IHSG dan Rupiah Tertekan, Investor Pilih Wait and SeeIHSG dan Rupiah Tertekan, Investor Pilih Wait and See

MEDAN (Waspada.id): Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah bergerak terbatas pada awal perdagangan pekan ini. Pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see sambil mencermati rencana Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran.
Menteri Keuangan AS sebelumnya menyatakan akan mengumumkan sanksi baru terhadap Iran yang diklaim sebagai salah satu sanksi paling keras dalam sejarah. Namun, Iran telah menepis rencana sanksi tersebut.
Ketidakpastian tersebut turut memengaruhi pergerakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent turun ke sekitar US$92,6 per barel setelah sebelumnya hampir menyentuh US$95 per barel.
Pengamat Ekonomi dan Pasar Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, menilai pelaku pasar saat ini masih menunggu kejelasan mengenai bentuk dan dampak sanksi AS terhadap Iran.
Menurutnya, pasar cenderung menahan diri untuk mengambil posisi besar hingga kebijakan tersebut benar-benar diumumkan. Setelah itu, investor akan menghitung kembali potensi dampaknya terhadap pasar keuangan global maupun domestik.
“Pasar akan melakukan analisa mendalam serta memperhitungkan kemungkinan dampaknya ke pasar keuangan,” ujar Gunawan, Senin (24/8).
Di pasar valuta asing, Rupiah relatif stabil meski masih berada dalam tekanan. Rupiah bergerak di kisaran Rp17.695 per dolar AS, sementara indeks dolar AS dan imbal hasil US Treasury 10 tahun terpantau bergerak sideways.
Sementara itu, IHSG sempat dibuka menguat ke level 6.544. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama karena indeks kembali bergerak melemah tipis.
Gunawan memperkirakan IHSG masih akan bergerak dalam rentang 6.500–6.580 pada perdagangan awal pekan. Sementara Rupiah berpeluang bergerak di kisaran Rp17.670–Rp17.750 per dolar AS.
Menurut dia, ruang pergerakan pasar relatif terbatas karena minimnya katalis penggerak. Sikap wait and see juga semakin kuat karena pasar keuangan akan memasuki hari libur pada perdagangan berikutnya.
Dengan kondisi tersebut, dampak keputusan AS terkait Iran diperkirakan baru akan tercermin lebih jelas pada perdagangan setelah libur.
Emas Kembali Menguat
Di tengah pergerakan IHSG dan Rupiah yang cenderung terbatas, harga emas dunia justru mencatat penguatan.
Harga emas naik ke level US$4.563 per ons troy. Jika dikonversikan, harga tersebut setara sekitar Rp2,6 juta per gram, tergantung nilai tukar dan faktor harga emas domestik.
Penguatan emas terjadi ketika harga minyak mentah mengalami penurunan. Pergerakan tersebut menunjukkan investor masih mencermati perkembangan geopolitik dan potensi perubahan arah pasar global.
Kondisi ini membuat emas tetap menjadi salah satu aset yang menarik untuk diperhatikan di tengah ketidakpastian pasar, sementara investor di pasar saham dan valuta asing cenderung menunggu perkembangan terbaru terkait kebijakan AS terhadap Iran. (id09)


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda