Karnaval Panyabungan Sukses Meriah, Namun Nilai Penghargaan Dinilai Belum Sebanding PengorbananKarnaval Panyabungan Sukses Meriah, Namun Nilai Penghargaan Dinilai Belum Sebanding Pengorbanan

PANYABUNGAN (Waspada.id): Kemeriahan karnaval dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kota Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat.
Tingginya semangat dan nasionalisme orang tua siswa yang rela mengeluarkan biaya besar dipuji, namun nilai penghargaan yang diberikan pemerintah dinilai belum sebanding dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan, Minggu (16/8/2026).

Ketua LSM Merpati Putih Tabagsel, Khairunnisyah, yang hadir khusus dari Jakarta, mengaku salut dan bangga melihat antusiasme warga serta orang tua siswa dari berbagai jenjang pendidikan mulai PAUD/TK, SD, SMP, SMA, SMK, hingga MA. Mereka dengan ikhlas mengeluarkan biaya jutaan rupiah demi keikutsertaan anak-anak dalam karnaval dan penampilan drum band.
"Rasa nasionalisme orang tua siswa dan masyarakat Mandailing Natal masih tinggi dan belum luntur di usia ke-81 Republik Indonesia. Namun sayang, lain halnya dengan penghargaan yang diberikan pemerintah," ujar Khairunnisyah saat menyaksikan jalannya acara.

Sejalan dengan itu, Sekretaris LSM Genta Madina, Chandra Siregar, menyoroti ketimpangan yang terjadi. Ia menjelaskan, biaya yang dikeluarkan setiap orang tua untuk menyewa pakaian adat saja rata-rata mencapai Rp500.000 per pasang. Belum lagi biaya lain yang sering kali harus dipinjam, hanya untuk mengikuti kegiatan selama enam hingga tujuh jam.
Sementara itu, nilai penghargaan bagi para pemenang lomba karnaval dinilai sangat jauh dari harapan. Untuk kategori PAUD, SMP, SMA, SMK, MA, dan Umum, hadiah berupa satu buah piala yang diperkirakan senilai sekitar Rp150.000 saja.
"Sebagai saran kepada Bupati dan Wakil Bupati Madina untuk HUT ke-82 tahun depan, sebaiknya pola kegiatannya diubah. Misalnya, juara dari tingkat kecamatan dikirim untuk berlomba di tingkat kabupaten dengan penghargaan yang setimpal," usul Chandra.

Menurutnya, pola kegiatan yang monoton dari tahun ke tahun perlu diperbaiki. Kepala Dinas Pendidikan pun diharapkan lebih bijak dalam menyusun model kegiatan karnaval yang melibatkan partisipasi dari setiap kecamatan. Hal ini agar semangat nasionalisme yang sudah tinggi dari masyarakat dan orang tua siswa senantiasa dihargai dengan layak oleh pemerintah daerah. — (id100)

























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda