Jembatan Darurat Mbarung Putus, Pelajar Kesulitan Sekolah


KUTACANE (Waspada.id): Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dinilai belum merespons permintaan warga terkait penyediaan angkutan bagi pelajar pasca putusnya jembatan darurat Mbarung.
Akibatnya, siswa SD, SMP, dan SMA dari seberang yang bersekolah ke arah Mbarung dan Kota Kutacane terkendala. Mereka harus memutar jauh melalui Jembatan Silayakh dengan minimnya transportasi.
"Anak-anak sekolah sangat terkendala. Jaraknya jauh dan tidak ada transportasi," kata warga Kemukiman Biak Mbelang dan Desa Datuk Sutan Alas.
Bagi orang tua yang mampu, anak tetap dapat bersekolah meski harus memutar. Namun, bagi keluarga kurang mampu, anak terpaksa sering tidak masuk sekolah.
"Kami orang miskin, anak jadi jarang masuk sekolah karena jauh dan minim angkutan umum," ujar Gani, 56, warga setempat kepada Waspada.id, Selasa (13/10), saat diwawancarai.
Warga mengaku kecewa karena belum ada respons dari pemkab soal penyediaan angkutan gratis bagi siswa. Mereka berharap Pemkab, Polri, TNI, dan Forkopimda dapat bahu-membahu membantu warga seberang.
Jalan darurat Mbarung putus total akibat banjir luapan Sungai Alas pada Minggu (26/9). Banjir tersebut juga membuat akses menuju Kecamatan Lawe Alas terisolir.
Sebelumnya, jalan darurat tersebut dibangun secara swadaya oleh pemkab bersama masyarakat untuk menghubungkan Mbarung, Kecamatan Babussalam, dengan Kecamatan Lawe Alas.
Tingginya debit Sungai Alas akibat hujan lebat membuat jalan yang sebelumnya dapat dilalui kendaraan roda dua hingga roda empat lenyap tersapu arus.
Hingga berita ini diturunkan, Jembatan Darurat Mbarung belum diperbaiki dan Bupati Aceh Tenggara belum berhasil dikonfirmasi.(id80)
Berita Terkait



















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda