Breaking News
Memuat breaking news...

Kabut Asap Selimuti Tarutung, Dinkes Taput Pantau Kasus ISPA

Redaksi
Redaksi
Rabu, 14 Oktober 2026 - 3.54 PM WIB
Kabut Asap Selimuti Tarutung, Dinkes Taput Pantau Kasus ISPA
Kabut asap menyelimuti Kota Tarutung, Rabu (14/10). Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

TAPUT (Waspada.id): Kabut asap yang menyelimuti Kota Tarutung dan sejumlah kawasan di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) dalam sepekan terakhir memicu kekhawatiran terhadap dampaknya bagi kesehatan masyarakat.

Di tengah kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Taput memastikan belum ditemukan lonjakan signifikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarutung yang dapat dikaitkan langsung dengan kabut asap. Meski demikian, pemantauan terhadap kondisi kesehatan masyarakat terus dilakukan sebagai langkah antisipasi.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Taput, dr. H. Ganda Nainggolan, mengatakan peningkatan jumlah pasien yang ramai diperbincangkan di media sosial tidak berkaitan dengan kasus ISPA di RSUD Tarutung.

“Untuk data sementara, lonjakan pasien di RSUD Tarutung bukan akibat terserang ISPA. Justru di RSU swasta Sint Lucia ada peningkatan pasien ISPA,” ujar Ganda saat dikonfirmasi, Rabu (14/10).

Ia mengatakan, data lebih rinci masih diperlukan untuk memastikan perkembangan kasus ISPA, khususnya di tengah kondisi udara yang diselimuti kabut asap.

Kabut yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera tersebut membuat langit Tarutung dan kawasan Rura Silindung tampak kurang jernih. Kondisi ini menjadi perhatian karena paparan asap berpotensi mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, serta warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.

Siapkan Ribuan Masker

Untuk mengantisipasi dampak kabut asap, Dinas Kesehatan Taput telah mengeluarkan surat edaran kepada puskesmas sejak 9 September lalu. Petugas kesehatan diminta meningkatkan pemantauan terhadap kondisi masyarakat di wilayah kerja masing-masing.

Warga yang mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, dan iritasi mata perlu mendapat perhatian agar gangguan kesehatan dapat segera ditangani.

Ganda menyebutkan, Dinas Kesehatan Taput saat ini memiliki persediaan sekitar 5.000 masker. Namun, pendistribusiannya akan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi wilayah yang dinilai paling membutuhkan.

“Kita lihat dulu nanti daerah mana atau siapa yang prioritas untuk nantinya diberikan masker,” katanya.

Selain mengandalkan persediaan yang tersedia, pihaknya juga telah mengajukan permohonan bantuan masker kepada Kementerian Kesehatan untuk memperkuat upaya pencegahan di tengah kondisi kabut asap.

Kualitas Udara Belum Terukur

Di tengah upaya antisipasi tersebut, Taput masih menghadapi kendala untuk mengetahui tingkat pencemaran udara secara pasti. Hingga kini, alat pengukur kualitas udara belum tersedia berdasarkan informasi yang diterima Dinas Kesehatan dari Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim Lindup).

“Kita sudah tanyakan, ternyata tidak ada alat mengukur level pencemaran udara. Kita follow up ke Kemenkes,” ungkap Ganda.

Ia menyebutkan, berdasarkan komunikasi yang dilakukan, perhatian Kementerian Kesehatan juga tertuju pada penanganan dampak karhutla di wilayah Kalimantan yang dilaporkan mengalami kondisi jarak pandang sangat buruk.

Ketiadaan alat pengukur kualitas udara membuat tingkat pencemaran di Taput belum dapat diketahui secara objektif. Karena itu, pemantauan kasus gangguan pernapasan dan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan menjadi penting untuk mengantisipasi kemungkinan memburuknya kondisi.

Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat tetap waspada selama kabut asap masih menyelimuti wilayah Taput, terutama dengan mengurangi paparan asap dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau keluhan pernapasan yang memburuk. (id31)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement