Jalan Sunyi Seorang Salim Fakhry, Dari Lorong DPRK hingga Puncak Kepemimpinan Aceh Tenggara


KUTACANE (Waspada.id): Dalam ilmu politik, ada dua tipe pemimpin. Pertama, pemimpin karbitan yang lahir karena momentum. Kedua, pemimpin organik yang tumbuh karena proses panjang dari akar rumput. H. M. Salim Fakhry, SE., MM., adalah tipe yang kedua.
Perjalanan politiknya bukan jalan pintas. Ia ditempa oleh waktu, kesabaran, dan konsistensi pengabdian.
Salim Fakhry memulai kariernya dari titik paling fundamental dalam demokrasi lokal, yakni Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK). Selama empat periode berturut-turut dari 1997 hingga 2014, ia menjadi wakil rakyat Aceh Tenggara. Puncaknya, pada 2009-2014 ia dipercaya sebagai Ketua DPRK.
Secara teori politik, inilah fase political socialization atau pematangan politik. Selama 17 tahun di DPRK, ia tidak hanya belajar legislasi, tetapi belajar mendengar denyut nadi warga di Bumi Sepakat Segenep.
Modal sosial itu menjadi legitimasi untuk naik ke level nasional. Pada Pemilu 2014-2019 dan 2019-2024, masyarakat Aceh mempercayainya sebagai Anggota DPR RI dari Partai Golkar Dapil Aceh I. Di periode keduanya, ia duduk di Komisi IV yang membidangi sektor strategis, yakni pertanian, lingkungan hidup, kehutanan, dan kelautan.
Dua level, lokal dan nasional, membentuknya menjadi sosok yang memiliki perspektif bottom-up dan top-down yang seimbang.
Kematangan itu juga tercermin dalam organisasi. Secara aklamasi, ia terpilih sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Aceh Tenggara periode 2020-2025 pada 18 Agustus 2020.
Puncak dari politik elektoral itu terjadi pada Pilkada 2024. Berpasangan dengan Heri Al Hilal, seorang birokrat purna tugas, pasangan ini meraih mandat rakyat yang kuat dengan 70.834 suara atau 55,85 persen suara sah. Keduanya resmi dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Aceh Tenggara periode 2025-2030.
Bagi Salim Fakhry yang lahir pada 21 Oktober 1968, Kepercayaan partai terus berlanjut, kini ia dipercaya sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Aceh, kemenangan itu bukan sekadar kemenangan elektoral. Itu adalah jalan pulang. Setelah mengabdi di Kutacane dan Senayan, ia kembali untuk mengabdi di tanah kelahirannya.
Di balik perjalanan panjang itu, ada pilar keluarga. Sang istri, Hj. Nurjanah Pasaribu, dan empat orang anak yang selalu mendampingi. Salah satunya, Putri Niken Jile, kini mengikuti jejak pengabdian sebagai Anggota DPRK dari Partai Golkar.
Memasuki hampir dua tahun kepemimpinan, gaya kepemimpinan Salim Fakhry terlihat pada responsibilitas. Ia dikenal selalu hadir di tengah masyarakat saat musibah melanda.
Dalam dinamika demokrasi, kritik adalah keniscayaan. Namun dalam kerangka political will komitmennya untuk mewujudkan visi perbaikan Aceh Tenggara Hebat tetap berjalan dengan kerja nyata.
Sebab dalam catatan politik Salim Fakhry, jabatan bukanlah tujuan. Jabatan adalah amanah panjang yang harus dijaga dengan kesabaran.(id80)
Berita Terkait



































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda