IHSG dan Rupiah Melemah di Awal Pekan, Tekanan SBN Bayangi Pergerakan Mata Uang


MEDAN (Waspada.id): Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak melemah pada awal perdagangan pekan ini, Senin (2/11/2026).
Kondisi tersebut terjadi di tengah penguatan aktivitas manufaktur Indonesia yang tercermin dari kenaikan Purchasing Managers' Index (PMI) S&P Global Manufacturing ke level 54 pada Oktober 2026, dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 52,4.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, menilai respons negatif pasar keuangan domestik terhadap penguatan data manufaktur tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih dibayangi sejumlah risiko eksternal maupun tekanan di pasar keuangan dalam negeri.
Menurutnya, rilis data inflasi Indonesia diperkirakan tidak akan memberikan pengaruh besar terhadap pergerakan sektor keuangan. Sebab, terdapat sejumlah sentimen positif yang sebenarnya berpotensi menjadi penopang pasar.
"Salah satunya adalah pelemahan imbal hasil atau yield US Treasury setelah rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat yang menggembirakan. Selain itu, indeks dolar AS atau USD Index juga relatif tidak mengalami perubahan signifikan dan masih bergerak di kisaran 101," ujarnya.
Namun, berbagai sentimen positif tersebut belum cukup kuat untuk mengangkat kinerja pasar saham domestik.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia masih berada pada level tinggi. Minyak jenis Brent ditransaksikan di kisaran US$111,6 per barel. Kondisi ini turut menjadi perhatian pasar di tengah tekanan yang masih membayangi pergerakan IHSG.
Gunawan memperkirakan IHSG masih berpeluang menguji level psikologis 5.000 pada perdagangan pekan ini. Level tersebut menjadi salah satu area penting yang akan dicermati pelaku pasar.
Sementara itu, tekanan terhadap rupiah juga masih berlanjut. Mata uang Garuda ditransaksikan melemah ke level Rp18.140 per dolar AS.
Menurut Gunawan, salah satu faktor yang membayangi pergerakan rupiah adalah tekanan jual pada Surat Berharga Negara (SBN). Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena kenaikan imbal hasil SBN berpotensi semakin menekan nilai tukar rupiah.
Terlebih, yield SBN tenor 10 tahun sebelumnya sempat menyentuh level 7,7 persen. Jika imbal hasil obligasi pemerintah kembali meningkat, tekanan terhadap rupiah berpeluang semakin besar.
Di pasar komoditas, harga emas dunia juga mengalami pelemahan dan ditransaksikan di kisaran US$3.871 per ons troy.
Gunawan menilai tekanan inflasi serta arah kebijakan moneter sejumlah bank sentral dunia menjadi faktor yang perlu dicermati oleh investor emas. Pasalnya, peluang penerapan kebijakan moneter yang lebih ketat ke depan dapat menjadi sentimen negatif bagi pergerakan harga logam mulia tersebut.
Dengan demikian, pergerakan IHSG, rupiah, dan emas pada pekan ini masih akan dipengaruhi oleh perkembangan sentimen global, arah imbal hasil obligasi, serta ekspektasi kebijakan moneter bank sentral dunia. (id09)
Berita Terkait











































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda