh terhadap penilaian investor atas prospek investasi di pasar domestik.

Apabila ketidakpastian tersebut berlanjut, pasar saham dan rupiah berpotensi tetap menghadapi tekanan. Namun, arah pergerakan selanjutnya juga akan bergantung pada respons otoritas, perkembangan arus modal, serta kondisi pasar keuangan global.

Harga Emas Dunia Turun

Di tengah gejolak pasar keuangan domestik, harga emas dunia juga bergerak melemah. Harga logam mulia tersebut tercatat di kisaran US$5.167 per troy ounce, atau sekitar Rp2,4 juta per gram berdasarkan estimasi konversi yang digunakan.

Pelemahan emas terjadi ketika investor mencermati perkembangan inflasi AS dan prospek kebijakan suku bunga The Fed. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya peluang memegang emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Meski demikian, harga emas juga dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS, permintaan aset lindung nilai, serta perkembangan risiko geopolitik global.

Gunawan menegaskan, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan pasar keuangan secara menyeluruh. Tekanan yang terjadi pada IHSG dan rupiah menunjukkan bahwa ketidakpastian domestik dan global dapat saling memperkuat, sehingga perkembangan kebijakan MSCI dan arah suku bunga AS akan menjadi perhatian penting dalam perdagangan berikutnya. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement