Breaking News
Memuat breaking news...

IHSG Dan Rupiah Kompak Menguat, Sentimen Domestik Kalahkan Tekanan Global

Redaksi
Redaksi
Rabu, 10 Juni 2026 - 6.28 PM WIB
IHSG Dan Rupiah Kompak Menguat, Sentimen Domestik Kalahkan Tekanan Global
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Pasar keuangan domestik menunjukkan kinerja positif pada perdagangan hari ini, Rabu (10/6). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak menguat, meski mayoritas bursa saham Asia masih berada dalam tekanan akibat ketidakpastian global dan memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, penguatan pasar saham domestik dalam dua hari terakhir didorong oleh sentimen positif dari dalam negeri, terutama setelah munculnya rencana sejumlah emiten untuk melakukan aksi buyback saham serta keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen.

"Rencana buyback saham yang disampaikan sejumlah emiten berhasil meningkatkan optimisme pelaku pasar. Ditambah lagi dengan kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan, sehingga memberikan kepercayaan lebih terhadap stabilitas pasar keuangan domestik," ujar Gunawan.

IHSG pada penutupan perdagangan tercatat menguat 2,71 persen ke level 5.902,376. Kenaikan tersebut terjadi ketika sebagian besar bursa saham Asia justru bergerak melemah akibat sentimen global yang masih negatif.

Menurut Gunawan, pasar saham Indonesia saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor domestik dibandingkan perkembangan eksternal. Bahkan, pelaku pasar cenderung mengabaikan data Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) yang turun menjadi 120 pada Mei 2026.

"Penurunan indeks kepercayaan konsumen sebenarnya menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih menghadapi tekanan dan aktivitas belanja belum sepenuhnya pulih. Namun sentimen positif dari kebijakan moneter dan pasar modal lebih dominan memengaruhi pergerakan IHSG saat ini," katanya.

Di pasar valuta asing, rupiah juga mencatatkan penguatan dan ditutup pada level Rp17.950 per dolar Amerika Serikat. Selain didukung kebijakan Bank Indonesia, penguatan rupiah turut terbantu oleh melemahnya indeks dolar AS (USD Index) yang bergerak di bawah level 100.

"Tekanan terhadap dolar AS memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat. Meski demikian, indeks dolar masih cukup solid di kisaran 99,9 sehingga ruang penguatan rupiah tetap perlu dicermati," jelas Gunawan.

Sementara itu, harga emas dunia masih mengalami tekanan dan diperdagangkan di kisaran 4.178 dolar AS per ons troy. Dalam 24 jam terakhir, harga emas terkoreksi cukup tajam dari posisi sebelumnya yang berada di sekitar 4.350 dolar AS per ons troy.

Gunawan menilai pelemahan harga emas terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran, yang memperlihatkan bahwa upaya perdamaian di kawasan Timur Tengah masih jauh dari harapan.

"Pasar melihat konflik ini berpotensi berlangsung lebih panjang. Namun di sisi lain, kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi global dan potensi pengetatan kebijakan moneter membuat harga emas kesulitan untuk kembali menguat," ujarnya.

Saat ini harga emas berada di kisaran Rp2,41 juta per gram. Menurut Gunawan, prospek pemulihan harga emas dalam jangka pendek mulai memudar karena investor masih dibayangi risiko geopolitik yang memburuk serta ancaman inflasi global yang tinggi.

"Emas sebenarnya masih berfungsi sebagai aset lindung nilai. Namun untuk saat ini pasar lebih fokus pada potensi kenaikan suku bunga dan arah kebijakan bank sentral dunia, sehingga ruang penguatan emas menjadi lebih terbatas," pungkasnya. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement