IHSG Dan Rupiah Melemah Usai Perry Warjiyo Mundur Dari BIIHSG Dan Rupiah Melemah Usai Perry Warjiyo Mundur Dari BI

MEDAN (Waspada.id): Pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjadi perhatian pelaku pasar pada awal pekan. Di tengah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan turunnya harga minyak dunia, pasar keuangan domestik justru bergerak negatif dengan pelemahan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, pengunduran diri Gubernur BI menjadi sentimen baru yang memengaruhi psikologi pasar. Investor kini menunggu kepastian arah kebijakan moneter Bank Indonesia di bawah kepemimpinan yang baru.
"Pasar kembali dikejutkan dengan pengunduran diri Gubernur BI pada perdagangan awal pekan ini. Pelaku pasar kini mencermati bagaimana transisi kepemimpinan tersebut akan memengaruhi kebijakan suku bunga acuan, stabilisasi nilai tukar, hingga pengendalian likuiditas ke depan," ujar Gunawan, Senin (27/7/2026).
Pada perdagangan pagi, rupiah tercatat melemah ke level Rp17.915 per dolar Amerika Serikat (AS). Sementara itu, IHSG sempat turun ke level 6.185, berbanding terbalik dengan mayoritas bursa saham Asia yang justru bergerak menguat.
Menurut Gunawan, pelemahan pasar domestik terjadi meskipun sentimen eksternal sebenarnya cenderung positif. Harga minyak mentah Brent turun signifikan dari kisaran US$100,81 per barel menjadi sekitar US$92,7 per barel setelah Amerika Serikat menunda rencana serangan lanjutan terhadap Iran.
"Penurunan harga minyak biasanya menjadi kabar baik bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia karena dapat mengurangi tekanan inflasi. Namun kali ini sentimen domestik terkait pengunduran diri Gubernur BI lebih dominan sehingga rupiah dan IHSG belum mampu memanfaatkan sentimen positif tersebut," jelasnya.
Ia menilai fokus pasar kini tertuju pada arah kebijakan Bank Indonesia setelah pergantian kepemimpinan. Pasalnya, BI selama ini dinilai berperan penting dalam menjaga stabilitas rupiah melalui kebijakan suku bunga, operasi moneter, serta intervensi di pasar obligasi.
"Peralihan kepemimpinan berpotensi memunculkan ekspektasi baru terhadap arah kebijakan moneter. Walaupun fundamental ekonomi belum berubah, pasar membutuhkan kepastian agar volatilitas tidak berkepanjangan," katanya.
Di sisi lain, harga emas dunia justru menguat ke level sekitar US$4.104 per troy ons atau setara sekitar Rp2,37 juta per gram. Kenaikan emas menunjukkan investor masih mempertahankan minat terhadap aset lindung nilai meskipun tensi geopolitik di Timur Tengah mulai mereda.
Gunawan memperkirakan volatilitas pasar keuangan domestik masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan hingga ada kepastian mengenai pengganti Gubernur BI dan arah kebijakan bank sentral ke depan. Meski demikian, ia menilai IHSG masih berpeluang berbalik menguat apabila sentimen domestik mulai mereda dan investor kembali fokus pada fundamental ekonomi Indonesia. (id09)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda