Iran dan Rusia Kritik Sanksi Barat, Dorong Penguatan Perdagangan BRICS

JAKARTA (Waspada.id): Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengkritik sanksi Barat yang menekan perekonomian kedua negara. Dalam forum BRICS pada Jumat, 11 September 2026, keduanya juga mendorong negara-negara Global South mempererat hubungan perdagangan dan mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan yang didominasi Barat.
Pezeshkian menyampaikan kritik tersebut saat berbicara di New Delhi. Ia menyerukan agar BRICS menciptakan sistem perdagangan yang lebih terbuka dan tidak mudah dipengaruhi monopoli keuangan maupun teknologi.
"BRICS harus menciptakan lingkungan di mana tidak ada negara yang dapat menganggu perdagangan sah negara lain melalui monopoli instrument keuangan atau teknologi,” ujar Pezeshkian di New Delhi, dikutip dari CNBC, Sabtu (12/9/2026).
Presiden Iran itu juga mendesak negara-negara anggota BRICS memperluas penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan antarnegara. Menurut dia, langkah tersebut dapat memperkuat kemandirian ekonomi dan mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan global yang didominasi negara-negara Barat.
Iran Soroti Dampak Konflik terhadap Energi Global
Pezeshkian mengatakan, tekanan terhadap Iran telah memasuki tahap berbahaya, dari sanksi ekonomi hingga agresi militer oleh Amerika Serikat dan Israel. Ia menilai dampak konflik tidak hanya dirasakan Teheran, tetapi juga berimbas terhadap stabilitas kawasan dan dunia.
Konflik tersebut turut mengganggu pasar energi global dan mendorong kenaikan harga bahan bakar. Gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur penting pengangkutan minyak mentah dan gas dari Timur Tengah, menjadi salah satu faktor utama yang memperbesar tekanan pasokan energi.
Pada Jumat, harga solar di Amerika Serikat (AS) mencapai US$6 per galon untuk pertama kalinya. Kenaikan tersebut terjadi di tengah gangguan pasokan bahan bakar akibat perang Ukraina dan Iran, yang turut meningkatkan biaya transportasi di berbagai sektor ekonomi.
Sehari sebelumnya, harga minyak mentah berjangka AS juga menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Kenaikan itu dipicu eskalasi tajam pertempuran antara AS dan Iran pada bulan ini.
"Ketahanan pangan dan energi adalah dua pilar fundamental ketahanan ekonomi," kata pemimpin Iran tersebut pada Jumat pekan ini.
Pezeshkian menambahkan, Iran yang memiliki cadangan energi melimpah siap menjadi mitra strategis bagi negara-negara lain.
Putin: Rusia Hadapi Lebih dari 30.000 Sanksi
Rusia, sebagai salah satu produsen energi terbesar dunia, juga menghadapi sanksi Barat yang luas akibat perang di Ukraina. Di tengah tekanan tersebut, Moskow kembali melancarkan serangan udara ke sejumlah kota besar Ukraina setelah jeda singkat yang berkaitan dengan kunjungan negosiator perdamaian AS pada akhir pekan.
Presiden Rusia Vladimir Putin turut mengecam kebijakan sanksi Barat saat berbicara dalam Forum Bisnis BRICS. Ia menilai sanksi digunakan sebagai instrumen untuk mempertahankan keunggulan kompetitif negara-negara yang menerapkannya.
"Lebih dari 30.000 sanksi telah dijatuhkan terhadap Rusia; jumlah ini dua kali lipat lebih banyak dibandingkan total sanksi yang dikenakan terhadap semua negara lain di dunia jika digabungkan," ujar Putin dalam Forum Bisnis BRICS.
Putin menyatakan, negara-negara yang "menghadapi kemunduran industri dan defisit anggaran" berupaya melindungi "keunggulan kompetitif" mereka dengan menjatuhkan sanksi terhadap Rusia dan Iran.
BRICS Didorong Jadi Mesin Pertumbuhan Global
Dalam forum tersebut, Putin juga menyoroti kontribusi negara-negara BRICS terhadap perekonomian dunia. Ia mengklaim, selama lima tahun terakhir, lebih dari 40% pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) global berasal dari negara-negara BRICS, sedangkan negara-negara G7 menyumbang 29%.
"BRICS menyediakan "platform yang tangguh dan layak bagi pertumbuhan global," kata Putin.
Ia menambahkan, Moskow ingin menjalankan berbagai "inisiatif menjanjikan" di bidang pariwisata, perdagangan, dan investasi sektor swasta yang melibatkan negara-negara Global South.
Dorongan Iran dan Rusia tersebut mencerminkan upaya memperkuat kerja sama ekonomi antarnegara berkembang, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, sanksi ekonomi, dan ketidakpastian pasar energi global. (Lip6)













Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda