Breaking News
Memuat breaking news...

Independensi BI Dinilai Kunci Menjaga Kepercayaan Pasar

Redaksi
Redaksi
Minggu, 2 Agustus 2026 - 3.32 PM WIB
Independensi BI Dinilai Kunci Menjaga Kepercayaan Pasar
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Independensi Bank Indonesia dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap perekonomian nasional. Di tengah transisi kepemimpinan bank sentral, pasar disebut membutuhkan kepastian bahwa kebijakan moneter tetap dijalankan secara independen dan bebas dari intervensi.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah setelah pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar.

Menurut Gunawan, sejak pengunduran diri Perry Warjiyo, rupiah melemah dari kisaran Rp17.900 menjadi sekitar Rp18.100 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan tersebut terjadi di tengah minimnya sentimen ekonomi global yang signifikan sehingga mencerminkan meningkatnya ketidakpastian dari sisi domestik.

"Pengunduran diri Gubernur BI memperburuk sentimen pasar, terlebih ketika konflik di Timur Tengah kembali memanas. Pelaku pasar kini harus beradaptasi dengan arah kebijakan pemimpin baru yang akan menggantikan posisi tersebut," katanya.

Ia menilai rekam jejak gubernur BI yang baru memang akan menjadi perhatian investor. Namun, yang lebih penting adalah memastikan independensi Bank Indonesia sebagai otoritas moneter tetap terjaga.

Gunawan menegaskan, kepercayaan pasar akan lebih mudah dipertahankan apabila BI bebas dari tekanan politik maupun kepentingan kekuasaan dalam mengambil kebijakan moneter.

"Bank Indonesia harus independen, baik dari sisi kebijakan maupun penempatan sumber daya manusia. Independensi menjadi fondasi agar pasar tetap percaya terhadap kredibilitas kebijakan moneter," ujarnya.

Ia juga menyoroti persepsi sebagian pelaku pasar yang menilai kebijakan moneter belakangan lebih banyak mengakomodasi kebutuhan fiskal pemerintah, terutama melalui langkah menjaga likuiditas di pasar obligasi yang dinilai menopang pembiayaan pemerintah melalui transaksi surat utang di pasar primer maupun sekunder.

Menurut Gunawan, defisit anggaran bukanlah sesuatu yang selalu berdampak negatif. Namun, pemerintah tetap perlu menetapkan skala prioritas belanja yang tepat agar manfaatnya lebih besar bagi masyarakat.

"Fokus menjaga daya beli masyarakat memiliki urgensi yang lebih tinggi dibandingkan memulai proyek strategis baru yang belum tentu memberikan efek pengganda (multiplier effect) secara optimal maupun memiliki kepastian keberlanjutan," jelasnya.

Lebih lanjut, Gunawan mengatakan kebijakan moneter dan fiskal memang tidak harus selalu berjalan dalam arah yang sama. Namun, keduanya harus saling melengkapi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Ia mengibaratkan hubungan tersebut seperti pedal gas dan rem dalam sebuah kendaraan. Kebijakan fiskal dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, sementara kebijakan moneter berfungsi menjaga stabilitas agar laju ekonomi tetap terkendali.

Gunawan mengingatkan, investor akan terus mencermati keseimbangan kedua kebijakan tersebut. Jika stabilitas ekonomi terlalu bergantung pada kebijakan moneter tanpa diimbangi penguatan fiskal, pasar dapat menilai daya tahan ekonomi Indonesia menjadi lebih terbatas.

"Investor global selalu mengukur risiko dan prospek suatu negara. Karena itu, menjaga independensi Bank Indonesia sekaligus memperkuat sinergi dengan kebijakan fiskal menjadi kunci untuk mempertahankan kepercayaan pasar dan stabilitas ekonomi nasional," pungkasnya. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement