Kecupan Sarjani-Rohana, Kisah Mesra HKG PKK Pidie

Ada kalanya sebuah kisah tidak membutuhkan banyak kata untuk menyampaikan makna. Cukup sebuah suapan, sebuah kecupan, lalu tepuk tangan yang pecah menjadi saksi.
Begitulah suasana yang tersaji di Gedung Pidie Convention Center (PCC), Kamis (8/10/2026), saat peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 Kabupaten Pidie berlangsung.
Di tengah suasana resmi, Bupati Pidie H. Sarjani Abdullah SH, MH, menyuapkan kue ketan kepada istrinya, Ny. Hj. Rohana Razali, S. Tp, selaku Ketua TP-PKK Kabupaten Pidie.
Suapan sederhana itu disambut tepuk tangan.
Lalu, seakan belum lengkap cerita tentang rasa, Sarjani memberikan kecupan mesra kepada Rohana.
Tepuk tangan kembali pecah.
Senyum merekah di wajah para hadirin. Suasana yang semula kaku oleh tata acara pemerintahan mendadak mencair. Sejenak, Gedung PCC bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya acara organisasi, tetapi seperti ruang keluarga besar yang sedang menyaksikan sebuah kisah kasih.
Ketan dan Kecupan, Dua Bahasa yang Berbeda
Dalam sebuah ibarat, kue ketan adalah makanan yang melekat. Butir-butirnya seakan enggan tercerai setelah berpadu.
Begitu pula keluarga.
Ibarat akar dan tanah, keduanya saling menguatkan. Ibarat layar dan angin, keduanya saling melengkapi perjalanan.
Suapan ketan dari Sarjani kepada Rohana menjadi tamsilan kecil tentang perhatian dalam rumah tangga.Tidak besar.Tidak mewah.Namun justru dalam hal-hal kecil itulah kasih sering bersemayam.
Kemudian datang sebuah kecupan.Jika suapan adalah bahasa perhatian, maka kecupan menjadi bahasa kasih yang tidak membutuhkan penerjemah.
Ia tidak bersuara, tetapi mampu menyampaikan pesan.
Seperti embun yang jatuh menjelang pagi, diam, tetapi menghadirkan kesejukan.
Ketika Tepuk Tangan Menjadi Saksi.Begitu kecupan itu diberikan, tepuk tangan kembali menggema.
Tangan-tangan para tamu beradu, suara tepuk bersahutan dari berbagai penjuru ruangan.Ada senyum.Ada tawa kecil.
Ada wajah-wajah yang ikut menikmati suasana.
Tepuk tangan itu ibarat ombak kecil yang datang bergulung-gulung, bukan karena sebuah pidato, tetapi karena sebuah momen yang menyentuh sisi manusiawi.
Tidak ada yang direncanakan untuk menjadi puisi.
Namun suasana itu sendiri seperti menulis sebuah bait.
Ketan menjadi pembuka, kecupan menjadi kata, tepuk tangan menjadi tanda baca.
Sebuah cerita pendek yang lahir di tengah perhelatan besar.
Keluarga sebagai Rumah Pertama
Momen tersebut menemukan maknanya ketika disandingkan dengan pesan Bupati Sarjani dalam sambutannya. Ia mengingatkan seluruh jajaran PKK agar terus menjalankan peran sebagai gerakan kemasyarakatan yang memberdayakan perempuan dan keluarga.
Menurutnya, keluarga harus menjadi fokus perhatian karena keluarga merupakan tempat pembelajaran pertama bagi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.
Pesan itu ibarat cahaya yang kembali diarahkan kepada rumah. Sebab sebelum anak mengenal sekolah, ia mengenal rumah.Sebelum mengenal guru, ia mengenal ayah dan ibu.
Sebelum belajar tentang dunia, ia belajar tentang kasih sayang. Maka keluarga ibarat sebuah taman. Jika disiram dengan kasih, dirawat dengan keteladanan dan dipupuk dengan perhatian, ia akan menumbuhkan generasi yang kuat.
Rohana di Balik Gerakan PKK
Sebagai Ketua TP-PKK Kabupaten Pidie, Hj Rohana Razali berada di tengah gerakan pemberdayaan keluarga dan masyarakat.
Berbagai program telah dijalankan, mulai pelatihan leadership Ketua PKK Gampong, pembinaan gampong binaan, penguatan Program Gelari Pelangi, Sosialisasi Keluarga Indonesia Sejahtera, pembinaan UP2K hingga berbagai kegiatan kreativitas dan pemberdayaan keluarga.

Momen mesra Bupati Pidie H. Sarjani Abdullah saat menyuapi Ketua TP-PKK Pidie Ny. Hj. Rohana Sarjani pada peringatan HKG PKK ke-54. Kamis (8/10) Waspada.id/Muhammad Riza
Semua itu bergerak menuju satu muara, keluarga yang lebih berdaya dan sejahtera.
Namun di balik peran tersebut, Rohana tetap seorang istri.
Maka ketika H Sarjani menyuapkan ketan dan memberikan kecupan, momen itu seperti mempertemukan dua sisi kehidupan.
Di satu sisi ada pengabdian. Di sisi lain ada kasih sayang.
Ibarat dua sisi mata uang, keduanya berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan.
Bukan Sekadar Gimik
Bagi sebagian orang, adegan tersebut mungkin hanya sebuah gimik untuk mencairkan suasana.
Namun sebuah tamsilan dapat membuat kita melihat sesuatu dari sudut yang berbeda.
Kecupan itu ibarat tanda koma dalam perjalanan panjang sebuah keluarga, berhenti sejenak untuk saling menguatkan, sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Sebab kehidupan rumah tangga bukan jalan yang selalu lurus.Ada tanjakan.
Ada tikungan.Ada hari yang terang dan ada hari yang mendung.
Karena itu, pasangan hidup bukan hanya teman ketika bahagia, tetapi juga tempat bersandar ketika perjalanan terasa berat.
Ketika Kasih Menjadi Pesan Moral
Pada akhirnya, kecupan Sarjani kepada Rohana bukan sekadar gimik di tengah kemeriahan HKG PKK ke-54. Ia ibarat setetes embun di atas daun pagi, kecil, tetapi membawa kesejukan, sederhana, tetapi menyimpan makna.
Di balik tepuk tangan yang bergemuruh, terselip pesan bahwa keluarga tidak dibangun hanya dengan harta, jabatan, atau kata-kata indah. Keluarga dibangun dengan perhatian, kesetiaan, saling menghargai dan kasih yang dirawat setiap hari.
Sebab rumah tangga ibarat perahu di tengah lautan. Kadang laut tenang, kadang gelombang datang menghantam. Yang membuatnya tetap berlayar bukan karena laut selalu bersahabat, melainkan karena dua insan di dalamnya memilih untuk tetap memegang kemudi bersama.Dan mungkin, di situlah pesan moral dari sebuah kecupan sederhana di panggung PKK.
Bahwa sebelum mengajak keluarga lain menjadi kuat, kita harus belajar menguatkan keluarga sendiri. Sebelum berbicara tentang kasih kepada masyarakat, kasih itu harus terlebih dahulu tumbuh di dalam rumah.
Tepuk tangan akhirnya reda. Lampu panggung perlahan kehilangan gemerlapnya. Namun pesan dari momen itu semoga tetap tinggal.
Kasih yang tulus tak selalu membutuhkan kata-kata.
Kadang cukup dengan sebuah suapan, sebuah kecupan, dan kesediaan untuk tetap berjalan bersama.
Karena keluarga yang dirawat dengan cinta akan melahirkan generasi yang mengenal arti kasih, dan dari keluarga yang kuat, tumbuh masyarakat yang kuat, lalu negeri pun menemukan masa depannya. WASPADA.id
Muhammad Riza



















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda