Breaking News
Memuat breaking news...

Kadin Usul 3 Langkah Perkuat Perdagangan Antarnegara BRICS

Redaksi
Redaksi
Minggu, 13 September 2026 - 10.59 AM WIB
Kadin Usul 3 Langkah Perkuat Perdagangan Antarnegara BRICS
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengusulkan tiga langkah strategis untuk memperkuat perdagangan barang dan jasa antarnegara anggota BRICS. Usulan tersebut diarahkan untuk memperlancar mobilitas pelaku usaha, memperkuat sistem pembayaran lintas batas, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan infrastruktur perdagangan jasa.

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyampaikan usulan itu dalam BRICS Business Forum 2026 di New Delhi, India, Jumat (11/9/2026), dikutip dari Antara, Sabtu (12/9/2026).

Tiga langkah yang ditawarkan Kadin meliputi kemudahan mobilitas perusahaan dan tenaga profesional, penguatan konektivitas sistem pembayaran antarnegara, serta peningkatan investasi pada sumber daya manusia dan infrastruktur perdagangan jasa.

1. Permudah Mobilitas Perusahaan dan Tenaga Profesional

Pada langkah pertama, Anindya mendorong BRICS mempermudah mobilitas perusahaan dan tenaga profesional lintas negara. Menurut dia, BRICS Business Council perlu mengidentifikasi hambatan konkret yang dihadapi dunia usaha dan menyampaikan usulan penyelesaian secara spesifik kepada pemerintah masing-masing negara.

Pengakuan bersama terhadap kualifikasi profesi tertentu dan kemudahan perjalanan bisnis dinilai dapat mempercepat transaksi serta investasi antarnegara anggota.

Anindya juga mengusulkan pengembangan BRICS Business Travel Card untuk mendukung mobilitas pelaku usaha di lingkungan BRICS.

2. Perkuat Sistem Pembayaran Lintas Batas

Langkah kedua adalah menghubungkan dan memperkuat sistem pembayaran antarnegara, khususnya pembayaran digital.

Anindya menilai India, Brasil, dan China telah menunjukkan besarnya potensi sistem pembayaran waktu nyata. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan sistem tersebut dapat saling terhubung dan digunakan secara efisien untuk transaksi lintas batas.

BRICS, menurut dia, juga perlu memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan, dengan tetap menjaga keamanan data dan stabilitas sistem keuangan.

"Kedaulatan finansial tidak harus berarti isolasi finansial," kata Anindya yang juga Ketua BRICS Business Council Indonesia.

Usulan tersebut sejalan dengan pembahasan BRICS Business Forum mengenai konektivitas sistem pembayaran, peningkatan transaksi menggunakan mata uang lokal, serta pembangunan mekanisme pembayaran lintas batas yang cepat, murah, dan aman.

3. Tingkatkan Investasi SDM dan Infrastruktur

Pada langkah ketiga, Anindya mendorong negara-negara BRICS meningkatkan investasi pada sumber daya manusia dan infrastruktur yang menopang perdagangan jasa.

Dunia usaha, kata dia, perlu memperkuat pelatihan pekerja, membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi, serta membantu perusahaan, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI).

Anindya mengusulkan agar setiap cabang BRICS Business Council memiliki target terukur mengenai jumlah tenaga kerja yang dilatih setiap tahun.

Ia juga menilai New Development Bank dapat mengambil peran dalam pembiayaan jaringan digital, pelatihan, dan pembangunan infrastruktur pendukung perdagangan jasa.

Indonesia Diminta Tak Sekadar Jadi Pasar

Anindya menegaskan negara anggota baru seperti Indonesia harus ikut menentukan agenda BRICS, bukan sekadar menjadi pasar bagi produk dan perusahaan dari negara-negara yang lebih dahulu bergabung.

Menurut dia, setiap kemitraan perlu membangun kemampuan domestik agar masyarakat di seluruh negara anggota dapat berperan sebagai penyedia sekaligus pengguna jasa.

Ia menggambarkan integrasi BRICS yang nyata sebagai ekosistem ketika pelaku usaha mikro dan kecil di Surabaya, Sao Paulo, Durban, hingga Alexandria dapat menemukan pelanggan, menawarkan jasa, serta menerima pembayaran melalui jaringan ekonomi BRICS.

"Itulah ujian bagi integrasi BRICS yang benar-benar bermakna," katanya.

Dalam forum yang juga dihadiri Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian tersebut, Anindya menegaskan Indonesia tidak ingin sekadar menjadi pasar baru, tetapi juga ikut membentuk arah kerja sama ekonomi BRICS.

Ia mengatakan Indonesia kini memiliki cabang yang aktif dalam BRICS Business Council sehingga dapat ikut mendorong agenda perdagangan, investasi, industri, teknologi, dan jasa di antara negara-negara anggota.

"Kami sangat senang dan merasa terhormat bahwa Indonesia telah bergabung dengan keluarga BRICS berkat Presiden Prabowo. Indonesia sekarang memiliki chapter yang sangat aktif dalam BRICS Business Council," kata Anindya. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement