Breaking News
Memuat breaking news...

IHSG Sempat Anjlok di Bawah 4.900, Namun Investor Melonjak Tembus 31,1 Juta

Redaksi
Redaksi
Kamis, 10 September 2026 - 6.12 PM WIB
IHSG Sempat Anjlok di Bawah 4.900, Namun Investor Melonjak Tembus 31,1 Juta
Kepala Kantor BEI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara, M. Pintor Nasution
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.id): Pasar modal Indonesia menghadapi volatilitas tinggi sepanjang 2026. Tekanan geopolitik, lonjakan harga minyak, perubahan kebijakan global hingga sentimen domestik sempat membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok di bawah level 4.900.

Namun, di tengah gejolak tersebut, minat masyarakat terhadap pasar modal justru terus meningkat. Jumlah investor secara nasional melonjak hingga 31,1 juta. Sedangkan di Sumatera Utara telah menembus lebih dari 1,49 juta investor.

IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat menguat 4,64 persen dan ditutup pada level 6.525,48 hingga akhir Agustus 2026, setelah sebelumnya mengalami fluktuasi tajam sejak awal tahun.

Kepala Kantor BEI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara, M. Pintor Nasution, mengatakan dinamika pasar modal nasional maupun daerah tersebut dipengaruhi berbagai isu global dan domestik.

Hal itu disampaikannya dalam pemaparan mengenai perkembangan pasar modal di Medan, Kamis (10/9/2026).

Menurut Pintor, konflik di Timur Tengah antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat beserta sekutunya masih menjadi salah satu sentimen utama yang memengaruhi pergerakan indeks.

"Isu kedua adalah risiko inovasi. Seperti yang kita ketahui, pada tahun 2026 kepemimpinan The Fed sudah berganti. Namun, pasar melihat sepertinya tidak banyak perubahan terhadap kondisi pasar, baik secara global maupun domestik," ujar Pintor.

Selain konflik geopolitik, tingkat suku bunga dan pergerakan nilai tukar mata uang juga menjadi perhatian investor. Kondisi tersebut bahkan membuat sejumlah negara mengalami koreksi cukup dalam.

Dari sisi domestik, pasar turut dibayangi risiko fiskal, terutama berkaitan dengan keterbatasan sumber daya untuk merealisasikan berbagai agenda pemerintah.

Isu bank counterstrike dan rebalancing MSCI terkait transparansi pasar juga menjadi perhatian pelaku pasar. Begitu pula kebijakan ekspor satu pintu yang berdampak terhadap sejumlah emiten berorientasi ekspor.

IHSG Sempat Jatuh di Bawah 4.900

Pintor menjelaskan, pasar modal mengalami gejolak cukup tajam sejak Januari hingga 31 Agustus 2026. Sejumlah sentimen negatif, mulai dari downgrade prospek surat utang, penurunan peringkat hingga eskalasi konflik Timur Tengah, menekan pasar saham.

Penutupan Selat Hormuz, lonjakan harga minyak mentah dunia serta aksi saling serang di kawasan Timur Tengah turut memperburuk sentimen investor.

IHSG yang sebelumnya sempat menyentuh level 9.000 kemudian anjlok hingga berada di bawah 4.900.

Perubahan kepemimpinan di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta pengunduran diri Direktur Bursa Efek Indonesia juga dilakukan di tengah upaya merespons berbagai dinamika pasar tersebut.

"Investor yang melakukan aksi jual karena panik (panic selling) pada masa tersebut dinilai mengalami kerugian," kata Pintor.

Meski demikian, ia menegaskan kondisi fundamental perusahaan tercatat masih relatif baik. Menurutnya, pelemahan IHSG lebih banyak dipicu sentimen eksternal dibandingkan memburuknya fundamental emiten.

Transaksi dan Investor Justru Melonjak

Di tengah volatilitas pasar, aktivitas perdagangan di BEI justru menunjukkan pertumbuhan.

Hingga 31 Agustus 2026, nilai transaksi perdagangan meningkat 20,1 persen. Frekuensi transaksi juga tumbuh 39,6 persen, disertai kenaikan volume saham yang diperdagangkan.

Pertumbuhan lebih besar terlihat dari jumlah investor. Secara nasional, jumlah investor meningkat dari sekitar 20 juta pada 2025 menjadi 31.137.000 investor hingga Agustus 2026.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 31,14 persen hanya dalam satu tahun.

Jika dibandingkan dengan kondisi 2012, perkembangan pasar modal Indonesia jauh lebih signifikan. Saat itu jumlah investor nasional baru sekitar 400 ribu orang, sedangkan kini telah menembus 31 juta investor.

Tren serupa terjadi di Sumatera Utara. Jumlah investor di Sumut yang pada 2012 hanya sekitar 15 ribu orang kini telah melampaui 1 juta investor.

"Pada tahun 2012, jumlah investor di Sumatera Utara baru mencapai 15 ribu yang tersebar di 33 kabupaten/kota. Bahkan dulu di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) hanya ada satu investor. Saat ini, alhamdulillah, jumlah investor di Sumatera Utara telah melebihi 1 juta," jelas Pintor.

Emiten Sumut Bertambah, Aturan Makin Ketat

Pertumbuhan pasar modal Sumut juga terlihat dari jumlah perusahaan tercatat. Jumlah emiten asal Sumatera Utara meningkat dari hanya tiga perusahaan menjadi 12 emiten.

Namun, peluang bagi perusahaan baru untuk melantai di bursa kini harus melewati proses seleksi yang lebih ketat.

BEI dan OJK memperketat sejumlah persyaratan pencatatan, termasuk kewajiban direktur keuangan memiliki latar belakang pendidikan keuangan serta mengikuti pelatihan go public bagi direksi dan komisaris.

Pintor mencontohkan terdapat calon emiten di Medan yang direktur keuangannya baru lulus sarjana non-keuangan dan masih berusia 24 tahun.

"Di Medan terdapat contoh calon emiten yang direktur keuangannya baru lulus sarjana non-keuangan dan berusia 24 tahun. Pemilik perusahaan memasukkannya karena merasa itu perusahaannya sendiri. Akibatnya, saham perusahaan tersebut saat ini dikenakan sanksi penghentian sementara perdagangan," terangnya.

Di kawasan luar Pulau Jawa, Sumatera Utara kini menjadi daerah dengan posisi tertinggi dalam nilai transaksi, jumlah emiten maupun jumlah investor.

Meski demikian, kepemilikan aset investor masih sangat terkonsentrasi di Pulau Jawa. Per Juni 2026, investor di Jawa menguasai sekitar 94 persen aset nasional atau Rp4.579 triliun. Sementara itu, Sumatera berkontribusi sekitar Rp110 triliun atau 2,28 persen.

Hingga akhir Juli 2026, Sumatera Utara menyumbang 1.493.064 Single Investor Identification (SID) dari sekitar 30 juta SID secara nasional.

Investor Muda Mendominasi

Dari sisi demografi, investor pasar modal di Sumatera Utara didominasi laki-laki sebesar 63,84 persen, sedangkan perempuan mencapai 35,38 persen.

Kelompok usia 18-25 tahun menjadi kelompok investor terbesar dengan porsi 33,68 persen. Berikutnya kelompok usia 26-30 tahun sebesar 24,38 persen dan usia 31 tahun ke atas sebesar 24,40 persen.

"Meskipun secara jumlah investor didominasi oleh kelompok usia muda (young in numbers), dari segi nilai kepemilikan aset masih didominasi oleh kelompok usia 31 atau 40 tahun ke atas (older in wealth)," tuturnya.

Sebaran investor di Sumut masih terkonsentrasi di sejumlah wilayah. Kota Medan menjadi penyumbang terbesar dengan 396.361 SID, disusul Deli Serdang, Langkat dengan 79.797 SID, Simalungun, dan Asahan dengan 59.252 SID.

BEI pun memasang target ambisius. Jumlah investor pasar modal nasional ditargetkan dapat mencapai 100 juta investor dalam lima tahun ke depan.

Untuk mendukung target tersebut, Sumatera Utara saat ini memiliki 22 kantor cabang perusahaan sekuritas dari sekitar 90-91 Anggota Bursa di tingkat nasional.

Tiga sekuritas dengan nilai transaksi tertinggi di Sumatera Utara ditempati Mandiri Sekuritas, Mirae Asset Sekuritas, dan Panin Sekuritas.

"Mirae Asset Sekuritas merupakan pelopor online trading di Indonesia dan memegang porsi nasabah ritel terbesar nasional meskipun baru beroperasi sekitar 7 tahun," ungkap Pintor.

Selain memperluas jaringan sekuritas, BEI juga terus mendorong edukasi dan inklusi pasar modal melalui Galeri Investasi.

Saat ini terdapat 28 Galeri Investasi di Sumatera Utara. Sebanyak delapan lokasi baru sedang memproses izin legalitas sehingga jumlahnya ditargetkan mencapai 36 lokasi. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement