Breaking News
Memuat breaking news...

Kebutuhan Air Bersih Jadi "Barang Langka" Bagi Pelanggan PDAM Tirta Aceh Tamiang

Redaksi
Redaksi
Kamis, 23 Juli 2026 - 10.39 PM WIB
Kebutuhan Air Bersih Jadi "Barang Langka" Bagi Pelanggan PDAM Tirta Aceh Tamiang
Kebutuhan air bersih menjadi "barang langka" bagi pelanggan PDAM Tirta Aceh Tamiang. (Waspada.id/Ist)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Akhir November 2025 menjadi penanda luka yang sulit dilupakan bagi Aceh Tamiang.

Banjir bandang datang tanpa kompromi—menggulung rumah, merendam seluruhnya, dan meninggalkan jejak kehancuran yang membekas hingga kini.

Lumpur sisa endapan bajir bandang kala itu, tak hanya menutup halaman rumah warga, tetapi juga menyusup ke ruang tamu, bahkan mengendap diseluruh daratan rendah daerah itu.

Bangunan dinding rumah yang terkena terjangan banjir banyak yang retak, bangunan banyak yang roboh, perabotan hanyut, wajah para korban hanya bisa pasrah dengan musibah itu.

Bencana itu tak sekadar merusak fisik wilayah, tetapi juga melumpuhkan denyut kehidupan.

Banyak kawasan porak-poranda, korban jiwa tak terelakkan, kerugian material sulit diukur, terutama bagi masyarakat yang telah kehilangan segalanya.

Di tengah keterpurukan Aceh Tamiang pasca banjir, negara hadir, Presiden Prabowo Subianto turun langsung bersama jajaran kabinet. Alat berat dikerahkan, personel TNI dan Polri bergerak, ratusan pelajar Instutur Pendidikan Dalam Negeri (IPDN) dikirim ke lokasi pasca banjir, bergotong royong membersihkan lumpur dan puing - puing dari sisa - sisa banjir, seluruh negeri turut merasaka penderitaan dialami Aceh Tamiang.

Perlahan, endapan lumpur - lumpur disingkirkan. Jalan-jalan dibuka kembali. Infrastruktur mulai diperbaiki. Harapan pun tumbuh di antara kehancuran.

Namun, di balik geliat pemulihan itu, satu persoalan mendasar masih menghantui. Yakni air bersih.

Bagi masyarakat pelanggan PDAM Tirta Tamiang, mendambakan air bersih merupakan sebuah kebutuhan. Air yang mengalir dari keran jaringan PDAM Tirta Tamiang, tak lagi jernih. Warnanya keruh, kadang bau, dan tak layak dikonsumsi.

Lebih buruk lagi, distribusi jaringan air PDAM tersebut kerap terhenti tanpa kepastian.

Di saat warga berusaha bangkit dari bencana, kebutuhan paling dasar (air bersih) justru menjadi "barang langka" bagi pelanggan PDAM Tirta Tamiang.

Sebagian warga terpaksa bergantung pada sumur tetangga, sebagian lainnya menadah air hujan.

Dalam keterbatasan itu, air berubah menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan setiap hari, bukan lagi hak yang semestinya tersedia.

“Ini tidak bisa dianggap tidak menjadi persoalan. Kebutuhan air bersih itu sangat didambakan semua orang,” ujar Ketua DPC Partai Gerindra Aceh Tamiang, Suprianto, saat berbincang dengan Waspada.id di Manyak Payed, Kamis (23/7/2026).

Nada bicara mantan Ketua DPRK Aceh Tamiang, itu tenang, namun menyiratkan kegelisahan mendalam. Sebagai pelanggan yang turut terdampak, ia merasakan langsung persoalan tersebut.

“Air bersih itu kebutuhan dasar, bukan sekadar layanan tambahan,” tegasnya.

Menurut Suprianto, kesabaran warga sudah cukup panjang sejak bencana berlalu. Ia menilai pemerintah daerah bersama PDAM harus bergerak lebih cepat dan serius dalam menyelesaikan persoalan ini.

Baginya, krisis air bersih bukan hanya persoalan teknis, melainkan menyangkut kelangsungan hidup masyarakat.

Ia mengingatkan, dampak dari krisis ini bisa merembet luas—mulai dari risiko penyakit kulit, diare, hingga menurunnya kualitas hidup warga.

Suprianto memahami bahwa infrastruktur PDAM kemungkinan masih terdampak pascabanjir. Namun menurutnya justru hal itu letak urgensi percepatan rehabilitasi.

“Perlu ada langkah konkret. Pemerintah pusat dan daerah harus mengalokasikan anggaran khusus untuk memperbaiki instalasi pengolahan air dan jaringan pipa yang rusak,” ujarnya.

Ia juga mendorong keterlibatan sektor perusahan - perusahan swasta melalui program tanggung jawab sosial (CSR) untuk membantu penyediaan air bersih bagi masyarakat terdampak.

Sebagai solusi jangka menengah, ia menilai pembangunan sumber air alternatif, seperti penampungan air hujan skala besar perlu segera dipertimbangkan.

Namun lebih dari itu, transparansi menjadi kunci PDAM Tirta Tamiang.

Menurutnya, pihak PDAM Tirta Tamiang, harus bisa terbuka kepada publik, baik terkait kendala yang dihadapi maupun progres perbaikan yang sedang dilakukan.

“Jadwal distribusi harus jelas, agar masyarakat tidak terus hidup dalam ketidakpastian,” sarannya.

Hari ini, Aceh Tamiang memang perlahan bangkit. Jalan-jalan kembali dilalui, rumah mulai diperbaiki, dan aktivitas masyarakat kembali bergerak.

"Pemulihan belum benar-benar selesai, selama air bersih belum mengalir layak ke setiap rumah para pelanggan PDAM, selama itu pula bayang-bayang krisis akan terus menghantui," kata Suprianto mengakhiri.

Sementara itu, Direktur PDAM Tirta Tamiang, Juanda, dikofirmasi Waspada.id melalui pesan WhatsApp, Kamis (23/7/2026), mengatakan PDAM Tirta Tamiang adalah salah satu entitas PAM yang sangat parah rusaknya pasca banjir bandang. Dari instalasi pengolahan airnya, jaringan perpipaan hingga sambungan ke rumah pelanggan.

Juanda mengakui, untuk pelanggan Manyak Payed, Aceh Tamiang, memang belum maksimal pelayanannya, dikarenakan mesin pengolahan air PAM mengalami penurunan kemampuan yang signifikan.

"Jaringan perpipaan banyak yang patah dan bocor. Itu menjadi salah satu faktor air kadang keruh sampai ke pelanggan di Manya Payed. Namun bila ada mesin barang baru untuk mengganti kerusakan, pengelolaan air pasti bisa jernih," terangnya.

Banyaknya fasilitas pendukung pengelolaan air PDAM Tirta Tamiang mengalami kerusakan sangat parah akibat banjir bandang tahun 2025 lalu, tambah Juanda, telah mendapat perhatian dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU), dengan memberikan membantu empat unit Instalasi Pengolahan Air (IPA) kepada PDAM Tirta Tamiang, untuk dibangun baru di wilayah Kecamatan Karang Baru, Kuala Simpang, Rantau dan kecamatan Babo, Aceh Tamiang.

"Kita berharap dengan dibangun barunya empat unit IPA tersebut, yang diperkirakan selesai akhir Desember 2026 ini, bisa normal kembali dalam memberikan pelayanan air bersih kepada pelanggan. Semoga ditahun - tahun yang akan datang, bantuan fasilitas lainnya akan terus bergulir untuk PDAM Tirta Tamiang," ujar Juanda dalam balasan pesan WhatsAppnya.

Sutrisno

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement