IHSG Terpuruk 3,46 Persen, Rupiah Masih Bertahan Di Zona MerahIHSG Terpuruk 3,46 Persen, Rupiah Masih Bertahan Di Zona Merah

JAKARTA (Waspada.id): Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan cukup dalam pada penutupan perdagangan hari ini. Setelah sempat bergerak di zona hijau pada sesi pagi, IHSG berbalik arah dan ditutup melemah 3,46 persen ke level 6.370,679.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, mengatakan pelemahan IHSG menunjukkan tingginya tekanan pasar di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global dan domestik.
“Pada sesi pagi IHSG sebenarnya sempat menguat dan menyentuh level tertinggi di 6.635. Namun tekanan jual meningkat tajam hingga indeks sempat menyentuh level terendah 6.323 sebelum akhirnya ditutup melemah cukup dalam,” ujar Gunawan, Selasa (19/5/2026).
Berdasarkan data perdagangan, sebanyak 612 saham ditutup melemah, 112 saham menguat dan 94 saham bergerak stagnan. Sejumlah saham berkapitalisasi besar yang mengalami tekanan di antaranya PT Bumi Resources Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, PT Barito Pacific Tbk, PT Dewa United Energi, PT Amman Mineral Internasional Tbk, hingga PT Adaro Energy Indonesia Tbk.
Menurut Gunawan, keterpurukan IHSG tidak sepenuhnya sejalan dengan kondisi bursa saham Asia yang mayoritas ditutup mixed atau bergerak beragam.
“Tekanan domestik terlihat masih sangat dominan, terutama dipicu pelemahan rupiah dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah inflasi serta kebijakan suku bunga global,” katanya.
Selain IHSG, nilai tukar rupiah juga masih bertahan di zona merah. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat menyentuh level Rp17.730 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup melemah di kisaran Rp17.695 per dolar AS.
Gunawan menjelaskan, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury tenor 10 tahun yang bertahan di level 4,5 persen.
“Pelaku pasar melihat ancaman inflasi global masih cukup besar. Kondisi ini memunculkan spekulasi bahwa suku bunga acuan berpeluang kembali naik sehingga mendorong kenaikan yield obligasi,” jelasnya.
Sementara itu, harga emas dunia pada perdagangan Asia terpantau relatif stabil di kisaran USD4.553 per ons troy atau sekitar Rp2,6 juta per gram.
Menurut Gunawan, pasar masih mengkhawatirkan potensi kenaikan harga minyak mentah dunia di tengah munculnya ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Iran.
“Pasar sejauh ini masih relatif tenang karena AS menunda serangan terhadap Iran. Namun pelaku pasar tetap melihat adanya peluang eskalasi konflik kembali terjadi dalam waktu dekat,” pungkasnya. (id09)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda