Breaking News
Memuat breaking news...

Kadin Sumut Sebut Bus Rapid Transit Mebidang Dorong Produktivitas Industri dan Pertumbuhan Ekonomi

Redaksi
Redaksi
Rabu, 19 Agustus 2026 - 9.47 PM WIB
Kadin Sumut Sebut Bus Rapid Transit Mebidang Dorong Produktivitas Industri dan Pertumbuhan Ekonomi
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN: ( Waspada.id); Peluncuran operasional uji coba Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang berbasis bus listrik oleh Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, disambut hangat oleh dunia usaha. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatera Utara, Firsal Dida Mutyara, menilai kehadiran layanan transportasi publik modern yang melayani rute Medan–Binjai (Koridor I) dan Medan–Lubuk Pakam (Koridor II) ini merupakan investasi jangka panjang strategis yang akan memicu produktivitas industri pengolahan, memangkas biaya hidup pekerja, serta mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara.

Kadin Sumut menyoroti bahwa masalah klasik kemacetan lalu lintas di kawasan metropolitan Medan, Binjai, dan Deli Serdang (Mebidang) selama ini telah membebani efisiensi operasional industri dan menurunkan kualitas hidup tenaga kerja. Menurut data TomTom Traffic Index, tingkat kemacetan di Kota Medan telah menyentuh angka 54,02 persen.

Kemacetan parah ini mengakibatkan waktu tempuh perjalanan membengkak drastis, sehingga para pekerja kerap tiba di lokasi kerja dalam kondisi lelah secara fisik maupun psikis.

Kadin Sumut menyusun kalkulasi penghematan keuangan yang akan dirasakan langsung oleh ribuan tenaga kerja di Sumatera Utara. Selama masa uji coba yang berlangsung hingga Desember 2026, layanan bus listrik ini disediakan secara gratis. Ini berarti pengeluaran bulanan transportasi kerja buruh pabrik bernilai nol rupiah.

Ketika nantinya beroperasi secara penuh, tarif flat murah sebesar Rp4.300 sekali jalan akan menjadi jaminan efisiensi finansial yang besar. Sebagai ilustrasi, jika seorang pekerja pabrik menempuh perjalanan pulang-pergi (PP) selama 25 hari kerja dalam sebulan, estimasi total biaya transportasi yang dikeluarkan hanya sebesar Rp215.000 per bulan (Rp8.600 per hari).

"Kalkulasi ini menunjukkan penghematan pengeluaran yang luar biasa bagi buruh pabrik. Selisih biaya tersebut dapat dialokasikan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga lainnya, yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan pekerja," terang Firsal Dida Mutyara. Lebih lanjut, rencana integrasi sistem pembayaran penuh pada tahun 2027—di mana penumpang hanya perlu membayar sekali meskipun harus berpindah koridor—akan sepenuhnya membebaskan pekerja dari beban tarif ganda yang kerap dialami saat menggunakan angkutan umum konvensional.

Salah satu terobosan paling konkret dari operasional BRT ini adalah terbukanya peluang bagi sektor industri pengolahan untuk menerapkan pola tiga shift kerja secara penuh (24 jam). Layanan BRT Mebidang dikelola dengan skema Buy The Service (BTS), yang membebaskan pengemudi dari tekanan mengejar setoran penumpang. Pengemudi dapat sepenuhnya berfokus pada ketepatan waktu, keselamatan, dan kenyamanan perjalanan.

Dengan bus listrik ini juga tingkat keamanan pekerja menjadi lebih terjaga dari ancaman begal, jelas Firsal. Sebab selama ini ketakutan warga Ketika sudah berkendara apalagi dengan sepedamotor di atas jam 10.00 malam adalah begal dan ini yang sangat dihindari oleh pekerja, sehingga mereka yang shift malam akan ketakutan untuk pulang pergi kerja.

Kondisi perjalanan bus listrik yang senyap, aman, tenang, dan nyaman ini menjadi fondasi penting bagi stamina dan psikologis pekerja. Pekerja dapat berangkat dan pulang kerja pada shift malam maupun dini hari tanpa rasa cemas, berkat jaminan keselamatan layanan bus modern ini. Menurutnya, operasional bus ini akan beroperasi full 24 jam.

“Saat ini kita lihat occupancy bus mencapai 85 persen dan kalau kita cari pembandingnya dengan moda transportasi lain seperti sepedamotor yang bisa cepat sampai tujuan, sepertinya sudah tidak relevan. Ada perubahan gaya hidup dan mindset warga Medan sekitarnya sehingga lebih memilih bus. Kalua soal cepat sampai tujuan, pasti mereka pilih sepedamotor. Maka ini kita sebut new paradigm. Paradigma baru dan cara berfikir yang berubah sehingga lebih memilih transportasi massal,” ungkapnya.

“Selain itu, kehadiran operasional bus ini akan meramaikan kota. Begini, semakin ramai satu kota tingkat kriminalitasnya semakin rendah. Itu harapan kita. Kemudian bus ini bisa membawa yang bekerja shift malam dan juga yang akan pulang dinihari atau pagi hari. Bahkan jika memungkinkan bus yang pagi mengantar anak sekolah bisa menggratiskannya,” kata dia.

“Artinya beban orang tua untuk ongkos transport anak bisa dikurangi. Jadi bisa kita sinkronkan mana yang bisa disubsidi untuk orang tua yang sebagian pekerja. Anak mereka biaya transportnya gratis, di sekolah anak-anak makan gratis, fasilias kesehatannya disubsidi BPJS. Jadi mana yang bisa kita kasi gratis kita berikan peluang itu kepada masyarakat,” jelas Firsal Dida Mutyara.

Kadin Sumut juga memberikan rekomendasi taktis agar dampak positif ini dirasakan maksimal oleh industri: titik-titik pemberhentian bus harus ditempatkan sangat dekat dengan kawasan pemukiman padat pekerja serta gerbang lokasi kawasan industri. Dari total 121 titik pemberhentian baru—yakni 68 halte pada rute Teladan–Terminal Lubuk Pakam (Koridor I) dan 53 halte pada rute Simpang Barat–Binjai (Koridor II)—prioritas penempatan harus didekatkan pada sentra-sentra pabrik di kawasan Tanjung Morawa, rute Binjai, serta area industri padat karya lainnya.

Menurut Firsal, kedekatan akses fisik ini sangat vital agar pekerja tidak perlu lagi mengeluarkan biaya tambahan atau berjalan kaki terlalu jauh dari rumah atau pabrik menuju halte.

Peningkatan produktivitas tenaga kerja dan optimalisasi operasional pabrik melalui tiga shift dipercaya akan langsung menyuntikkan stimulus kuat pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah. Saat ini, perekonomian Sumatera Utara berada dalam tren pertumbuhan yang sangat tangguh di tengah gejolak perlambatan ekonomi global.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, perekonomian Sumut pada Triwulan II-2026 tumbuh sebesar 5,06 persen secara tahunan (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 4,98 persen. Sektor industri pengolahan sendiri menunjukkan geliat positif dengan pertumbuhan yang meningkat dari 1,53 persen menjadi 1,96 persen, sejalan dengan penguatan ekspor CPO dan perbaikan infrastruktur konektivitas kawasan industri.

"Kadin Sumut optimis, dengan bertambahnya armada bus secara bertahap hingga mencapai 30 bus listrik pada 8 Desember 2026 mendatang, efisiensi waktu tempuh dan mobilitas pekerja akan melonjak tinggi. Hal ini akan mendukung proyeksi Bank Indonesia yang memprakirakan pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara sepanjang tahun 2026 mampu menembus kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen. Kita optimis kontribusi sektor industri pengolahan dapat menjadi lokomotif utama untuk mencapai batas atas proyeksi pertumbuhan tersebut," tegas Firsal.

Melalui sinergi integrasi transportasi metropolitan Mebidang ini, Kadin Sumut mendorong seluruh pelaku industri dan pemerintah daerah untuk bersama-sama mengesampingkan ego sektoral demi membangun ekosistem industri Sumatera Utara yang modern, efisien, ramah lingkungan, dan berdaya saing tinggi.(id12)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement