Kenduri Rakyat Uroe Lahe Pidie, Disdikbud Sediakan Ribuan Apam

SIGLI (Waspada.id): Ribuan apam disediakan untuk masyarakat dalam kenduri rakyat rangkaian Uroe Lahe Pidie ke-515, Rabu (16/9), di bawah Rumah Adat Aceh, Kompleks Gedung Pidie Convention Center (PCC).
Kegiatan Toet Apam yang berlangsung hingga sore hari itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Uroe Lahe Pidie, sekaligus menghidupkan kembali tradisi kuliner dan kebersamaan masyarakat.
Amatan Waspada.id, sejumlah kelompok tampak sibuk memasak apam secara bersama-sama. Masyarakat berdatangan untuk menyaksikan proses pembuatan sekaligus menikmati aneka penganan tradisional yang disediakan dalam kenduri rakyat.
Selain apam, masyarakat juga disuguhi cagruk, penganan tradisional yang dibuat dari sagu. Sajian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali kekayaan kuliner tradisional Pidie kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pidie, Dr. Ismed, M.Pd., mengatakan ribuan apam sengaja disiapkan untuk masyarakat umum sebagai bagian dari kenduri rakyat.
“Ribuan apam kita siapkan untuk masyarakat. Ini kenduri rakyat, sehingga masyarakat bisa datang dan menikmati bersama,” kata Ismed.

Sejumlah warga menikmati sajian apam dalam Kenduri Rakyat rangkaian Uroe Lahe ke-515 Pidie di Kompleks PCC, Rabu (16/9). Waspada.id/Muhammad Riza
Menurutnya, Toet Apam tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga membawa pesan kebersamaan, gotong royong, dan berbagi.
“Apam bukan sekadar makanan. Di dalamnya ada nilai kebersamaan, gotong royong, dan berbagi. Karena itu, kita ingin generasi muda kembali mengenal makanan tradisional dan nilai budaya yang menyertainya,” ujarnya.
Pembuatan apam melibatkan tim dari K3S dan MKKS yang dibagi dalam sembilan kelompok. Mereka bekerja bersama menyiapkan sajian untuk masyarakat hingga sore hari.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari Pentas Seni dan Budaya Pidie yang berlangsung Rabu di PCC. Pada malam harinya, kegiatan seni dan budaya kembali digelar dengan berbagai penampilan.
Sementara Pameran Pembangunan dan Expo UMKM berlangsung 16–19 September di PCC. Kegiatan tersebut melibatkan SKPK, 23 kecamatan, pelaku UMKM, serta komunitas pemerhati budaya dan sejarah.
Meusiraya di Makam Raja Pedir
Rangkaian Uroe Lahe Pidie berlanjut Kamis (17/9) melalui Meusiraya (gotong royong-red) di kawasan makam raja-raja Pedir. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk mengenal dan merawat jejak sejarah Pidie yang tersimpan di kawasan makam kuno.
Salah satu makam yang memiliki nilai sejarah penting adalah makam Sultan Ma’ruf Syah di Gampong Dayah Tanoh Klibeut, Kecamatan Pidie. Makam tersebut berada di atas sebuah bukit buatan yang dikelilingi parit.
Kompleks makam berukuran sekitar 8×4 meter dan terdapat empat kubur dengan batu nisan bercorak Samudra Pasai. Pada salah satu batu nisan terdapat inskripsi Arab yang menyebut nama dan gelar Sultan Ma’ruf Syah.
Inskripsi tersebut mencatat sang sultan wafat pada malam Ahad, 22 Jumadal Akhir 917 Hijriah, atau 14 September 1511 Masehi.
Batu nisan tersebut juga memuat kalimat tauhid, sejumlah ayat Al-Qur’an, serta doa untuk pemilik makam. Di antaranya terdapat doa yang bermakna memohon agar Allah mengampuni dan merahmati pemilik kubur.
Keberadaan makam Sultan Ma’ruf Syah menjadi salah satu penanda penting perjalanan sejarah Pidie pada awal abad ke-16. Situs tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kawasan Pidie memiliki jejak panjang sebagai salah satu pusat kekuasaan dan peradaban Islam di Aceh.
Karena itu, kegiatan Meusiraya di kawasan makam raja Pedir tidak hanya bermakna gotong royong membersihkan dan merawat lingkungan situs sejarah, tetapi juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal kembali sejarah daerahnya.

Para ibu guru bergotong royong melakukan Toet Apam dalam rangkaian Kenduri Rakyat Uroe Lahe ke-515 Pidie di Kompleks PCC, Rabu (16/9). Waspada.id/Muhammad Riza
Selain Meusiraya, rangkaian seni dan budaya juga akan diisi Hikayat Prang Sabi, Meucagok, Buhak (dongeng), Puisi Aceh, Calitra Paneuk, dan Pidatoe Bahasa Aceh. Permainan rakyat seperti Geudeu-Geudeu juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Ismed mengatakan seluruh kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat dengan sejarah, budaya, dan tradisi Pidie.
“Kita ingin Uroe Lahe bukan hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk mengenalkan sejarah dan budaya Pidie kepada anak-anak dan generasi muda,” ujarnya.
Bagi Ismed, merawat sejarah berarti menjaga ingatan kolektif masyarakat. Sebab, di balik makam tua, makanan tradisional, dan permainan rakyat, terdapat cerita panjang tentang perjalanan sebuah daerah dan identitas masyarakatnya. (id69)














Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda