Jelang Rilis Data Inflasi, IHSG dan Rupiah Bergerak Sideways


MEDAN (Waspada.id): Pergerakan pasar keuangan domestik diperkirakan masih terbatas menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah berpeluang bergerak sideways sepanjang perdagangan hari ini, Selasa (1/9).
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, sentimen eksternal masih menjadi salah satu faktor yang membayangi pasar. Mayoritas bursa saham di Asia terpantau berada di zona merah di tengah ketidakpastian yang muncul akibat perkembangan geopolitik global.
Meski demikian, IHSG pada awal perdagangan masih mampu dibuka menguat ke level 6.538.
"Tekanan pada pasar saham di kawasan Asia membuka ruang bagi IHSG untuk ikut ditransaksikan melemah. Dengan kondisi tersebut, IHSG masih rawan mengalami koreksi pada perdagangan hari ini," ujar Gunawan.
Menurutnya, perhatian pelaku pasar saat ini juga tertuju pada rilis data inflasi Indonesia periode Agustus. Inflasi tahunan diperkirakan berpeluang berada di atas level 3%.
Selain inflasi, pasar juga akan mencermati data neraca perdagangan Indonesia untuk periode Juli. Neraca perdagangan diproyeksikan masih mencatatkan defisit, meskipun nilainya diperkirakan lebih kecil dibandingkan defisit pada bulan sebelumnya yang mencapai US$0,45 miliar.
"Pelaku pasar akan mencermati bagaimana arah inflasi dan neraca perdagangan. Kedua data tersebut akan menjadi tambahan sentimen bagi pasar keuangan domestik," jelasnya.
Di pasar valuta asing, rupiah terpantau relatif stabil di kisaran Rp17.710 per dolar AS. Pergerakan rupiah yang cenderung terbatas terjadi di tengah potensi tekanan fundamental dari data neraca perdagangan.
Namun, Gunawan menilai pelemahan indeks dolar AS atau USD Index ke level 99,4 menjadi katalis positif bagi rupiah. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi mata uang Garuda untuk menahan tekanan dolar AS.
Sementara itu, tensi geopolitik global dalam perdagangan terakhir relatif terkendali. Kondisi tersebut turut membuat pergerakan harga komoditas utama cenderung stabil.
Harga minyak mentah berada di kisaran US$91 per barel, sedangkan harga emas dunia bergerak relatif datar di sekitar US$4.441 per troy ounce. Jika dikonversikan, harga tersebut setara dengan sekitar Rp2,54 juta per gram.
Gunawan menilai belum terdapat katalis kuat yang mampu mendorong pergerakan harga emas secara signifikan. Kondisi serupa juga terlihat pada pasar saham dan valuta asing domestik.
"Untuk sementara, rupiah, IHSG, maupun emas masih berpeluang bergerak dalam rentang yang terbatas atau sideways, setidaknya selama sentimen baru belum muncul di pasar," pungkas Gunawan. (id09)



























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda