Breaking News
Memuat breaking news...

IHSG Makin Melemah Bikin Khawatir Investor

Redaksi
Redaksi
Jumat, 16 Oktober 2026 - 4.01 PM WIB
IHSG Makin Melemah Bikin Khawatir Investor
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berisiko melanjutkan pelemahan di tengah tekanan jual dan bikin meningkatnya kekhawatiran investor.

Kondisi tersebut menyusul ungkapan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk mengubah klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Level 5.700 menjadi area yang perlu dicermati, sedangkan level 5.500 berpotensi menjadi skenario koreksi lanjutan apabila tekanan jual semakin besar.

Sejumlah pengamat pasar modal menilai, tekanan terhadap IHSG tidak lagi sekadar berkaitan dengan faktor teknikal, tetapi juga menyangkut kepercayaan investor terhadap tata kelola pasar modal Indonesia.

MSCI menyoroti transparansi kepemilikan saham, dimana dugaan praktik perdagangan terkoordinasi atau coordinated trading, serta belum meyakinkannya bukti penegakan aturan.

Para pengamat mengingatkan, meskipun perubahan klasifikasi tersebut masih berupa usulan, namun arah kebijakan MSCI perlu diwaspadai karena proses reklasifikasi akan berlanjut kecuali terdapat bukti perbaikan yang material.

Risiko utama dari usulan tersebut adalah potensi arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia. Apabila Indonesia dikeluarkan dari kelompok indeks Emerging Market maupun Frontier Market, dana pasif yang mengikuti indeks terkait perlu menyesuaikan portofolionya.

Sebagian investor aktif juga berpotensi mengurangi eksposur terhadap saham-saham Indonesia. Diprediksi estimasi potensi arus keluar dana asing sebelumnya berkisar 2,2 miliar dolar AS hingga 7,8 miliar dolar AS untuk skenario tertentu.

Bahkan, terdapat estimasi hingga 13 miliar dolar AS untuk skenario penurunan ke Frontier Market. Dengan asumsi kurs Rp 17.000 hingga Rp 18.000 per dolar AS, angka tersebut setara sekitar Rp 37 triliun hingga Rp 234 triliun. Namun, angka tersebut bukan proyeksi resmi MSCI untuk skenario Standalone Market.

“Besarnya outflow aktual belum dapat dipastikan, tetapi risiko tekanan jual tambahan tetap perlu diperhitungkan, terutama setelah bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets turun dari 1,16 persen menjadi 0,43 persen,” tutur analis pasar modal.

Tekanan tersebut berpotensi berdampak besar terhadap saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan. Menurut Hendra, sektor keuangan mencakup sekitar 71,7 persen dari MSCI Indonesia Index.

Karena itu, saham PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk menjadi sejumlah saham yang perlu dicermati. Tekanan terhadap saham-saham tersebut dapat memengaruhi pergerakan IHSG secara signifikan.

OJK Beri Ruang

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan memberikan ruang kepada bank dan pemegang saham untuk memilih langkah yang sesuai dengan kondisi masing-masing bank terkait mekanisme pemenuhan ketentuan minimum saham beredar di publik atau free float sebesar 15 persen.

Fleksibilitas pilihan tersebut diberikan sepanjang mekanisme pemenuhan free float memenuhi ketentuan yang berlaku serta tidak mengganggu kesehatan dan keberlanjutan operasional bank.

“Hal ini mengingat pendekatan yang digunakan perlu memperhatikan karakteristik dan struktur kepemilikan masing-masing bank,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam jawaban tertulis di Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Dijelaskan bahwa free float dan penguatan permodalan pada prinsipnya merupakan kebutuhan yang perlu diperhatikan oleh bank. Pemenuhan ketentuan free float perlu dilakukan dengan tetap memperhatikan kondisi permodalan dan rencana pengembangan usaha masing-masing bank.

OJK memahami bahwa terdapat kondisi tertentu ketika aksi korporasi untuk memenuhi free float dapat beririsan dengan kebutuhan bank untuk memperkuat permodalan.

"Karena itu, bank perlu menyusun strategi yang memperhatikan kedua aspek tersebut secara menyeluruh dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku," imbuh Dian.

Penerbitan saham baru dapat menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan bank sepanjang memenuhi ketentuan yang berlaku. Dalam hal penerbitan saham baru dapat sekaligus meningkatkan permodalan dan memperluas kepemilikan saham publik, skema tersebut secara prinsip dapat mendukung kedua kebutuhan tersebut.

Adapun opsi lain yang juga bisa dilakukan oleh bank adalah melalui penggabungan atau merger dua atau lebih bank. Melalui langkah tersebut, penyesuaian struktur kepemilikan saham dapat dilakukan sampai dengan jumlah free float saham terpenuhi.

Apabila terdapat kondisi di mana pemenuhan free float dan penguatan permodalan menghadapi tantangan untuk dilakukan secara bersamaan, maka kecukupan permodalan dan kesehatan bank tetap menjadi aspek yang sangat fundamental.

"OJK akan mempertimbangkan kondisi masing-masing bank secara menyeluruh, termasuk kebutuhan permodalan, profil risiko, rencana bisnis, serta pemenuhan ketentuan yang berlaku," tandas Dian.

Pada prinsipnya, sambungnya, OJK terus mendorong bank untuk melakukan perencanaan aksi korporasi secara terukur dan tepat waktu, sehingga pemenuhan ketentuan free float dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga dan memperkuat permodalan bank. (Id88)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement