Breaking News
Memuat breaking news...

Inflasi AS Juli 2026 Tembus 3,4%, Fed Tertekan

Redaksi
Redaksi
Kamis, 13 Agustus 2026 - 7.54 AM WIB
Inflasi AS Juli 2026 Tembus 3,4%, Fed Tertekan
Foto ilustrasi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Inflasi Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan setelah indeks harga konsumen (IHK) naik 0,1% secara bulanan pada Juli 2026. Kenaikan tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), IHK yang telah disesuaikan secara musiman meningkat 0,1% pada Juli. Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi naik 0,2%.

Secara tahunan, inflasi utama tercatat mencapai 3,4%, sedangkan inflasi inti berada di level 2,5%. Seluruh angka tersebut sesuai dengan perkiraan konsensus Dow Jones.

Meski demikian, inflasi AS masih berada cukup jauh di atas target The Fed sebesar 2%. Namun, kenaikan bulanan yang relatif moderat menunjukkan tekanan harga mulai mereda setelah sebelumnya terdorong lonjakan biaya energi.

Mengutip CNBC, Rabu (12/8/2026), perkembangan tersebut juga memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertimbangkan kembali arah kebijakan suku bunganya, terutama setelah pasar tenaga kerja AS menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

Peluang Kenaikan Suku Bunga Menurun

Pasar keuangan langsung merespons rilis data inflasi tersebut. Kontrak berjangka saham AS bergerak naik, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS mengalami tekanan.

Pelaku pasar juga memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Berdasarkan indikator FedWatch dari CME Group, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September turun menjadi sekitar 42%.

Pergerakan harga energi menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan inflasi. Harga energi turun 1,5% pada Juli setelah sebelumnya merosot 5,7% pada Juni.

Namun, secara tahunan harga energi masih mencatat kenaikan 14,7%. Angka tersebut terjadi setelah lonjakan harga energi pada bulan-bulan sebelumnya, termasuk kenaikan 10,9% pada Maret setelah serangan terhadap Iran dimulai.

Di sisi lain, harga makanan dan tempat tinggal masing-masing naik 0,1% pada Juli. Biaya tempat tinggal masih menjadi salah satu penyumbang utama inflasi AS dan membuat tingkat inflasi tetap berada di atas target The Fed.

“Bahkan dengan kenaikan yang moderat, biaya tempat tinggal menyumbang sekitar dua pertiga dari kenaikan utama,” demikian disampaikan Bureau of Labor Statistics (BLS).

Sejumlah komponen lainnya juga mengalami kenaikan. Harga kendaraan baru naik 0,1%, sedangkan mobil dan truk bekas meningkat 0,4%. Biaya perawatan medis naik 0,4%, sementara tarif penerbangan melonjak 2,2%.

The Fed Masih Punya Waktu

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) belum akan kembali menggelar pertemuan hingga September. Artinya, bank sentral AS masih memiliki waktu untuk mencermati tambahan data inflasi dan pasar tenaga kerja sebelum menentukan kebijakan berikutnya.

"Inflasi yang sesuai dengan perkiraan akan mempertahankan narasi ‘tidak perlu menaikkan suku bunga’ yang muncul setelah laporan pekerjaan minggu lalu,” ujar Ekonom Morgan Stanley Wealth Management, Ellen Zentner.

Ia menilai keputusan The Fed masih dapat berubah jika data ekonomi berikutnya menunjukkan tekanan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan.

"Akan ada putaran data inflasi lain sebelum pertemuan FOMC September, jadi alur ceritanya masih bisa berubah. Tetapi kecuali angka-angka tersebut menunjukkan cerita yang jauh berbeda, Fed kemungkinan besar masih akan berada dalam posisi untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah bulan depan,” ujar dia.

Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga juga berubah cukup signifikan. Hingga sekitar sepekan sebelumnya, pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September cukup besar.

Namun, munculnya kekhawatiran terhadap kondisi pasar tenaga kerja setelah AS mencatat kehilangan pekerjaan bersih pada Juli, ditambah volatilitas harga energi, membuat urgensi kenaikan suku bunga mulai berkurang.

Pada pertemuan Juli, FOMC memberikan suara 9-3 untuk mempertahankan suku bunga acuan. Seluruh anggota yang berbeda pendapat justru mendukung kenaikan suku bunga.

Dengan perkembangan terbaru tersebut, pasar kini mulai melihat peluang kenaikan suku bunga yang lebih besar pada pertemuan Oktober atau Desember dibandingkan September. Fokus investor selanjutnya akan tertuju pada data inflasi dan pasar tenaga kerja yang akan dirilis sebelum pertemuan FOMC berikutnya. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement