Breaking News
Memuat breaking news...

IHSG dan Rupiah Bergerak Sideways, Investor Wait and See Jelang Rilis Data Inflasi

Redaksi
Redaksi
Senin, 12 Oktober 2026 - 9.57 AM WIB
IHSG dan Rupiah Bergerak Sideways, Investor Wait and See Jelang Rilis Data Inflasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.id): Pergerakan pasar keuangan domestik diperkirakan cenderung mendatar atau sideways pada awal pekan ini. Minimnya sentimen ekonomi baru membuat investor memilih bersikap hati-hati sembari menunggu rilis sejumlah data ekonomi penting, terutama inflasi Amerika Serikat (AS) dan China.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, menilai data inflasi dari kedua negara tersebut akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah pasar keuangan global dalam jangka pendek. Realisasi inflasi juga berpotensi memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga acuan serta pergerakan pasar obligasi internasional.

Menurutnya, dinamika tersebut perlu dicermati karena pasar keuangan belakangan masih menghadapi tekanan, terutama dari pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury.

"Selain data inflasi, sejumlah indikator ekonomi lainnya juga berpotensi memicu volatilitas pasar dalam sepekan ke depan. Namun, pada awal pekan ini, minimnya agenda ekonomi membuat pergerakan pasar cenderung terbatas," ujar Gunawan, Senin (12/10).

Stabilnya harga minyak mentah, imbal hasil US Treasury, serta indeks dolar AS atau US Dollar Index yang berada di kisaran 102 turut membuat pasar belum memiliki katalis kuat untuk menentukan arah pergerakan berikutnya.

Di pasar valuta asing, rupiah terpantau bergerak relatif stabil dengan kecenderungan melemah. Pada sesi perdagangan pagi, rupiah berada di level Rp17.880 per dolar AS.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif dalam rentang terbatas. Setelah sempat dibuka menguat di level 6.109, IHSG berbalik arah dan sempat memasuki zona merah.

Gunawan memperkirakan pasar keuangan domestik masih berpeluang bergerak mendatar hingga penutupan perdagangan. Meski demikian, investor tetap perlu mewaspadai risiko koreksi karena kondisi pasar masih rentan terhadap perubahan sentimen global.

Menurutnya, arah pergerakan pasar selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan indikator ekonomi global serta respons investor terhadap data-data yang segera dirilis.

Di tengah pergerakan saham dan rupiah yang cenderung terbatas, harga emas dunia justru terpantau menguat ke level US$4.206 per troy ounce, setara sekitar Rp2,43 juta per gram berdasarkan estimasi harga yang disampaikan.

Penguatan emas tersebut terjadi ketika sentimen pasar relatif minim. Pergerakan harga emas tetap menarik dicermati investor di tengah ketidakpastian arah pasar keuangan global.

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diperkirakan masih akan menerapkan strategi wait and see sembari mencermati rilis data inflasi AS dan China. Hasil kedua data tersebut dapat menjadi penentu arah pergerakan saham, nilai tukar rupiah, serta aset keuangan lainnya dalam perdagangan berikutnya. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement