Breaking News
Memuat breaking news...

INDEF: Mau Tumbuh 8 Persen, Pemerintah Harus Outward Looking

Redaksi
Redaksi
Senin, 10 Agustus 2026 - 8.04 AM WIB
INDEF: Mau Tumbuh 8 Persen, Pemerintah Harus Outward Looking
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Pemerintah diminta mengubah orientasi kebijakan ekonomi dari inward looking menjadi outward looking jika ingin mengejar pertumbuhan ekonomi hingga 7–8 persen.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J. Rachbini menilai kebijakan ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto selama ini masih terlalu berorientasi pada sektor domestik. Kondisi tersebut dinilai membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung bertahan di kisaran 5 persen.

Menurut Didik, sektor luar negeri justru harus kembali menjadi perhatian utama, terutama melalui penguatan ekspor dan daya saing industri nasional.

“Kelemahan, kekurangan atau bahkan kesalahan kebijakan ekonomi terkait upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi utamanya hanya satu yakni mengabaikan sektor luar negeri. Seluruh upaya dan dinamika selama ini terlalu inward looking. Hanya sektor dalam negeri yang dikemas dengan berbagai kontroversi kebijakan, tetapi hasilnya tetap bertumbuh moderat sekitar 5 persen,” kata Didik dalam keterangannya dilansir dari Republika, Senin (10/8/2026).

Belanja Pemerintah Tak Bisa Jadi Andalan

Didik menilai belanja pemerintah hanya mampu menjadi penyangga agar pertumbuhan ekonomi tidak turun di bawah 5 persen. Namun, strategi tersebut dinilai tidak dapat dipertahankan dalam jangka panjang karena fiskal masih menghadapi persoalan dari sisi penerimaan maupun pengeluaran.

Selain itu, konsumsi masyarakat juga dinilai semakin sulit menjadi satu-satunya mesin pertumbuhan. Tergerusnya jumlah kelas menengah membuat kemampuan konsumsi masyarakat tidak lagi sekuat sebelumnya.

Indonesia memang memiliki pasar domestik yang besar karena ditopang jumlah penduduk yang tinggi. Namun, menurut Didik, kekuatan pasar domestik harus diikuti dengan kemampuan dunia usaha untuk naik kelas dan bersaing di pasar internasional.

“Di sinilah kebijakan outward looking menjadi penting karena bisa mendorong Indonesia eksis dalam persaingan global dengan harapan bisa memperoleh devisa yang besar,” ujarnya.

Ekspor Harus Jadi Mesin Pertumbuhan

Didik berpandangan, jika pendekatan inward looking terus dipertahankan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sulit meningkat jauh dari level saat ini.

Ia menilai ekspor belum menjadi growth engine yang cukup kuat untuk mendorong transformasi industri nasional. Padahal, bagi negara sebesar Indonesia, pasar domestik memang penting, tetapi tidak cukup untuk membangun industrialisasi yang mampu bersaing di tingkat dunia.

“Untuk menuju ke sana tidak ada jalan lain kecuali mengelola sektor luar negeri dengan kebijakan orientasi ekspor,” tegasnya.

Didik membandingkan kondisi tersebut dengan Vietnam yang mampu mencatat pertumbuhan ekonomi tahunan hingga 8,3 persen. Menurut dia, Indonesia membutuhkan perubahan strategi agar dapat mengejar capaian tersebut.

Investasi Asing dan Industri Jadi Kunci

Transformasi kebijakan dari inward looking menjadi outward looking, lanjut Didik, juga berpotensi mendorong masuknya investasi asing.

Investasi akan lebih mudah masuk jika Indonesia memiliki sistem insentif yang menarik, dukungan infrastruktur memadai serta birokrasi yang ramah dan efisien.

Pada saat yang sama, investasi domestik juga dapat tumbuh seiring masuknya investasi asing. Dengan orientasi ekspor, sektor industri nasional dinilai memiliki peluang berkembang lebih cepat dengan dukungan sumber daya nasional melalui resource based industry.

“Pemerintah mesti membahas kembali kebijakan ekonomi untuk mengatasi masalah kelemahan kebijakan selama ini. Untuk menuju pertumbuhan 7—8 persen seperti Vietnam, perubahan orientasi kebijakan ekonomi dari inward looking menjadi outward looking mutlak harus dilakukan. Jika tidak dan hanya mengandalkan sumber daya pasar dalam negeri, maka tidak harus puas dengan tingkat pertumbuhan moderat 5 persen atau bahkan di bawahnya. Tanpa perubahan kebijakan, maka janji kampanye sulit untuk bisa diwujudkan,” jelasnya.

Menurut Didik, gambaran perubahan strategi tersebut mencakup penetrasi pasar internasional, penguatan daya saing industri, orientasi ekspor, serta pemanfaatan investasi dan supply chain global.

“Hanya dengan memperhitungkan kembali sektor luar negeri dengan kebijakan yang baik, maka tingkat pertumbuhan lebih tinggi bisa diwujudkan,” tegasnya.

Indonesia Pernah Berhasil

Didik menambahkan, Indonesia sebenarnya pernah menerapkan strategi outward looking dan berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi tinggi.

Ia merujuk pada kebijakan pada era 1980-an ketika pemerintah mendorong investasi dan industri yang berorientasi ekspor.

“Pada tahun 1980-an kebijakan outward looking ini menghasilkan pertumbuhan ekonomi 7—8 persen selama dua dekade. Jadi pemerintah cukup mengulangi kebijakan yang pernah berhasil mengangkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi tiga dekade lalu. Belanja pemerintah tidak bisa diandalkan untuk pertumbuhan tinggi,” tutupnya. (Rep)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement