IHSG Terpuruk Hampir 30 Persen Sepanjang 2026, Asing Catat Net Sell Rp53,9 TIHSG Terpuruk Hampir 30 Persen Sepanjang 2026, Asing Catat Net Sell Rp53,9 T

JAKARTA (Waspada.id): Pasar modal Indonesia masih berada dalam tekanan berat sepanjang 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok hampir 30 persen secara year to date (ytd), mencerminkan tingginya tekanan yang masih membayangi sentimen investor di tengah berbagai tantangan domestik maupun global.
Data perdagangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG ditutup di level 6.127,381 pada akhir pekan perdagangan 25–29 Mei 2026. Posisi tersebut turun 0,56 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di level 6.162,045.
"Perubahan (penurunan) terjadi pada pergerakan IHSG selama sepekan sebesar 0,56 persen sehingga ditutup pada level 6.127,381 dari posisi 6.162,045 pada pekan lalu," tulis BEI dalam keterangannya, dikutip dari Republika, Senin (1/6/2026).
Meski indeks melemah, kapitalisasi pasar justru mengalami peningkatan. Nilai kapitalisasi pasar BEI naik 0,88 persen menjadi Rp10.729 triliun dari Rp10.635 triliun pada pekan sebelumnya.
Aktivitas perdagangan saham juga menunjukkan tren yang beragam. Rata-rata frekuensi transaksi harian turun 10,87 persen menjadi 2,11 juta kali transaksi dari sebelumnya 2,37 juta kali transaksi. Sementara rata-rata volume transaksi harian merosot 15,60 persen menjadi 30,95 miliar lembar saham dibandingkan pekan lalu yang mencapai 36,67 miliar lembar saham.
Di sisi lain, rata-rata nilai transaksi harian justru melonjak 30,37 persen menjadi Rp28,38 triliun dari Rp21,77 triliun pada pekan sebelumnya.
"Kenaikan juga dialami oleh kapitalisasi pasar BEI, yaitu sebesar 0,88 persen menjadi Rp 10.729 triliun dari Rp 10.635 triliun pada pekan sebelumnya," terangnya.
Tekanan di pasar saham juga terlihat dari aksi jual investor asing yang masih berlanjut. Sepanjang pekan terakhir Mei, investor asing membukukan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp8,519 triliun. Secara akumulatif sejak awal tahun, nilai jual bersih asing telah mencapai Rp53,971 triliun.
Kondisi tersebut memperpanjang tren pelemahan IHSG yang sejak awal tahun telah kehilangan hampir 30 persen nilainya. Dari posisi awal tahun di level 8.748, indeks kini berada di kisaran 6.100-an.
Sejumlah faktor menjadi pemicu tekanan di pasar modal domestik. Salah satunya adalah keputusan MSCI yang membekukan proses rebalancing sekuritas Indonesia sejak akhir Januari 2026. Kebijakan tersebut memicu volatilitas tinggi dan mengguncang kepercayaan pelaku pasar.
Dampaknya tidak hanya dirasakan di lantai bursa. Gejolak tersebut juga memicu perubahan besar di sektor regulator dan industri pasar modal, termasuk pengunduran diri Iman Rachman dari jabatannya sebagai Direktur Utama BEI. Sejumlah pejabat penting di Otoritas Jasa Keuangan, termasuk Mahendra Siregar dan Inarno Djajadi, juga turut mengundurkan diri.
Tekanan kembali bertambah setelah MSCI mengeluarkan belasan saham Indonesia dari konstituen indeksnya pada Mei 2026. Langkah tersebut disebut sebagai konsekuensi dari reformasi integritas pasar modal yang tengah dijalankan regulator bersama organisasi pengatur mandiri pasar modal.
Tak hanya MSCI, lembaga penyedia indeks global FTSE Russell juga menghapus empat saham Indonesia dari indeks FTSE Global Equity Index Series (GEIS), yang efektif berlaku mulai 22 Juni 2026.
Di tengah situasi tersebut, sejumlah lembaga pemeringkat internasional turut memberikan perhatian terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai berpotensi memengaruhi iklim investasi. Kebijakan ekspor satu pintu menjadi salah satu sorotan karena dianggap dapat menimbulkan risiko terhadap pendapatan negara, neraca pembayaran, dan profil kredit perusahaan di sektor terkait.
Meski demikian, OJK tetap optimistis reformasi yang sedang dijalankan akan memperkuat fondasi pasar modal Indonesia dalam jangka panjang. Sejumlah langkah strategis yang tengah dilakukan meliputi peningkatan ketentuan free float menjadi minimal 15 persen, demutualisasi BEI, peningkatan transparansi ultimate beneficial owner (UBO), serta penguatan peran investor institusi domestik dan perluasan basis investor.
Selain fokus pada reformasi, BEI juga terus mendorong penguatan aspek keberlanjutan di pasar modal. Pada 26 Mei 2026, BEI bersama OJK dan Ikatan Akuntan Indonesia menggelar Strategic Leadership Dialogue yang membahas implementasi Standar Pengungkapan Keberlanjutan (SPK) yang selaras dengan standar global IFRS S1 dan S2.
Melalui berbagai langkah reformasi dan penguatan tata kelola tersebut, regulator berharap kepercayaan investor dapat kembali pulih dan pasar modal Indonesia mampu keluar dari tekanan yang membayangi sepanjang tahun ini. (Rep)































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda