Breaking News
Memuat breaking news...

Kala Gen Z Menggugat Sejarah: Antusiasme dan Paradoks Kejayaan Samudera Pasai di Stand Pendidikan Aceh Utara

Redaksi
Redaksi
Rabu, 9 September 2026 - 12.43 PM WIB
Kala Gen Z Menggugat Sejarah: Antusiasme dan Paradoks Kejayaan Samudera Pasai di Stand Pendidikan Aceh Utara
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Pemandangan kontras tersaji di arena Pameran Kebudayaan dan Adat Istiadat Aceh Utara. Di saat bilik-bilik pameran lain umumnya dipadati oleh generasi tua dan orang dewasa, stand Kebudayaan Dinas Pendidikan Aceh Utara justru berubah menjadi "lautan" anak muda. Sejak pagi hingga siang hari, stand ini diserbu oleh ratusan pelajar yang merupakan representasi dari generasi Milenial, Gen Z, dan Gen Alfa.

Bukan sekadar melihat-lihat, kedatangan para pelajar ini membawa misi besar: mereka berburu rekam jejak, mencari tahu kemegahan sejarah, dan membongkar nama besar Sultan Malikussaleh serta Ratu Nahrasiyah—dua sosok legendaris yang namanya pernah tersohor hingga ke seantero Asia Tenggara.

Takjub dan Buta Sejarah di Tanah Sendiri

Ada riuh rasa penasaran yang membuncah di dalam stand. Bagi sebagian besar pelajar, informasi yang mereka dapatkan hari itu memicu gelombang takjub sekaligus ironi. Mereka baru menyadari bahwa tanah tempat mereka lahir dan berpijak hari ini—bumi Samudera Pasai—merupakan titik nol penyebaran Islam di Nusantara. Sebuah fakta sejarah yang selama ini seperti "kabur" dan asing dari benak mereka.

"Bagaimana perjuangan sehebat itu bisa dilakukan di era dunia belum memiliki kecanggihan teknologi informasi secanggih sekarang?" bisik putri, salah seorang siswa SMP dengan tatapan heran.

Suasana kian hidup ketika petugas stand dicecar dengan rentetan pertanyaan kritis dan cerdas dari para pelajar. Mereka seolah telah mempersiapkan "peluru" pertanyaan dari rumah. Mulai dari tahun kelahiran dan wafatnya Sultan Malikussaleh, rahasia kemajuan pesat di masa kesultanan, durasi masa kejayaan, hingga strategi genius sang sultan menjahit jalur perdagangan dunia di Selat Malaka.

Antusiasme yang meledak-ledak ini bahkan membuat Sukarna, seorang ahli sejarah sekaligus pakar epigrafi yang mampu membaca huruf Arab pada batu nisan peninggalan Pasai, harus mandi keringat. Dengan semangat berapi-api, ia melayani ratusan pertanyaan yang datang bertubi-tubi tanpa henti.

Gugatan Logika: Dari Emas Dirham hingga Paradoks Zaman

Salah satu daya tarik yang memicu perdebatan paling menarik di kalangan siswa adalah sistem ekonomi masa lalu. Ribuan pelajar heran mendapati fakta bahwa 8 abad lalu, Samudera Pasai telah memiliki mata uang mandiri yang terbuat dari dirham dan emas.

Mereka secara kritis membandingkannya dengan realitas hari ini. Sistem moneter modern yang menggunakan uang kertas dinilai tidak memiliki nilai intrinsik pada dirinya sendiri, berbeda dengan koin emas Pasai yang secara alamiah kebal terhadap inflasi. Pemikiran kritis ini menunjukkan bahwa generasi muda hari ini mampu melihat sejarah bukan sekadar hafalan tahun, melainkan sebagai perbandingan kebijakan ruang dan waktu.

Saking terpikatnya dengan narasi masa lalu, beberapa perwakilan pelajar bahkan langsung meminta waktu khusus kepada Muhibuddin, S.Pd, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan setempat agar mereka bisa ditemani langsung untuk mengunjungi Monumen Islam Samudera Pasai dan Museum Sultan Malikussaleh di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera.

Tamparan Jujur untuk Peradaban Modern

Namun, di balik kegembiraan atas tingginya dahaga ilmu pengetahuan generasi muda, sebuah pertanyaan paling menohok lahir dari bibir Alfatih, salah seorang pelajar SMA. Pertanyaan jujur yang menurut Sukarna menjadi pertanyaan paling sulit sekaligus memalukan untuk dijawab.

"Mengapa delapan abad yang lalu Aceh bisa terlihat sangat maju, mandiri, dan mengglobal? Sementara saat ini, ketika dunia sudah melahirkan banyak ilmuwan dan berada di puncak kemajuan teknologi, kita justru seperti mengalami kemunduran dari masa lampau?"

Mendengar gugatan peradaban itu, Sukarna tertegun. Di hadapan kepolosan dan kecerdasan para pelajar, ia terpaksa memberikan jawaban yang parsial—sebuah taktik diplomatis untuk meredam kerumitan sosiologis yang terlalu berat dijabarkan dalam waktu singkat.

Fenomena di stand Dinas Pendidikan Aceh Utara ini menjadi sinyal kuat bagi para pemangku kebijakan. Generasi Gen Z dan Alfa tidak pernah antipati terhadap sejarah bangsa mereka. Mereka hanya butuh ruang untuk bertanya, media yang interaktif untuk melihat, dan narasi yang jujur untuk merenung. Kini, bolanya ada di tangan pemerintah dan instansi pendidikan: apakah energi besar dari para pelajar ini akan difasilitasi menjadi gerakan literasi sejarah yang masif, atau sekadar dibiarkan menguap setelah tenda pameran dibongkar pada perayaan Milad ke 800 tahun Aceh Utara? WASPADA.id

Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement