Breaking News
Memuat breaking news...

IHSG Terpuruk, Rupiah Terancam Melemah Lebih Dalam

Redaksi
Redaksi
Jumat, 16 Oktober 2026 - 3.51 PM WIB
IHSG Terpuruk, Rupiah Terancam Melemah Lebih Dalam
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.id): Keterpurukan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada Jumat (16/10/2026) menambah tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia. Kondisi ini berpotensi merembet ke pasar valuta asing dan obligasi, sehingga meningkatkan risiko pelemahan rupiah serta mengganggu stabilitas ekonomi nasional.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, menilai rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk mengkaji perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market menjadi salah satu sumber kekhawatiran pelaku pasar.

Perubahan klasifikasi tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor global terhadap pasar modal Indonesia. Jika minat investasi asing menurun, tekanan terhadap IHSG berisiko berlanjut dan memicu keluarnya aliran modal dari pasar keuangan domestik.

Tekanan itu terlihat pada perdagangan Jumat pagi, ketika IHSG dibuka anjlok hingga 8 persen dan mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan trading halt. Di pasar valuta asing, rupiah juga tertekan hingga menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), bahkan sempat bergerak di kisaran Rp18.060 per dolar AS.

Menurut Gunawan, persoalan yang perlu diwaspadai bukan hanya penurunan IHSG, melainkan kemungkinan meluasnya tekanan ke berbagai instrumen keuangan lainnya, terutama nilai tukar rupiah dan pasar obligasi.

Arus Modal Asing Berpotensi Keluar

Gunawan menjelaskan, perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dapat memengaruhi keputusan investasi sejumlah investor global. Apabila investor asing mengurangi eksposur terhadap aset domestik, risiko arus modal keluar atau capital outflow akan meningkat.

Kondisi tersebut dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah, terutama ketika permintaan dolar AS meningkat di tengah ketidakpastian pasar.

Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan terus mencermati pergerakan rupiah dan melakukan langkah stabilisasi sesuai kebutuhan. Namun, tekanan yang berasal dari berbagai instrumen keuangan sekaligus dapat membuat upaya menjaga stabilitas nilai tukar menjadi lebih menantang.

“Yang perlu diwaspadai adalah potensi tekanan lanjutan terhadap rupiah apabila perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia benar-benar memengaruhi keputusan investor asing. Keluarnya dana asing dari pasar modal bisa menambah tekanan terhadap nilai tukar,” ujar Gunawan.

Pasar Obligasi Ikut Dibayangi Risiko

Selain pasar saham dan valuta asing, pasar surat utang juga perlu mendapat perhatian. Tekanan jual pada obligasi pemerintah AS dan meningkatnya ketidakpastian pasar global berpotensi memengaruhi permintaan terhadap surat utang di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dalam kondisi ketika investor global cenderung mengurangi risiko, pemerintah berpotensi menghadapi tuntutan imbal hasil yang lebih tinggi untuk menarik pembelian surat utang. Jika terjadi, kenaikan imbal hasil obligasi dapat meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah dan menambah tekanan di pasar keuangan.

Risiko tersebut semakin perlu dicermati di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia dan ketidakpastian geopolitik yang berpotensi memperbesar tekanan inflasi serta memperkuat permintaan terhadap dolar AS.

Gunawan menilai, kombinasi berbagai faktor tersebut dapat mempersempit ruang stabilisasi pasar apabila tekanan terhadap IHSG, rupiah, dan obligasi berlangsung secara bersamaan.

Pemerintah Perlu Mewaspadai Efek Berantai

Menurut Gunawan, pasar saham dan pasar surat utang memiliki peran penting dalam menopang pembiayaan serta likuiditas perekonomian. Ketika salah satu instrumen mengalami tekanan besar, kemampuan pasar keuangan menyerap guncangan dapat ikut terpengaruh.

Jika investor asing mengurangi kepemilikan saham dan obligasi Indonesia secara bersamaan, tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin besar. Dalam situasi tersebut, kebutuhan menjaga daya tarik aset domestik juga dapat menghadirkan tantangan bagi kebijakan ekonomi dan moneter.

“Pemerintah perlu mewaspadai potensi pelemahan rupiah yang berlanjut. Jika pasar surat utang harus menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi untuk menarik likuiditas, sementara pasar saham juga mengalami tekanan jual, maka ruang penyangga di pasar keuangan bisa semakin terbatas,” ungkapnya.

Ia menambahkan, stabilitas pasar keuangan perlu dijaga melalui koordinasi kebijakan yang tepat, komunikasi yang transparan kepada investor, serta pemantauan terhadap perkembangan arus modal dan likuiditas.

Dengan demikian, perkembangan terkait MSCI tidak hanya menjadi persoalan bagi investor saham, tetapi juga perlu dicermati dari sisi stabilitas rupiah, pasar obligasi, dan perekonomian nasional secara keseluruhan.

Meski demikian, dampak terhadap pasar keuangan akan sangat bergantung pada keputusan akhir MSCI, respons investor global, serta kemampuan otoritas menjaga kepercayaan terhadap aset Indonesia. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement