Breaking News
Memuat breaking news...

IMF: Investasi AI Topang Pertumbuhan Ekonomi Global 3%, tapi Ancam 40% Pekerjaan

Redaksi
Redaksi
Selasa, 13 Oktober 2026 - 7.34 AM WIB
IMF: Investasi AI Topang Pertumbuhan Ekonomi Global 3%, tapi Ancam 40% Pekerjaan
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi global di tengah tekanan akibat gangguan pasokan energi. Namun, di balik kontribusinya terhadap perekonomian dunia, teknologi ini juga berpotensi mengubah lanskap ketenagakerjaan dan memengaruhi sekitar 40% pekerjaan secara global.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva mengatakan, lonjakan investasi pada infrastruktur AI telah menciptakan dorongan baru bagi permintaan dan investasi, terutama di kawasan Asia.

Mengutip Bangkok Post, Senin (12/10/2026), investasi tersebut turut mendukung stabilitas pertumbuhan ekonomi dunia yang berada di kisaran 3%, meskipun perekonomian global menghadapi tekanan dari sisi pasokan energi.

"Lonjakan investasi AI telah menciptakan kejutan permintaan dan investasi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia maju sebesar 0,5 hingga 1 persentase poin, serta ekonomi Asia berkembang sebesar 0,2 hingga 0,8 persentase poin," ujar Georgieva dalam IMF-World Bank Annual Meetings di Bangkok, Senin (12/10/2026).

"Percepatan laju inilah yang menjaga ekonomi dunia tetap tumbuh di kisaran 3 persen, meskipun kita sedang terbebani oleh dampak kejutan pasokan energi," lanjutnya.

Dampak positif investasi AI juga membuka peluang bagi sejumlah negara Asia, termasuk Thailand, yang berperan sebagai pemasok perangkat keras untuk mendukung pengembangan teknologi tersebut.

Meski demikian, IMF mengingatkan bahwa manfaat ekonomi dari AI perlu diimbangi dengan kesiapan tenaga kerja menghadapi perubahan kebutuhan industri.

40% Pekerjaan Dunia Terdampak AI

Georgieva mengibaratkan perkembangan AI sebagai 'tsunami yang bergerak perlahan' karena pengaruhnya terhadap dunia kerja berlangsung bertahap, tetapi berpotensi mengubah berbagai sektor industri secara mendasar.

Menurut kalkulasi IMF, sekitar 40% pekerjaan di seluruh dunia akan terdampak AI. Dampaknya dapat berbeda-beda, mulai dari peningkatan produktivitas dan kebutuhan keterampilan baru, perubahan kualitas pekerjaan, hingga hilangnya sejumlah jenis pekerjaan akibat otomatisasi.

Studi awal IMF juga menunjukkan bahwa 10% lowongan kerja di Amerika Serikat kini telah mensyaratkan kemampuan menggunakan AI bagi para pelamar.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa penguasaan teknologi semakin menjadi pertimbangan dalam proses perekrutan tenaga kerja. Pekerja yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi berpeluang meningkatkan produktivitas, sementara mereka yang keterampilannya tidak lagi sesuai dengan kebutuhan industri menghadapi risiko tersisih.

Di sisi lain, ekspansi investasi perusahaan teknologi untuk membangun infrastruktur AI turut menciptakan peluang kerja baru. Pembangunan pusat data (data center) dan berbagai fasilitas pendukungnya, misalnya, meningkatkan kebutuhan tenaga kerja di sektor konstruksi dan infrastruktur teknologi.

"Ini adalah teknologi yang membawa perubahan besar. Teknologi ini mengubah cara kita bekerja dan menjalani hidup secara menyeluruh," tegas Georgieva.

Bank Dunia Dorong Pemanfaatan Small AI

Sementara itu, Presiden Bank Dunia Ajay Banga menyampaikan bahwa lembaganya berfokus mendorong pemanfaatan AI berskala kecil atau small AI untuk membantu masyarakat di negara berkembang.

Pendekatan ini berbeda dari pengembangan AI kompleks yang membutuhkan biaya besar dan konsumsi energi tinggi. Small AI dirancang lebih sederhana dan hemat biaya sehingga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas di berbagai sektor, termasuk pertanian, kesehatan, dan pendidikan.

Teknologi tersebut diharapkan membantu petani meningkatkan efisiensi usaha, mendukung tenaga medis dalam menjalankan pekerjaan, serta memperluas kemampuan pendidik dalam memberikan layanan pembelajaran.

Pemanfaatan AI dengan biaya yang lebih terjangkau juga menjadi salah satu pendekatan untuk memperluas akses teknologi di negara berkembang, sehingga manfaat digitalisasi tidak hanya terkonsentrasi di negara dengan infrastruktur dan modal yang besar.

Fresh Graduate Terancam Kehilangan Peluang Kerja

Tantangan lain datang dari menyusutnya peluang kerja bagi lulusan baru atau fresh graduate. Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam menyoroti potensi berkurangnya posisi tingkat pemula (entry-level) karena sebagian tugas yang sebelumnya dikerjakan tenaga kerja manusia mulai dapat dilakukan oleh sistem AI.

"Ada masalah khusus yang harus segera kita tangani, yaitu menurunnya permintaan tenaga kerja untuk lulusan baru," ujar Tharman.

Penyusutan peluang kerja tingkat pemula dapat menjadi tantangan bagi generasi muda yang baru memasuki pasar tenaga kerja. Padahal, posisi tersebut selama ini menjadi jalur awal bagi lulusan baru untuk mendapatkan pengalaman, mengembangkan keterampilan, dan membangun karier profesional.

Tharman juga memperingatkan bahwa perkembangan AI berpotensi memperlebar kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di negara maju maupun negara berkembang apabila tidak diantisipasi melalui kebijakan yang tepat.

Karena itu, pemerintah dan pelaku industri dinilai perlu memastikan pemanfaatan AI tidak hanya berorientasi pada peningkatan efisiensi, tetapi juga mendorong penciptaan pekerjaan berkualitas dan memperluas kesempatan kerja.

"Oleh karena itu, kita harus berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan AI guna menciptakan lapangan kerja berkualitas—pekerjaan yang memungkinkan manusia tetap berkembang meniti karier di tengah kehadiran AI," tutup Tharman.

Perkembangan AI pun menghadirkan dua tantangan sekaligus bagi perekonomian global: memanfaatkan investasi teknologi sebagai sumber pertumbuhan baru dan menyiapkan tenaga kerja agar mampu beradaptasi. Keberhasilan menghadapi perubahan tersebut akan bergantung pada peningkatan keterampilan, pemerataan akses teknologi, serta kemampuan menciptakan peluang kerja yang sejalan dengan perkembangan industri. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement