Jangan Jadi Pejabat PHP


Pemerintah Kabupaten Pidie boleh saja menunjukkan angka Rp125,6 miliar sebagai bukti bahwa gaji 7.320 PPPK paruh waktu telah disiapkan.
Tetapi bagi orang yang sedang haus, gambar sumur tidak akan pernah menghilangkan dahaga. Air harus mengalir, bukan sekadar disebut ada.
Begitulah harapan 7.320 PPPK paruh waktu di Pidie. Mereka bukan membutuhkan janji yang dibungkus kata segera, melainkan hak yang benar-benar sampai ke rekening.
Kepala BKPSDM Pidie, Muhammad Harris, memastikan seluruh 7.320 PPPK paruh waktu tersebut akan dibayarkan. Pemerintah juga telah menyiapkan anggaran untuk pembayaran selama 12 bulan, termasuk THR dan gaji ke-13 sesuai ketentuan yang berlaku.
Kabar tersebut tentu patut diapresiasi. Namun, dalam urusan hak rakyat, apresiasi tidak boleh menjadi akhir cerita. Sebab yang ditunggu para PPPK bukan sekadar pernyataan bahwa anggaran sudah tersedia, melainkan kapan uang itu benar-benar masuk ke rekening.
Sebab rakyat tidak hidup dari angka di atas kertas. Dapur tidak mengenal istilah anggaran telah dialokasikan. Anak sekolah tidak memahami bahasa masih dalam proses. Kebutuhan keluarga juga tidak bisa dibayar dengan kalimat akan segera dicairkan.
Semua membutuhkan sesuatu yang nyata.Karena itu, Pemkab Pidie harus memastikan kata “segera” tidak berubah menjadi kata yang kehilangan makna karena terlalu lama ditunggu.
Ibarat orang haus di tengah perjalanan panjang, jangan hanya ditunjukkan sebuah sumur dari kejauhan. Biarkan ia mengambil airnya.
Begitu pula dengan anggaran Rp125,6 miliar tersebut. Angka itu bukan sekadar deretan angka dalam dokumen pemerintah. Di balik angka itu ada ribuan keluarga yang menggantungkan harapan.
Ada kebutuhan rumah tangga. Ada biaya pendidikan anak. Ada belanja dapur. Ada cicilan dan berbagai kewajiban lainnya.
Maka ketika pemerintah mengatakan hak itu akan dibayarkan, publik berhak berharap prosesnya tidak berputar terlalu lama di meja birokrasi.
Birokrasi seharusnya menjadi jalan menuju penyelesaian, bukan lorong panjang yang membuat rakyat tersesat dalam ketidakpastian.
Jangan sampai berkas berjalan dari meja ke meja, sementara harapan para PPPK berjalan semakin lambat.
Di sinilah pemerintah diuji
Bukan pada banyaknya rapat. Bukan pada panjangnya pernyataan. Bukan pula pada indahnya bahasa dalam dokumen.
Pemerintah diuji ketika janji berubah menjadi bukti.Sebab kepercayaan publik ibarat kaca. Sekali retak, mungkin masih dapat digunakan, tetapi bekas retaknya akan selalu terlihat.
Jika Pemkab Pidie telah menyatakan anggaran tersedia dan memastikan 7.320 PPPK akan menerima haknya, maka langkah berikutnya sederhana: tunaikan.
Jangan biarkan kata segera menjadi saudara kembar dari nanti. Sebab nanti yang terlalu sering diucapkan bisa berubah menjadi entah kapan.
Dan ketika itu terjadi, yang terkikis bukan hanya kesabaran, tetapi juga kepercayaan. Istilah PHP—Pemberi Harapan Palsu memang sering dipakai dalam urusan asmara. Tetapi dalam urusan pemerintahan, istilah itu juga bisa menjadi sindiran ketika harapan terus diberikan sementara kepastian belum kunjung datang.
Tentu tidak adil mengatakan semua pejabat Pidie adalah PHP. Namun, kritik publik harus tetap memiliki tempat. Sebab pejabat memiliki kewajiban memberikan kepastian, bukan sekadar harapan.
Maka pesan untuk Pemkab Pidie sederhana "Jangan jadi PHP" Jangan hanya pandai membuat harapan. Pandailah menunaikan kewajiban.
Jangan hanya pandai mengatakan anggaran sudah disiapkan. Buktikan bahwa pembayaran benar-benar terlaksana.
Jangan hanya pandai mengatakan segera. Buktikan bahwa segera memang berarti segera.
Sebab pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan janji yang indah.
Rakyat membutuhkan bukti yang nyata
Bagi 7.320 PPPK paruh waktu, bukti itu sederhana: gaji masuk, hak terpenuhi, dan keluarga bisa bernapas lebih lega.
Pada akhirnya, pemerintahan bukanlah lomba menyusun kata, melainkan perjalanan menunaikan amanah. Jangan mengajak rakyat berdiri di depan sumur sambil terus berkata airnya ada, tetapi ember tak pernah diturunkan.
Sebab rakyat yang menunggu haknya bukan sedang meminta belas kasihan. Mereka sedang menagih sesuatu yang menjadi haknya.
Dan sebuah janji, jika terlalu lama tidak ditepati, akan berubah menjadi hutang moral. Jangan biarkan harapan tumbuh seperti padi tanpa air hijau dari kejauhan, tetapi kosong ketika dipanen.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa banyak janji yang pernah diucapkan. Sejarah akan mencatat siapa yang benar-benar menunaikan amanah ketika rakyat sedang menunggu.
Muhammad Riza












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda