Kajari Poso Yos A Tarigan: Jaksa Bermartabat Dimulai dari Adab, Etika, dan Kepekaan HatiKajari Poso Yos A Tarigan: Jaksa Bermartabat Dimulai dari Adab, Etika, dan Kepekaan Hati

TENTENA (Waspada.id): Jarak tempuh sekitar 58 kilometer yang memisahkan Kota Poso dan Tentena tidak menjadi penghalang bagi Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Poso, Yos A. Tarigan, S.H., M.H., M.IKom., untuk hadir langsung pada Senin (10/8/26).
Perjalanan darat selama satu jam tiga puluh menit tersebut ditempuh demi sebuah misi khusus. Bukan sekadar pengawasan rutin, melainkan wujud kerinduan mendalam untuk bertatap muka sekaligus memberikan dukungan moril secara langsung kepada seluruh personel di wilayah cabang.
Tepat pukul 07.30 Waktu Indonesia Tengah, Kajari Poso sudah berdiri tegap di barisan depan sebagai Pembina Apel Senin Pagi. Suasana khidmat langsung menyelimuti halaman kantor Cabang Kejaksaan Negeri yang terletak di Jalan Setia Budi, Kelurahan Sangele, Kecamatan Pamona Puselemba.
Di hadapan Kajari, berbaris rapi Kepala Cabang Kejaksaan Negeri Tentena Rahman Sandy Ela Sabtu, S.H., Kasi Intel Kendar Sudaryana, S.H., M.H., Kasi Pidsus Zuhri Eko Pribadi, S.H., dan Kasi Datun Reza Torio Kamba, S.H. Hadir pula para Kasubsi, Kaurbin, Jaksa Fungsional, seluruh pegawai, hingga jajaran PPNPN yang menyimak setiap arahan dengan seksama.
Memasuki paruh kedua tahun anggaran 2026, Yos A. Tarigan memanfaatkan momen ini untuk memberikan evaluasi mendalam demi memacu kembali ritme kerja yang sempat menurun. Ia mengawali arahannya dengan sebuah catatan penting terkait performa administrasi digital.
Capaian rapor digital kepegawaian internal sebenarnya sudah bagus karena hampir mencapai 90 persen. Namun, institusi harus jujur melihat beberapa catatan mengapa angka ini belum menyentuh seratus persen. Catatan khusus yang menjadi perhatian adalah perlunya optimalisasi berkala pada aplikasi MySIMKARI serta percepatan pemenuhan target harian MyKinerja pegawai agar target maksimal institusi dapat segera terwujud. Kesempurnaan administrasi tersebut dinilai sebagai cerminan profesionalisme yang nyata.
Satu per satu lini bidang pun mendapatkan suntikan instruksi strategis secara menyeluruh. Pada Bidang Pembinaan, jajaran diminta bergerak cepat mengeksekusi anggaran baru yang turun demi mendongkrak serapan Kuartal Tiga yang saat ini masih dinilai rendah.
Sementara itu, Bidang Intelijen ditekankan untuk menggencarkan deteksi dini wilayah dan memaksimalkan program penyuluhan hukum kepada masyarakat.
Untuk Bidang Pidum, Kajari mewajibkan penuntasan tunggakan berkas tahap satu dan tahap dua dalam minggu ini sekaligus menghidupkan kembali peran Rumah Restorative Justice. Di sisi lain, Bidang Pidsus didorong untuk mempercepat penanganan kasus korupsi dengan fokus utama pada penyelamatan serta penyitaan aset negara.
Tak kalah penting, Bidang Datun diperintahkan untuk lebih aktif menjemput bola dalam mendampingi hukum pemerintah daerah hingga ke tingkat desa. Instruksi khusus juga diberikan kepada Bidang Aset dan Barang Bukti agar segera bersiap menghadapi lelang serentak nasional, mengidentifikasi barang bukti perkara Pidum maupun Pidsus dengan rapi, serta mengeksekusi perkara yang telah berkekuatan hukum tetap atau inkracht.
Di balik ketegasan instruksi tersebut, suasana apel menyentuh sisi humanis ketika Kajari Poso berbicara tentang esensi sebagai aparat penegak hukum. Bagi Yos A. Tarigan, performa bukan sekadar angka di aplikasi, melainkan soal integritas, etika, dan adab.
Ia berpesan khusus kepada para jaksa baru agar tidak menjaga jarak, melainkan harus mampu membaur dan peka terhadap dinamika masyarakat sekitar. Seluruh pegawai dituntut untuk terus berkinerja, melahirkan inovasi, dan mengukir legacy atau warisan kebaikan yang dimulai dari perubahan kecil pada diri sendiri.
Perubahan tersebut mencakup penampilan yang rapi serta perilaku yang penuh sopan santun kepada siapa pun karena hal itulah yang menjadi pondasi dari seorang jaksa yang bermartabat.
Menutup amanatnya, Kajari menitipkan tiga pesan pemungkas yang wajib dipatuhi. Pesan pertama adalah menghentikan penundaan input data CMS karena administrasi adalah sejarah institusi. Pesan kedua berupa perintah untuk memangkas birokrasi meja demi mengoptimalkan pelayanan bagi warga Tentena. Pesan ketiga adalah imbauan agar selalu bekerja menggunakan hati dan empati karena berkas yang ditunda menyangkut nasib hidup manusia, sehingga pegawai dilarang bekerja seperti robot.
Sentuhan semangat dari perjalanan melintasi kabupaten itu ditutup dengan sebaris kalimat komitmen yang membakar rindu menjadi aksi nyata. Dipimpin oleh Pembina Apel, seluruh jajaran kompak memekikkan yel-yel dengan lantang: "Cabjari Tentena! Kerja Cepat, Pakai Hati!".(rel)





















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda