Breaking News
Memuat breaking news...

Iran-AS Saling Serang, Harga Minyak Dunia Melonjak 2%

Redaksi
Redaksi
Rabu, 9 September 2026 - 8.25 AM WIB
Iran-AS Saling Serang, Harga Minyak Dunia Melonjak 2%
Foto ilustrasi salah satu kapal tangker mengangkut minyak saat berada di selat Hormuz.
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

JAKARTA (Waspada.id): Harga minyak dunia kembali melonjak setelah ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat (AS) semakin memanas. Laporan mengenai aksi saling serang antara kedua negara mendorong kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Mengutip CNBC, harga minyak Brent sebagai acuan internasional naik sekitar 2% menjadi US$99,05 per barel, setelah sebelumnya ditutup di level US$97,92 per barel.

Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat lebih tajam, yakni 2,8% menjadi US$94,04 per barel, dari penutupan sebelumnya di level US$93,03.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah muncul laporan Iran melancarkan gelombang serangan kedua yang sebelumnya tidak diungkapkan terhadap kapal-kapal Angkatan Laut AS pada awal pekan ini.

Pejabat AS mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa Iran berupaya menyerang kapal-kapal Angkatan Laut AS pada Senin, setelah sebelumnya menargetkan sebuah kapal induk menggunakan rudal balistik pada akhir pekan.

Pentagon sejauh ini belum secara terbuka mengakui adanya upaya serangan pada Senin tersebut. Tidak ada kapal AS yang dilaporkan terkena serangan.

Di sisi lain, media pemerintah Iran menyatakan sebuah rudal AS menargetkan kapal tanker minyak kecil yang berada sekitar empat mil dari Pulau Kharg pada Selasa.

Harga Minyak Naik 8% Sepanjang September

Konflik militer antara Iran dan AS membuat harga minyak dunia melonjak lebih dari 8% sepanjang September. Aksi saling serang tersebut disebut sebagai eskalasi militer langsung antara kedua negara untuk pertama kalinya sejak Juli.

Ketegangan juga meluas pada pekan ini setelah kelompok militan Houthi yang bersekutu dengan Iran menyerang sejumlah fasilitas energi di Arab Saudi. Serangan tersebut memaksa sebagian operasi energi dihentikan sementara.

Kementerian Luar Negeri Saudi menyatakan militan Houthi menargetkan sejumlah aset ekonomi di Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran. Lebih dari 70 warga sipil terluka akibat serangan tersebut.

Kementerian Energi Saudi menyatakan serangan itu memicu kebakaran di sejumlah fasilitas energi dan menyebabkan penghentian operasional sementara.

Layanan darurat kemudian dikerahkan untuk memadamkan api sekaligus menilai tingkat kerusakan yang terjadi.

Fasilitas Saudi Aramco Jadi Sasaran

Riyadh belum mengungkapkan secara rinci jenis fasilitas energi yang terkena serangan.

Namun, media yang berafiliasi dengan Houthi menyebut kelompok tersebut menargetkan fasilitas Saudi Aramco di wilayah selatan menggunakan drone dan rudal balistik.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menegaskan hak negaranya untuk mengambil seluruh langkah yang diperlukan guna mempertahankan kedaulatan, menjaga aset nasional, serta melindungi keamanan dan keselamatan warga negara maupun penduduknya.

Eskalasi tersebut terjadi setelah militer AS menghantam tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu. Serangan itu disebut sebagai balasan atas serangan rudal balistik Iran terhadap dua kapal perang Angkatan Laut AS.

Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan terhadap kapal tanker tersebut sebagai "kejahatan perang" dan tindakan "perang ekonomi" dalam sebuah pernyataan pada Sabtu.

Teheran juga disebut telah berulang kali menyerang kapal-kapal komersial selama perang berlangsung.

"Serang aset kami dan kalian akan diserang," tulis Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada Senin dalam sebuah unggahan di X.

Pernyataan tersebut merupakan respons terhadap unggahan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang memperingatkan Iran bahwa AS "akan menghancurkan (dan menenggelamkan)" kapal tanker minyak Iran jika Teheran menyerang kapal-kapal AS.

Eskalasi konflik ini menjadi perhatian serius pasar energi karena kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi dan jalur penting perdagangan minyak dunia. Jika konflik meluas dan mengganggu produksi maupun distribusi, tekanan terhadap harga minyak berpotensi semakin besar. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement