Breaking News
Memuat breaking news...

Jurnalis Senior Asyari Usman Ingatkan Integritas sebagai Kunci Kemerdekaan Pers

Redaksi
Redaksi
Sabtu, 10 Oktober 2026 - 4.10 PM WIB
Jurnalis Senior Asyari Usman Ingatkan Integritas sebagai Kunci Kemerdekaan Pers
Jurnalis Senior Asyari Usman dalam acara Ngobrol Pintar Berkualitas, yang diselenggarakan IMO Sumatera Utara, di Mie Ayam Jamur H. Mahmud, Jalan Abdullah Lubis, Medan, Jumat (9/10/2026).Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

MEDAN (Waspada.id): Di tengah derasnya arus informasi dan menjamurnya media daring, semangat menjaga kemurnian jurnalistik kembali digaungkan. Jurnalis senior sekaligus mantan Produser BBC London Siaran Indonesia, Asyari Usman, mengingatkan seluruh insan pers dan perusahaan media untuk tak pernah melupakan pilar utama profesi ini: Integritas.

Pesan mendalam itu disampaikan Asyari dalam acara Ngobrol Pintar Berkualitas, yang diselenggarakan oleh Ikatan Media Online (IMO) Sumatera Utara, di Mie Ayam Jamur H. Mahmud, Jalan Abdullah Lubis, Medan, Jumat (9/10/2026).

Suasana akrab berbalut dalam diskusi hangat menjadi wadah berbagi pengalaman dan pandangan bagi para pemilik serta pengelola media di Tanah Deli.

"Wartawan mesti berpegang teguh pada Kode Etik Jurnalistik," tegas Asyari, yang kini juga menjabat sebagai Penasihat Jaringan Jurnalis Investigasi Sumatera (JJIS).

Menurutnya, kepatuhan terhadap Kode Etik bukan sekadar anjuran, melainkan keharusan mutlak. Dengan memegang teguh pedoman tersebut, seorang jurnalis akan terbebas dari tekanan pihak luar, menolak suap maupun gratifikasi, dan menjauhkan diri dari kepentingan politik yang dapat membelokkan kebenaran.

Asyari menegaskan: jurnalis dilarang menerima imbalan apa pun di luar gaji atau honor resmi yang ditetapkan oleh tempatnya bekerja.

Tak hanya pada jurnalis, tanggung jawab ketat juga ditujukan kepada perusahaan media dan jajaran redaksi. Akurasi berita serta verifikasi harus menjadi mata utama setiap karya jurnalistik.

"Melakukan uji informasi secara ketat, menyajikan fakta apa adanya, serta memisahkan antara fakta dan opini," pesan Asyari yang telah berkiprah di dunia pers lebih dari dua dekade, termasuk pernah lama bertugas di London.

Ia juga menekankan pentingnya kemerdekaan ruang redaksi. Pemilik media wajib menjaga ruang berita agar bebas dari intervensi kepentingan pemodal, iklan, maupun tekanan politik.

Menyikapi menjamurnya media daring yang masih sulit bertumbuh dan berkembang, Asyari menyarankan agar sejumlah media saling mempertimbangkan langkah penggabungan atau merger. Dengan bergabung, maka modal dan sumber daya manusia dapat diperkuat, sehingga kualitas jurnalistik yang dihasilkan pun semakin terjamin.

Sementara itu, jurnalis senior sekaligus Ahli Pers di Sumatera Utara, Nurhalim Tanjung, menegaskan bahwa media memikul tanggung jawab besar kepada masyarakat. Media tak boleh sekadar mengejar jumlah klik atau sensasi yang menyesatkan. Produk jurnalistik haruslah yang mencerdaskan publik, bukan memanipulasi kebenaran demi keuntungan sesaat.

Nurhalim juga menyoroti kesejahteraan dan kompetensi wartawan sebagai kunci penguatan pers. "Memberikan upah yang layak agar wartawan tidak rentan terhadap suap, serta mendukung sertifikasi melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW)," ujarnya.

Mekanisme koreksi yang transparan juga wajib dimiliki setiap media — menyediakan ruang bagi Hak Jawab, Hak Koreksi, serta pencabutan berita keliru disertai permohonan maaf secara terbuka.

Menanggapi keluhan salah satu peserta yang merasa sulit memperoleh sertifikasi Dewan Pers, Nurhalim menegaskan bahwa persyaratannya sudah sangat jelas. Misalnya, jabatan Pemimpin Redaksi wajib diisi wartawan dengan kompetensi jenjang Utama, dan redaktur dengan kompetensi Madya. Penempatan yang tidak sesuai standar tentu akan ditolak.

Pesan serupa juga disampaikan oleh wartawan senior Azrin Maridha. Ia mengingatkan agar kemitraan media dengan instansi pemerintah maupun perusahaan tertentu tidak sampai menggerogoti kemandirian berita.

"Jangan kemudian media menjadi tidak independen hanya karena melakukan kerjasama dengan lembaga atau perusahaan tertentu," tegas Azrin.

Acara yang dibuka oleh Ketua IMO Sumut, A Nuar Erde, dan dimoderatori Harun Al Rasyid ini menjadi pengingat berharga: di tengah derasnya perubahan zaman, kepercayaan masyarakat adalah modal terbesar yang harus dijaga bersama. Dan kepercayaan itu lahir dari kebenaran, keberimbangan, dan kemandirian pers yang tak pernah berkompromi. (wsp.id)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement