Breaking News
Memuat breaking news...

Kemenekraf Gelar Program Creative Recovery for Children: Melukis Bersama Anak-anak di Aceh Tamiang

Redaksi
Redaksi
Minggu, 30 Agustus 2026 - 8.55 PM WIB
Kemenekraf Gelar Program Creative Recovery for Children: Melukis Bersama Anak-anak di Aceh Tamiang
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif melalui Direktorat Seni Rupa dan Seni Pertunjukan menggelar kegiatan melukis Bersama Anak-Anak di Aceh Tamiang. (Waspada.id/Yusri)
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

ACEH TAMIANG (Waspada.id): Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) melalui Direktorat Seni Rupa dan Seni Pertunjukan menggelar program “Creative Recovery for Children, "Melukis Bersama Anak-Anak di Aceh Tamiang".

Program ini merupakan inisiatif trauma healing berbasis seni rupa yang bertujuan untuk memulihkan kondisi psikososial anak-anak terdampak bencana sekaligus memperkenalkan potensi ekonomi kreatif sejak dini. Program ini merupakan langkah nyata Kemenekraf dalam merespons dampak psikologis yang dialami anak-anak pasca bencana banjir bandang hebat yang melanda wilayah tersebut pada tahun 2025.

Bencana banjir bandang tahun 2025 tidak hanya merusak infrastruktur, namun juga meninggalkan trauma mendalam bagi ribuan anak di Aceh. Melalui inisiatif ini, Kemenekraf hadir untuk memberikan dukungan psikososial dengan mengintegrasikan pendekatan seni, pendidikan, dan ekonomi kreatif sebagai bagian dari pemulihan jiwa.

Berdasarkan data tahun 2025, terdapat lebih dari 11.000 anak terdampak bencana di wilayah Aceh. Menanggapi hal tersebut, Kemenekraf mengintegrasikan pendekatan seni, pendidikan, dan ekonomi kreatif sebagai bagian dari Rencana Induk Pasca Banjir (Renduk) wilayah Sumatera.

Dalam keterangannya yang diterima Minggu (30/8/2026), Direktur Kuliner, Romi Astuti, mewakili Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan menekankan bahwa pemulihan pascabencana tidak boleh hanya berfokus pada infrastruktur fisik. “Setelah bencana, yang perlu dipulihkan bukan hanya bangunan, tetapi juga jiwa dan senyum anak-anak kita. Melalui seni, kita menyediakan ‘ruang aman’ bagi mereka untuk mengekspresikan ketakutan, harapan, dan mimpi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata,” ujarnya.

Dsebutkan, program yang berlangsung selama tiga hari (27-29 Agustus 2026) di Kampung Paya Bedi,Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang dalam bentuk bootcamp intensif ini melibatkan 100 peserta yang terdiri dari 50 siswa tingkat SD dan 50 siswa tingkat SMP. Di bawah bimbingan para mentor profesional, seniman lokal, dan psikolog klinis, anak-anak diajak mengikuti berbagai aktivitas kreatif dengan tema “Bangkit dan Harapan Baru”.

Salah satu keunikan dalam kegiatan ini adalah penggunaan pigmen alami yang berasal dari lumpur dan debu sisa bencana sebagai medium lukis. Hal ini merupakan simbolisasi transformasi dari sesuatu yang menyakitkan (bencana) menjadi sebuah karya seni yang indah.

Agatha Anggira Paramita Putri (Gie Sanjaya), Pendiri Kids Biennale Indonesia sekaligus narasumber program, menjelaskan metode yang digunakan menerapkan metode KBI (Observe, Connect, Invite, Guide, Reflect). Fokus utama kami adalah pada proses dan pengalaman anak, bukan sekadar hasil akhir. "Seni di sini berfungsi sebagai jembatan pemulihan jiwa,” ungkapnya.

Karya-karya yang dihasilkan tidak hanya berhenti di ruang pameran. Kemenekraf berkomitmen mengembangkan potensi kreatif anak-anak ini menjadi produk ekonomi kreatif yang bernilai ekonomi, seperti art print, tas, dan berbagai merchandise. Hal ini bagian dari misi Kemenekraf untuk menjadikan kreativitas sebagai mesin penggerak baru, baik untuk pemulihan jiwa maupun ekonomi masyarakat.

Untuk memastikan keamanan psikologis peserta, Kemenekraf juga menggandeng psikolog klinis untuk melakukan asesmen selama kegiatan berlangsung. Hasil asesmen tersebut akan disusun menjadi laporan komprehensif sebagai panduan bagi orang tua dan guru dalam mendampingi pemulihan psikososial anak secara berkelanjutan.

“Kami ingin anak-anak kembali berani bermimpi dan percaya bahwa masa depan mereka tetap berwarna-warni. Kreativitas adalah mesin penggerak baru, bukan hanya untuk ekonomi, tetapi untuk menyembuhkan jiwa,” tutup perwakilan Direktur Kuliner yang hadir mewakili pimpinan Kemenekraf.

Dimana kegiatan penutupan bootcamp akan ditandai dengan penciptaan karya kolektif berupa instalasi umbul-umbul besar hasil karya anak-anak, yang akan dipamerkan dalam pameran lokal di Aceh Tamiang sebelum dibawa ke Pameran Nasional di Jakarta.

Tentang Program Creative Recovery for Children:

Program ini merupakan implementasi Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2026 tentang Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam. Program ini menitikberatkan pada penggunaan seni sebagai media intervensi kreatif yang fleksibel untuk membangun resiliensi anak di wilayah terdampak bencana.(Id76)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement