Breaking News
Memuat breaking news...

Jalan Samping GOR Kutacane Kumuh Pascabanjir, Warga Sesak Hirup Debu

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11.27 AM WIB
Jalan Samping GOR Kutacane Kumuh Pascabanjir, Warga Sesak Hirup Debu
Kondisi jalan di samping GOR Kutacane yang masih menyisakan tumpukan tanah pascabanjir Lawe Bulan. Waspada/Seh Muhammad Amin
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

KUTACANE (Waspada.id): Ruas jalan di samping Gedung Olahraga (GOR) Kutacane, Aceh Tenggara, masih menyisakan luka pascabanjir. Tumpukan lumpur sisa banjir Lawe Bulan mengering dan berubah menjadi debu pekat yang menyelimuti permukiman. Sementara itu, langit Kutacane masih diselimuti kabut asap.

Saat hujan, jalan itu berubah menjadi kubangan kerbau yang licin dan berbahaya. Saat kemarau, debu beterbangan masuk ke rumah-rumah warga. Ironisnya, di sisi jalan, bangunan MCK GOR yang sejak dibangun tidak pernah difungsikan justru menebar bau busuk.

"Kalau hujan jadi kubangan kerbau, kalau panas kami sesak hirup debu. Padahal, jalan ini ramai dilalui setiap hari," ujar Adlun, warga setempat, Sabtu (17/10), dengan nada lirih.

Kondisi itu bukan sekadar kumuh, tetapi juga mengancam keselamatan. Pengendara sepeda motor kerap terpeleset saat melintas. Warga yang setiap hari menghirup debu terancam mengalami gangguan pernapasan.

Senada, warga lainnya, Rab dan Adong, berharap pemerintah tidak tutup mata. Mereka meminta Dinas PUPR segera mengeruk sisa material banjir tersebut.

"Jalan ini tepat di depan Kantor PWI. Debunya masuk ke mana-mana kalau angin datang. Tolonglah dibersihkan agar kami bisa bernapas lega," pinta Rab.

Hingga berita ini diturunkan, Dinas PUPR Aceh Tenggara belum berhasil dikonfirmasi terkait penanganan tumpukan lumpur tersebut. (id80)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement