KEK Kura-Kura Bali Kembangkan Ekosistem AI, Semikonduktor hingga Teknologi Kuantum


JAKARTA (Waspada.id): Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali terus dikembangkan menjadi pusat pendidikan, riset, dan teknologi yang menghubungkan dunia akademik dengan industri. Pemerintah membidik kawasan ini sebagai salah satu hub pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), semikonduktor, riset digital, hingga teknologi kuantum.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari strategi Indonesia untuk memperkuat investasi, mempercepat industrialisasi, dan menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru. Melalui kolaborasi internasional, KEK Kura-Kura Bali diharapkan tidak hanya menjadi tujuan investasi, tetapi juga pusat pengembangan teknologi dan sumber daya manusia.
Arah pengembangan itu menjadi salah satu pembahasan dalam China-Southeast Asia Forum on Higher Education and Industry Cooperation 2026 yang berlangsung di KEK Kura-Kura Bali, Minggu (4/10/2026) lalu.
Forum tersebut mempertemukan pemangku kepentingan dari Indonesia, China, dan negara-negara Asia Tenggara untuk mendorong kerja sama di bidang pendidikan tinggi, industri, inovasi, energi, dan konektivitas regional.
Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Ali Murtopo Simbolon, yang mewakili Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, menegaskan KEK Kura-Kura Bali memiliki posisi strategis dalam pengembangan kolaborasi Indonesia-China di sektor teknologi dan industri.
“Dalam situasi persaingan dan ketidakpastian global, Indonesia menawarkan ruang yang aman bagi pengembangan akademik dan kolaborasi industri. Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA) dapat menjadi jembatan antara Tiongkok, kawasan Asia Tenggara, dan dunia,” kata Ali, mengutip ekon.go.id, Sabtu (10/10/2026).
Menurut Ali, pengembangan kawasan tersebut diarahkan untuk mempertemukan kapasitas akademik, riset, dan industri sehingga menghasilkan kolaborasi yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Investor China Perkuat Ekosistem KEK
Peluang pengembangan KEK Kura-Kura Bali juga didukung oleh meningkatnya keterlibatan investor China dalam kawasan ekonomi khusus di Indonesia.
Saat ini, Indonesia memiliki 25 KEK dengan luas sekitar 23.797,88 hektare. Kawasan-kawasan tersebut telah mencatat investasi kumulatif sekitar US$20,7 miliar, melibatkan 481 badan usaha, dan menciptakan lebih dari 283.000 lapangan kerja.
Pada kuartal II 2026, sebanyak 97 dari 481 tenant KEK atau sekitar 20 persen merupakan perusahaan asal China.
Data tersebut menunjukkan peran investor China dalam ekosistem KEK Indonesia, sekaligus membuka peluang pengembangan kemitraan yang lebih luas di sektor teknologi, industri, dan riset.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa kerja sama investasi ke depan perlu menghasilkan manfaat yang lebih besar daripada sekadar penambahan modal.
Ali menyampaikan, kolaborasi harus diarahkan pada penguatan teknologi, riset, pengembangan sumber daya manusia, dan peningkatan kapasitas industri nasional. Dengan begitu, investasi yang masuk dapat mendorong transfer pengetahuan serta meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Two Countries Twin Parks Jadi Jembatan Industri
Untuk memperkuat kerja sama konkret antara Indonesia dan China, pemerintah turut mendorong platform Two Countries Twin Parks (TCTP).
Platform strategis ini menghubungkan sumber daya, potensi pasar, dan posisi geografis Indonesia dengan kapasitas investasi, teknologi, serta industri China.
Melalui pendekatan tersebut, kedua negara diharapkan dapat mengembangkan proyek-proyek industri yang terintegrasi, memperkuat rantai pasok, dan menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian masing-masing.
Pengembangan kemitraan industri juga diharapkan membuka peluang bagi perusahaan nasional untuk terlibat dalam ekosistem produksi, riset, dan inovasi yang lebih luas.
Investasi KEK Kura-Kura Bali Capai Rp1,8 Triliun
Di tingkat kawasan, aktivitas investasi KEK Kura-Kura Bali juga terus berkembang. Hingga semester I 2026, realisasi investasi kumulatif tercatat mencapai Rp1,8 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 2.173 orang.
Kawasan tersebut juga mencatat 131.657 kunjungan. Capaian ini mencerminkan aktivitas ekonomi yang berkembang sekaligus peluang penciptaan lapangan kerja di Bali.
Selain menarik investasi, KEK Kura-Kura Bali diarahkan untuk membangun ekosistem pendidikan dan riset yang dapat mendukung pengembangan industri berbasis teknologi.
Salah satu institusi yang berperan dalam pengembangan tersebut adalah Tsinghua Southeast Asia Center (TSEA). Pusat kegiatan akademik yang berada di kawasan itu telah menjalankan sejumlah program di bidang fisika dan neurosains serta menginisiasi Semiconductors Forum bersama Tsinghua University.
Ke depan, pengembangan program juga diarahkan pada bidang AI, riset dan pengembangan digital, serta ekonomi digital. Langkah tersebut diharapkan memperkuat hubungan antara kegiatan akademik dan kebutuhan industri, termasuk dalam pengembangan teknologi masa depan.
Forum kerja sama ini turut dihadiri Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, perwakilan pimpinan Tsinghua University, anggota Chinese Academy of Sciences, Konsul Jenderal Republik Rakyat China di Denpasar, serta sejumlah pejabat pendidikan dan perwakilan penyelenggara kerja sama pendidikan China-ASEAN.
Melalui pengembangan riset, pendidikan, dan kemitraan industri, pemerintah berharap KEK Kura-Kura Bali dapat berkembang menjadi salah satu simpul kolaborasi teknologi di Asia Tenggara sekaligus memperkuat daya saing ekonomi Indonesia. (Lip6)



















Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda