Breaking News
Memuat breaking news...

Industri Manufaktur Indonesia Tetap Ekspansif Di Tengah Tekanan Produksi Dan Permintaan

Redaksi
Redaksi
Rabu, 1 Juli 2026 - 8.49 AM WIB
Industri Manufaktur Indonesia Tetap Ekspansif Di Tengah Tekanan Produksi Dan Permintaan
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Sektor manufaktur Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang kuat meski menghadapi tekanan dari sisi produksi dan permintaan sepanjang Juni 2026. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan berbagai tantangan domestik, aktivitas industri nasional tetap berada di jalur ekspansi dengan capaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sebesar 52,90.

Meski mengalami perlambatan 0,66 poin dibandingkan bulan sebelumnya, capaian tersebut masih berada di atas level 50 yang menandakan aktivitas manufaktur terus bertumbuh. Kondisi ini sekaligus mencerminkan optimisme pelaku industri yang masih terjaga.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, tantangan yang dihadapi industri manufaktur pada Juni lebih berat dibandingkan Mei 2026. Jika sebelumnya tekanan hanya berasal dari sisi produksi, kini pelaku usaha juga mulai menghadapi pelemahan dari sisi permintaan.

"Industri manufaktur nasional pada Juni menghadapi tantangan yang lebih kuat dibandingkan bulan sebelumnya. Tantangan tidak hanya berasal dari sisi produksi, tetapi juga mulai muncul dari sisi permintaan. Meski demikian, sektor industri tetap menunjukkan resiliensi yang kuat sehingga aktivitas manufaktur nasional masih tetap berada pada fase ekspansi pada bulan Juni 2026 ini," kata Febri dalam kegiatan Rilis IKI Juni 2026 dikutip Selasa (30/6/2026).

Biaya Produksi Meningkat

Kementerian Perindustrian mencatat sejumlah faktor yang menekan sektor industri dari sisi produksi. Konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi global berdampak pada meningkatnya harga bahan baku impor. Kondisi tersebut diperburuk oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang membuat biaya pengadaan bahan baku semakin mahal.

Selain itu, sejumlah kawasan industri juga mengalami gangguan operasional akibat pemadaman listrik yang terjadi selama Juni 2026. Situasi tersebut menghambat proses produksi, terutama bagi industri yang sangat bergantung pada pasokan listrik.

"Pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah industri dan kawasan industri menyebabkan sebagian perusahaan harus menghentikan proses produksinya selama gangguan berlangsung. Kondisi tersebut tentu memengaruhi efisiensi operasional industri," ujar dia.

Tekanan lain datang dari kenaikan harga gas industri, khususnya gas yang berasal dari regasifikasi LNG. Namun demikian, Kementerian Perindustrian mengapresiasi langkah Wakil Ketua DPR RI yang mengawal penurunan harga gas regasifikasi LNG untuk industri dari US$23 per MMBTU menjadi US$13 per MMBTU.

Menurut Kemenperin, kebijakan tersebut akan membantu meningkatkan daya saing industri nasional, terutama sektor yang memanfaatkan gas sebagai sumber energi maupun bahan baku produksi.

"Kami akan terus mengawal implementasi kebijakan ini untuk menghindari pengurangan atau pemotongan AGIT (Alokasi Gas Industri Tertentu)," kata Febri.

Permintaan Domestik Mulai Melambat

Selain tekanan biaya produksi, pemerintah juga mencermati munculnya tantangan dari sisi permintaan domestik. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan rumah tangga serta penyesuaian harga BBM nonsubsidi dinilai berpotensi mengurangi ruang belanja masyarakat terhadap produk manufaktur.

Meski demikian, pemerintah meyakini kondisi tersebut masih dapat dikelola karena tingkat inflasi diperkirakan tetap berada dalam rentang sasaran nasional, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen.

"Kami mengapresiasi kebijakan Presiden Prabowo yang tetap mempertahankan harga BBM subsidi. Kebijakan tersebut memberikan kontribusi penting dalam menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat terutama daya beli atas produk manufaktur," ujar dia.

Ekspor dan Belanja Pemerintah Jadi Penopang

Di tengah berbagai tantangan tersebut, prospek ekspor manufaktur masih menjadi sumber optimisme. Permintaan dari sejumlah negara tujuan ekspor nonmigas terus menunjukkan pertumbuhan positif dan menjadi penopang penting bagi kinerja industri nasional.

"Kami melihat permintaan ekspor nonmigas masih tumbuh positif. Di tengah berbagai tantangan global, kondisi ini memberikan optimisme bahwa industri manufaktur Indonesia masih memiliki peluang untuk terus berkembang. Beberapa negara tujuan ekspor manufaktur mengalami pertumbuhan positif dan hal ini meningkatkan permintaan dan produksi industri berorientasi ekspor pada bulan Juni ini," kata Febri.

Selain ekspor, pasar domestik yang besar serta berbagai program prioritas pemerintah juga diyakini akan mendorong peningkatan permintaan produk manufaktur dalam negeri. Program seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, implementasi biodiesel B50, Program Kampung Nelayan, hingga kebutuhan tahun ajaran baru disebut akan memberikan efek berganda bagi sektor industri.

"Belanja pemerintah melalui berbagai program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, implementasi mandatori biodiesel B50, hingga Program Kampung Nelayan, hari libur nasional serta pemenuhan kebutuhan murid memasuki tahun ajaran baru 2026/2027 akan memberikan efek berganda terhadap meningkatnya permintaan dan produksi produk manufaktur nasional," tutur dia.

Menurut Febri, kombinasi pasar domestik yang kuat, dukungan belanja pemerintah, serta pertumbuhan ekspor menjadi modal penting bagi industri manufaktur untuk tetap bertahan dan berkembang di tengah ketidakpastian global.

"Oleh karena itu, Indeks Kepercayaan Industri pada Juni 2026 tercatat sebesar 52,90. Nilai tersebut masih berada di atas level 50 yang menandakan aktivitas industri manufaktur Indonesia tetap berada dalam fase ekspansi. Ini menunjukkan optimisme pelaku industri masih terjaga meskipun tantangan yang dihadapi semakin kompleks," ujar dia. (lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement