Breaking News
Memuat breaking news...

Kenaikan Harga Pertamax Ancam Inflasi, Migrasi Ke Pertalite Sulit Dihindari

Redaksi
Redaksi
Rabu, 10 Juni 2026 - 3.57 PM WIB
Kenaikan Harga Pertamax Ancam Inflasi, Migrasi Ke Pertalite Sulit Dihindari
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

MEDAN (Waspada.id): Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026 dinilai tidak hanya berpotensi mendorong inflasi, tetapi juga memicu perubahan perilaku konsumen, mulai dari migrasi penggunaan BBM ke Pertalite hingga kemungkinan pergantian kendaraan ke kapasitas mesin yang lebih kecil.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, kenaikan harga Pertamax kali ini memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan kenaikan BBM nonsubsidi sebelumnya karena jumlah pengguna Pertamax yang relatif lebih banyak dan berasal dari kalangan masyarakat menengah.

"Kenaikan harga Pertamax jelas akan memberikan tekanan terhadap inflasi. Bobot Pertamax dalam pembentukan inflasi lebih besar dibandingkan kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis bensin pada periode sebelumnya karena basis penggunanya lebih luas," ujar Gunawan, Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, kenaikan harga Pertamax berpotensi mendorong inflasi sektor transportasi hingga sekitar 0,31 persen. Sejumlah tarif angkutan dan biaya operasional transportasi diperkirakan akan mengalami penyesuaian sebagai dampak langsung dari kenaikan harga BBM tersebut.

Selain sektor transportasi, dampak lanjutan juga dapat dirasakan pada harga berbagai komoditas pangan. Kenaikan biaya transportasi dan distribusi berpotensi meningkatkan biaya produksi yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen.

"Dengan kenaikan harga yang hampir mencapai Rp4.000 per liter, atau tepatnya Rp3.950 per liter, maka tambahan pengeluaran masyarakat akan cukup signifikan. Hal ini juga berpotensi menekan daya beli kelompok pengguna Pertamax," katanya.

Gunawan menilai salah satu dampak yang perlu mendapat perhatian adalah potensi migrasi pengguna Pertamax ke Pertalite. Meskipun pemerintah telah mengatur penggunaan Pertalite berdasarkan kapasitas mesin kendaraan, peluang peralihan tetap terbuka, terutama pada kendaraan roda dua.

"Di lapangan masih memungkinkan terjadi migrasi dari Pertamax ke Pertalite. Apalagi Pertalite masih banyak dijual secara eceran. Untuk pengguna sepeda motor, potensi peralihannya cukup besar," jelasnya.

Sementara itu, peluang migrasi pada kendaraan roda empat dinilai lebih terbatas karena adanya aturan penerima BBM subsidi yang lebih ketat. Selain itu, faktor performa mesin juga menjadi pertimbangan bagi pemilik kendaraan untuk tetap menggunakan Pertamax.

"Untuk mobil pribadi, ruang migrasinya tidak sebesar kendaraan roda dua. Kalaupun ada upaya membeli Pertalite secara eceran, risikonya cukup tinggi dan tidak mudah dilakukan. Belum lagi pertimbangan menjaga performa kendaraan," ungkap Gunawan.

Lebih lanjut, ia menilai kenaikan harga Pertamax juga dapat memunculkan tren baru berupa peralihan ke kendaraan dengan kapasitas mesin yang lebih kecil agar memenuhi syarat penggunaan Pertalite. Selain itu, kendaraan listrik berpotensi kembali menjadi alternatif yang dilirik masyarakat.

"Pilihan lain yang mungkin muncul adalah masyarakat beralih ke kendaraan dengan kapasitas silinder lebih kecil atau mulai mempertimbangkan kendaraan listrik. Namun keputusan tersebut tentu akan dipengaruhi banyak faktor, termasuk kemungkinan perubahan kebijakan pemerintah di masa mendatang," katanya.

Gunawan menambahkan, dampak penuh dari kenaikan harga Pertamax baru akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan, terutama terkait pola konsumsi BBM masyarakat dan pengaruhnya terhadap inflasi serta daya beli rumah tangga.

"Kita akan melihat bagaimana masyarakat beradaptasi jika harga Pertamax bertahan pada level yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang panjang," pungkasnya. (id09)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement