Breaking News
Memuat breaking news...

Kapolres Pidie Tekankan Bahaya Bullying di Sekolah

Redaksi
Redaksi
Senin, 19 Oktober 2026 - 1.23 PM WIB
Kapolres Pidie Tekankan Bahaya Bullying di Sekolah
Kapolres Pidie AKBP Jaka Mulyana menjadi pembina upacara dalam program Polisi Peduli Pendidikan (POLIDIK) di SMAN 1 Sigli, Senin (19/10/2026). Waspada.id/Ist
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

SIGLI (Waspada.id): Kapolres Pidie AKBP Jaka Mulyana mengingatkan pelajar SMAN 1 Sigli tentang bahaya perundungan (bullying) yang dapat merusak psikologis korban dan mengganggu proses belajar. Pesan itu disampaikan saat menjadi pembina program POLIDIK, Senin (19/10/2026).

Kegiatan Polisi Peduli Pendidikan (POLIDIK) tersebut mengusung tema “Sekolah Aman, Belajar Nyaman dan Prestasi Gemilang".

Program ini menjadi bagian dari upaya Polres Pidie dalam membangun kesadaran pelajar tentang pentingnya kedisiplinan, keamanan, dan pembentukan karakter di lingkungan sekolah.

Di hadapan para siswa dan dewan guru, AKBP Jaka Mulyana mengajak pelajar membangun budaya saling menghormati, menjaga persaudaraan, serta menolak segala bentuk intimidasi dan kekerasan.

Kapolres Pidie Tekankan Bahaya Bullying di Sekolah

Sekolah harus menjadi ruang pendidikan yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa tanpa adanya ancaman atau perlakuan yang merendahkan martabat.

Bullying Bukan Sekadar Candaan

Dalam perspektif psikologi pendidikan, bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara berulang dan melibatkan ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban.

Ketimpangan tersebut dapat berupa kekuatan fisik, status sosial, jumlah kelompok, maupun kemampuan memengaruhi orang lain.
Perundungan dapat berbentuk fisik, verbal, sosial, dan digital (cyberbullying).

Perundungan fisik meliputi tindakan memukul atau mendorong. Perundungan verbal berupa penghinaan, ejekan, ancaman, atau pemberian julukan yang merendahkan.

Sementara itu, perundungan sosial dapat dilakukan melalui pengucilan dan penyebaran rumor untuk merusak hubungan pertemanan.

Adapun cyberbullying terjadi melalui pesan, komentar, unggahan, atau penyebaran konten digital yang bertujuan mempermalukan dan menyakiti orang lain.

Secara akademis, perundungan perlu dibedakan dari konflik biasa antarteman. Konflik umumnya terjadi antara pihak-pihak yang relatif seimbang kekuatannya, sedangkan perundungan melibatkan ketimpangan kekuatan yang membuat korban kesulitan membela diri.

Meski demikian, tindakan kekerasan yang serius tetap perlu ditangani sekalipun belum memenuhi seluruh karakteristik perundungan.

Dampaknya tidak hanya berupa luka fisik. Korban dapat mengalami kecemasan, kehilangan kepercayaan diri, kesulitan berkonsentrasi, penurunan motivasi belajar, hingga keengganan datang ke sekolah.

Jika berlangsung terus-menerus, pengalaman tersebut berpotensi mengganggu perkembangan sosial dan emosional anak.
Dari perspektif pendidikan, perundungan juga dapat merusak iklim belajar.

Siswa yang merasa terancam cenderung kesulitan berkonsentrasi dan berpartisipasi secara optimal dalam kegiatan pembelajaran.

Karena itu, anggapan bahwa perundungan sekadar candaan perlu diluruskan. Penilaiannya tidak cukup berdasarkan niat pelaku untuk bercanda, tetapi juga perlu mempertimbangkan bentuk tindakan, ketimpangan kekuatan, pola perilaku, serta dampaknya terhadap korban.

Pencegahan Membutuhkan Keberanian dan Kepedulian
Pencegahan perundungan tidak cukup dilakukan melalui nasihat atau hukuman setelah kejadian.

Sekolah membutuhkan pendekatan menyeluruh yang melibatkan kepala sekolah, guru, orang tua, peserta didik, dan pihak terkait.

Guru berperan mengenali perubahan perilaku siswa, menindaklanjuti laporan, serta memastikan korban memperoleh perlindungan. Orang tua juga perlu membangun komunikasi terbuka agar anak merasa aman menceritakan pengalaman yang dialaminya.

Sementara itu, siswa perlu memahami bahwa mendiamkan perundungan, ikut menertawakan korban, atau menyebarkan rekaman kejadian dapat memperburuk keadaan.

Pelajar yang menyaksikan perundungan diharapkan tidak ikut mengejek atau mempermalukan korban. Mereka dapat memberikan dukungan dan melaporkan kejadian kepada guru atau pihak sekolah yang berwenang dengan tetap memperhatikan keselamatan diri.

Kapolres Pidie Tekankan Bahaya Bullying di Sekolah

Melalui program POLIDIK, edukasi kepolisian diharapkan dapat memperkuat kesadaran hukum dan tanggung jawab sosial di kalangan pelajar, termasuk keberanian untuk menolak tindakan perundungan.

Selain persoalan perundungan, Kapolres Pidie juga mengingatkan siswa agar menjauhi narkoba dan kenakalan remaja. Para pelajar turut diimbau mematuhi peraturan lalu lintas dan mengutamakan keselamatan ketika berkendara.

Kegiatan tersebut dihadiri Kasat Binmas Polres Pidie AKP Junaidi Sulaiman, S.H., M.H., Kasat Lantas Polres Pidie IPTU Nasril, S.H., KBO Satbinmas Muhammad Ayyub, S.E., personel Polres Pidie, kepala sekolah, dewan guru, serta para siswa dan siswi SMAN 1 Sigli.

Melalui program POLIDIK bertema “Sekolah Aman, Belajar Nyaman dan Prestasi Gemilang”, Polres Pidie berharap sinergi antara kepolisian dan pihak sekolah semakin kuat dalam mencegah perundungan, kekerasan, serta perilaku negatif lainnya.

Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik, tetapi juga oleh kemampuan peserta didik menghargai martabat sesama. Sekolah yang berprestasi bukan sekadar tempat melahirkan siswa dengan nilai tinggi, melainkan juga lingkungan yang memastikan setiap anak dapat belajar tanpa intimidasi, penghinaan, dan rasa takut. (Id69)

Para siswa SMAN 1 Sigli mengikuti kegiatan Polisi Peduli Pendidikan (POLIDIK) yang digelar Polres Pidie, Senin (19/10/2026). Waspada.id/Ist

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement