Breaking News
Memuat breaking news...

Jabu Bonang Awards 2026, Apresiasi bagi Penenun dan Pelestarian Wastra Sumut

Redaksi
Redaksi
Senin, 19 Oktober 2026 - 7.59 PM WIB
Jabu Bonang Awards 2026, Apresiasi bagi Penenun dan Pelestarian Wastra Sumut
Nesli Simarmata, peraih juara pertama kategori tenun tradisi melalui kain bulang khas Simalungun, pada Jabu Bonang Awards 2026 di Gedung Serbaguna Yayasan Del, Laguboti, Kabupaten Toba, Senin (19/10). Waspada.id/Ramsiana Gultom.
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

TOBA (Waspada.id): Jabu Bonang menggelar Jabu Bonang Awards 2026 untuk pertama kalinya sebagai bentuk apresiasi terhadap para pelaku tenun sekaligus mendorong pelestarian wastra tradisional dan pengembangan ekonomi kreatif di Sumatera Utara.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari di Gedung Serbaguna Yayasan Del, Laguboti, Kabupaten Toba, ini diikuti peserta dari sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Utara.

Managing Director Jabu Bonang, Trisna Pardede, mengatakan Jabu Bonang Awards dirancang sebagai wadah apresiasi bagi para penenun, pelaku usaha kerajinan, serta desainer yang mengembangkan produk turunan tenun.

“Melalui apresiasi ini, kita berharap muncul semangat yang lebih kuat dan semangat baru dari para pelaku kerajinan dalam ekosistem tenun, baik penenun, panirat, maupun desainer,” ujar Trisna.

Jabu Bonang Awards 2026, Apresiasi bagi Penenun dan Pelestarian Wastra Sumut

Managing Director Jabu Bonang, Trisna Pardede, saat diwawancarai di sela-sela kegiatan Jabu Bonang Awards 2026 di Gedung Serbaguna Yayasan Del, Laguboti, Kabupaten Toba, Senin (19/10). Waspada.id/Ramsiana Gultom.

Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan tersebut juga bertujuan mempererat kebersamaan di antara para pelaku tenun dari berbagai daerah di Sumatera Utara yang memiliki kekayaan wastra khas masing-masing.

Sejumlah kain tradisional yang ingin terus diperkenalkan kepada masyarakat antara lain ulos, uis, hiou, oles, tenun Melayu, serta kain tenun khas Nias dan daerah lainnya.

Trisna menyebutkan, Jabu Bonang Awards direncanakan menjadi agenda tahunan sesuai arahan pembina dan ketua yayasan.

“Melalui benang-benang yang menyusun kain tenun, kita ingin membangun rasa kebersamaan di antara para pelaku tenun di Sumatera Utara,” katanya.

65 Kain Lolos Kurasi

Pada penyelenggaraan perdana tahun ini, Jabu Bonang Awards menghadirkan dua kategori perlombaan, yakni tenun tradisi dan tenun kreasi. Keduanya dikhususkan bagi kain yang dibuat menggunakan teknik tenun duduk atau hundul, yakni teknik tradisional dengan posisi penenun duduk di lantai atau alas.

Trisna menjelaskan, kedua kategori tersebut dihadirkan untuk menjaga pengetahuan mengenai budaya dan tradisi adat, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan kreativitas dan nilai ekonomi produk tenun.

“Salah satu persyaratan utama yang ditetapkan panitia adalah penggunaan pewarna alami dalam pembuatan kain.

Jabu Bonang Awards 2026, Apresiasi bagi Penenun dan Pelestarian Wastra Sumut

Penyerahan penghargaan kepada juara pertama kategori tenun kreasi pada Jabu Bonang Awards 2026 di Gedung Serbaguna Yayasan Del, Laguboti, Kabupaten Toba, Senin (19/10). Pemenang menerima hadiah sebesar Rp3 juta sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan pengembangan kain tenun Sumatera Utara. Waspada.id/Ramsiana Gultom.

Pada penyelenggaraan perdana ini, sebanyak 65 kain berhasil melalui proses kurasi. Rinciannya, 46 kain masuk kategori tenun kreasi dan 19 kain kategori tenun tradisi,” tuturnya.

Peserta berasal dari berbagai daerah, di antaranya Kabupaten Dairi, Toba, Samosir, Simalungun, Kota Pematangsiantar, Kota Medan, hingga Tapanuli Selatan.

Jabu Bonang Awards tidak hanya diperuntukkan bagi penenun yang menjadi mitra binaan Jabu Bonang, tetapi juga terbuka bagi pelaku tenun dari berbagai wilayah di Sumatera Utara.

Proses penilaian melibatkan tiga juri dengan perspektif berbeda, yakni Ratna Panggabean, peneliti kriya tradisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB); Sepwan Sinaga, pelaku tenun tradisi; serta Zul Said, perancang busana asal Sumatera Utara yang telah membawa kain tenun daerah tersebut ke berbagai ajang.

Dalam kategori tenun tradisi, penghargaan pilihan juri untuk juara pertama diraih Nesli Simarmata melalui kain bulang dari Simalungun. Sementara itu, juara pertama kategori tenun kreasi berasal dari Tapanuli Utara.

Edukasi Wastra bagi Pelajar

Selain penyerahan penghargaan, rangkaian Jabu Bonang Awards 2026 juga diisi dengan diskusi budaya dan edukasi mengenai pewarnaan alami.

Pada hari pertama, kegiatan menghadirkan diskusi mengenai tenun Simalungun serta pembahasan untuk mengenali perbedaan antara tenun tradisi dan tenun kreasi dengan narasumber Nesli Simarmata.

Agenda dilanjutkan dengan seremoni penyerahan penghargaan kepada para pemenang.

Jabu Bonang Awards 2026, Apresiasi bagi Penenun dan Pelestarian Wastra Sumut

Para pemenang Jabu Bonang Awards 2026 bersama panitia dan tamu undangan berfoto bersama seusai penyerahan penghargaan di Gedung Serbaguna Yayasan Del, Laguboti, Kabupaten Toba, Senin (19/10). Waspada.id/Ramsiana Gultom.

Sementara itu, pada hari kedua, panitia menjadwalkan edukasi pewarnaan alami dan pengenalan wastra tenun Sumatera Utara kepada sekitar 300 pelajar dan mahasiswa di Kabupaten Toba.

Peserta berasal dari SMA Unggul Del, mahasiswa Institut Teknologi Del (IT Del), SMK Pariwisata Balige, serta pelajar lainnya yang mendaftar melalui undangan pribadi.

Dalam kegiatan tersebut, peserta akan mempraktikkan teknik pencelupan kain shibori menggunakan bahan pewarna alami.

Menurut Trisna, edukasi ini menjadi bagian penting dari upaya memperkenalkan kekayaan tenun Sumatera Utara kepada generasi muda agar pengetahuan dan keterampilan tradisional dapat terus diwariskan.

Penyelenggaraan Jabu Bonang Awards 2026 mendapat dukungan dari BNI, Yayasan Del, Kementerian Kehutanan melalui KPH Wilayah IV Balige dan BPDAS Asahan Barumun, Toba Tenun, Universitas Sumatera Utara (USU), serta Del FM.

BPDAS Asahan Barumun turut menyediakan 1.000 bibit pohon untuk dibagikan kepada para penenun sebagai bagian dari dukungan terhadap pemanfaatan bahan pewarna alami.

“Melalui kegiatan ini, Jabu Bonang berharap pelestarian tenun tradisional dapat berjalan seiring dengan pengembangan kreativitas, penguatan jejaring pelaku tenun, serta peningkatan nilai ekonomi wastra khas Sumatera Utara,” pungkas Trisna. (id52)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement