Breaking News
Memuat breaking news...

IMF Peringatkan Tsunami AI Ancam Pekerja Muda, Fresh Graduate Makin Sulit Cari Kerja

Redaksi
Redaksi
Kamis, 15 Oktober 2026 - 6.37 AM WIB
IMF Peringatkan Tsunami AI Ancam Pekerja Muda, Fresh Graduate Makin Sulit Cari Kerja
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap masa depan pasar tenaga kerja global. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan gelombang otomatisasi berpotensi mengancam kesempatan kerja, terutama bagi lulusan baru perguruan tinggi atau fresh graduate yang sedang memasuki dunia profesional.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menggambarkan dampak AI terhadap lapangan kerja sebagai tsunami yang bergerak perlahan. Perubahan tersebut dinilai perlu diantisipasi sejak dini karena dapat mengubah kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor industri.

"Orang-orang yang pertama-tama perlu dikhawatirkan adalah kaum muda yang memasuki pasar tenaga kerja," ucap Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, dikutip dari CNBC, Rabu (14/10/2026).

Menurut Georgieva, pekerja muda menghadapi risiko karena pekerjaan tingkat awal yang selama ini menjadi pintu masuk ke dunia profesional mulai berpotensi digantikan oleh teknologi otomatisasi.

Padahal, pekerjaan rutin dan berulang biasanya menjadi sarana bagi lulusan baru untuk memperoleh pengalaman, mengembangkan keterampilan, serta membangun karier sebelum menempati posisi yang lebih tinggi.

Jika kesempatan kerja awal semakin terbatas, generasi muda akan menghadapi tantangan lebih besar untuk mendapatkan pengalaman profesional yang dibutuhkan perusahaan.

IMF Ungkap 40 Persen Pekerjaan Dunia Terpapar AI

Besarnya potensi perubahan tersebut tercermin dalam perkiraan IMF yang menyebut sekitar 40% pekerjaan di seluruh dunia berpotensi mengalami perubahan, penurunan kebutuhan tenaga kerja, atau penghapusan akibat perkembangan AI.

Dampaknya diperkirakan lebih besar di negara maju, dengan tingkat paparan mencapai 60%. Sementara itu, di negara berpendapatan rendah, tingkat paparan diperkirakan sekitar 23%.

Angka tersebut menunjukkan bahwa dampak AI tidak hanya berkaitan dengan hilangnya pekerjaan, tetapi juga perubahan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam, yang turut memimpin Dewan Pekerjaan Bank Dunia, meminta pemerintah memanfaatkan pengalaman kebijakan ketenagakerjaan pada masa pandemi Covid-19 dan krisis keuangan sebagai landasan strategi jangka panjang.

Menurut dia, pemerintah perlu memperkuat kerja sama dengan sektor swasta dan memberikan insentif kepada perusahaan agar tetap membuka kesempatan bagi lulusan baru.

Langkah ini dinilai penting karena permintaan tenaga kerja untuk mengisi posisi awal setelah kelulusan semakin berkurang, sehingga akses generasi muda ke dunia kerja berisiko semakin terbatas.

Presiden Bank Dunia Ajay Banga memperkirakan sekitar 1,2 miliar anak muda akan mencapai usia 18 tahun dalam 15 tahun mendatang. Tantangannya, sektor swasta yang menyumbang sekitar 75–85% lapangan kerja di berbagai negara harus mampu menyediakan kesempatan kerja bagi sebagian besar generasi tersebut.

AI Dorong Ekonomi, tetapi Lapangan Kerja Belum Tentu Bertambah

Di tengah ancaman terhadap pekerjaan, AI juga menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi global. Investasi dan perdagangan yang berkaitan dengan teknologi ini membantu menopang aktivitas ekonomi sejumlah negara.

Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan tetap mendekati 3% tahun ini, meskipun dunia menghadapi berbagai guncangan, termasuk gangguan pasokan energi.

Georgieva memperkirakan penerapan AI berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,5–1 poin persentase di negara maju Asia dan 0,2–0,8 poin persentase di negara berkembang Asia.

Dalam skenario tertinggi, peningkatan pertumbuhan tersebut bahkan berpotensi mengimbangi dampak penuaan penduduk terhadap perekonomian.

Banga juga menilai AI memiliki peluang menciptakan pekerjaan baru sekaligus meningkatkan produktivitas, khususnya di negara berpendapatan menengah dan menengah bawah.

Namun, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tidak otomatis menjamin tersedianya lebih banyak lapangan kerja.

Shanmugaratnam menyoroti kondisi China, India, dan sejumlah negara berkembang di Asia Tenggara yang masih mencatat pertumbuhan ekonomi cukup baik, tetapi penciptaan lapangan kerjanya relatif lemah.

Menurut dia, kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja berisiko semakin melebar apabila pemerintah dan pelaku usaha tidak mengambil langkah antisipasi terhadap perkembangan AI.

Pelatihan dan Pendidikan Jadi Kunci Hadapi Ancaman AI

Meski berpotensi mengubah struktur pasar tenaga kerja, dampak AI diperkirakan berlangsung secara bertahap. Kondisi ini memberikan kesempatan bagi pekerja, perusahaan, dan institusi pendidikan untuk menyesuaikan diri.

Perusahaan didorong memperkuat pelatihan di tempat kerja agar pekerja mampu mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri yang terus berubah.

Sementara itu, universitas perlu menyesuaikan metode pembelajaran dengan memperbanyak pendidikan praktis yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.

Bagi lulusan baru, kemampuan beradaptasi, penguasaan teknologi, dan keterampilan yang tidak mudah diotomatisasi akan semakin penting dalam menghadapi persaingan kerja.

Pada saat yang sama, pemerintah perlu memastikan kebijakan ketenagakerjaan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi dan produktivitas, tetapi juga pada penciptaan kesempatan kerja yang memadai.

Peringatan IMF tersebut menegaskan bahwa tantangan utama di era AI bukan sekadar bagaimana memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, melainkan juga memastikan generasi muda tetap memiliki akses untuk memasuki dunia kerja dan membangun masa depan profesionalnya. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement