Breaking News
Memuat breaking news...

Investor Pasar Modal Sumut Tembus 1,3 Juta, Hampir 60% Didominasi Gen Z

Redaksi
Redaksi
Kamis, 25 Juni 2026 - 4.37 PM WIB
Investor Pasar Modal Sumut Tembus 1,3 Juta, Hampir 60% Didominasi Gen Z
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Utara, M. Pintor Nasution
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Di tengah gejolak pasar global dan fluktuasi yang sempat mengguncang pasar keuangan, pertumbuhan investor pasar modal di Sumatera Utara justru terus menunjukkan tren positif. Hingga pertengahan 2026, jumlah investor pasar modal di provinsi ini telah mencapai 1,3 juta Single Investor Identification (SID), dengan hampir 60 persen di antaranya berasal dari kalangan Generasi Z (Gen Z).

Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumatera Utara, M. Pintor Nasution mengatakan, dominasi investor muda menjadi fenomena yang menarik di tengah kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian ekonomi global.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan kemudahan akses informasi telah membuka peluang yang lebih luas bagi generasi muda untuk mengenal dan berinvestasi di pasar modal.

“Gen Z dinilai lebih berani mengambil risiko tinggi, seperti berinvestasi di aset kripto maupun saham,” ujar Pintor di Medan, Kamis (25/6/2026).

Ia menjelaskan, minat investasi yang tinggi juga didukung oleh semakin terjangkaunya modal awal untuk berinvestasi. Saat ini masyarakat dapat mulai berinvestasi di reksa dana hanya dengan dana Rp10.000, sementara pembukaan rekening saham dapat dilakukan dengan modal sekitar Rp100.000.

Di sisi lain, Pintor menegaskan bahwa keputusan terbaru Morgan Stanley Capital Index (MSCI) yang tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market menjadi sentimen positif bagi pasar modal nasional. Dengan keputusan tersebut, Indonesia terhindar dari potensi penurunan status menjadi Frontier Market, yang selama ini dikhawatirkan dapat memengaruhi arus investasi asing.

Menurutnya, gejolak yang terjadi belakangan lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, termasuk pernyataan pejabat bank sentral global yang memicu volatilitas pasar.

“Meskipun sempat terjadi gejolak volatilitas akibat faktor eksternal lain, investor diharapkan tetap optimis mengingat posisi indeks yang sudah terkoreksi cukup dalam,” katanya.

Pintor menyebut indeks pasar saham Indonesia telah mengalami koreksi hingga sekitar 29 persen, sehingga banyak investor justru memanfaatkan kondisi tersebut untuk melakukan akumulasi pembelian saham.

Saham-saham perbankan besar atau big banks seperti BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI masih menjadi pilihan utama investor jangka panjang di Sumatera Utara. Emiten-emiten tersebut dinilai memiliki fundamental kuat dan relatif aman di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi.

“Ketika terjadi koreksi dalam, momentum tersebut umumnya dimanfaatkan investor untuk melakukan akumulasi beli,” ungkapnya.

Sementara itu, dari sisi korporasi, Sumatera Utara masih belum mencatatkan emiten baru yang melaksanakan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) sepanjang tahun ini. Padahal secara nasional saat ini terdapat sekitar enam perusahaan yang sedang berada dalam antrean untuk melantai di Bursa Efek Indonesia.

Pintor menilai tantangan utama perusahaan-perusahaan lokal untuk masuk ke pasar modal bukan berasal dari regulasi, melainkan kesiapan internal, terutama terkait profesionalisme tata kelola perusahaan dan transparansi laporan keuangan.

“Banyak pemilik perusahaan masih merasa khawatir terhadap kewajiban keterbukaan informasi setelah menjadi perusahaan publik,” jelasnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan pemerintah daerah terus meningkatkan edukasi kepada pelaku usaha mengenai manfaat menjadi perusahaan terbuka.

Meski jumlah investor terus bertambah, sebaran investor di Sumatera Utara masih terkonsentrasi di Kota Medan. Karena itu, BEI Sumut kini memfokuskan strategi pengembangan pasar modal ke 33 kabupaten dan kota lainnya.

Beberapa daerah yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan investor cukup besar antara lain Deli Serdang, Pematangsiantar, Binjai, Langkat, Rantauprapat, hingga Padangsidimpuan.

“Otoritas terkait kini tengah fokus memperluas jangkauan ke 33 kabupaten/kota lainnya,” pungkas Pintor.

Dengan meningkatnya partisipasi generasi muda dan terus meluasnya edukasi pasar modal ke berbagai daerah, Sumatera Utara berpotensi menjadi salah satu daerah dengan pertumbuhan investor tercepat di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement