Ketika Pidie Bangun dalam DamaiKetika Pidie Bangun dalam Damai

Suara azan Subuh memecah kesunyian Kota Sigli, Kabupaten Pidie, Sabtu (15/8) pagi. Dari rumah-rumah warga, kaum pria mengenakan pakaian koko putih dan peci, sementara ibu-ibu berbalut mukena melangkah menuju masjid.
Udara pagi masih sejuk. Jalanan tampak lengang. Langkah warga menuju Masjid Agung Al-Falah berlangsung tertib dan tenang.
Pagi itu, sekitar 1.200 tamu undangan dan masyarakat berkumpul di masjid tersebut untuk memperingati Hari Damai Aceh (HDA) ke-21 Tahun 2026 di Kabupaten Pidie.
Dzikir dan doa bersama, pembacaan ayat suci Al-Qur’an serta Salawat Badar yang disampaikan Tgk. Muzamil mengawali rangkaian kegiatan.
Peringatan HDA tahun ini mengusung tema “Pelaksanaan Penyelesaian Konflik Secara Damai, Menyeluruh, Berkelanjutan, dan Bermartabat dalam Kerangka NKRI.”
Suasana khidmat terasa sejak pagi. Peringatan tersebut bukan sekadar mengenang perjalanan perdamaian Aceh selama 21 tahun, tetapi juga menjadi pengingat bahwa perdamaian merupakan tanggung jawab bersama.
Kembali ke Rutinitas
Usai dzikir dan doa, jamaah meninggalkan masjid secara tertib. Sebagian berjalan kaki, sebagian lainnya menggunakan sepeda motor menuju rumah masing-masing.
Pintu-pintu rumah mulai terbuka. Warung dan pertokoan bersiap. Pedagang menata dagangan. Warga kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.
Namun, suasana Kota Sigli pagi itu tampak sedikit berbeda.
Ruas jalan nasional maupun sejumlah jalan protokol terlihat lebih lengang dibandingkan hari-hari biasanya. Kendaraan tetap melintas, tetapi arus lalu lintas belum sepadat biasanya.
Kota Sigli tetap bergerak, hanya saja dalam suasana yang lebih tenang.
Pemandangan sederhana itu menjadi gambaran tentang kehidupan di tengah perdamaian. Warga dapat beribadah, pulang ke rumah, bekerja dan menjalankan rutinitas tanpa rasa takut.
Perdamaian Harga Mati
Dalam sambutannya, Ketua Panitia sekaligus Kepala Kesbangpol Pidie, H. Isnaini, S.T., M.Si., mengajak masyarakat menjadikan peringatan HDA bukan sekadar seremoni tahunan.
Menurutnya, perdamaian harus terus dirawat dan dijaga dari berbagai upaya yang dapat memecah persatuan.
“Perdamaian adalah harga mati. Jangan sampai ada pihak-pihak yang memprovokasi dan merusak kedamaian yang sudah kita bangun bersama selama 21 tahun,” ujarnya.
Ia juga mengajak generasi muda menjadi garda terdepan dalam menjaga perdamaian karena masa depan Aceh berada di tangan generasi muda.

LARUT DALAM DOA DAN ZIKIR: Kapolres Pidie AKBP Jaka Mulyana dan Ketua DPRK Pidie Anwar Sastra Putra khusyuk mengikuti doa dan zikir pada peringatan HDA ke-21 di Masjid Agung Al-Falah, Sigli. Waspada.id/Muhammad Riza
Peringatan HDA ke-21 di Pidie turut dihadiri Wakil Bupati Pidie Alzaizi yang mewakili Bupati Pidie, Ketua DPRK Pidie Anwar Sastra Putra, S.H, Kapolres Pidie AKBP Jaka Mulyana, S.I.K, M.I.K., Kasdim 0102/Pidie Mayor Czi Hendri Anto yang mewakili Dandim 0102/Pidie, Sekda Pidie Drs. Samsul Bahri, unsur Forkopimda, anggota DPRK, para kepala SKPK, camat, keuchik, tokoh agama, tokoh masyarakat, para Ketua KPA/Sagoe serta tamu undangan lainnya.
Peringatan HDA ke-21 juga diisi dengan penyerahan bantuan beasiswa skripsi akhir kepada mahasiswa serta bantuan pemberdayaan bagi pengasuh anak yatim secara simbolis.
Bantuan tersebut menjadi wujud kepedulian pemerintah dan masyarakat dalam membangun Aceh melalui pendidikan dan penguatan sosial.
Sebab, merawat perdamaian bukan hanya menjaga keamanan. Perdamaian juga berarti membuka kesempatan bagi generasi muda untuk menatap masa depan serta memperkuat kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan.
Merpati Putih
Rangkaian kegiatan ditutup dengan pembacaan doa oleh Abiya Iswar dari Pulo Baroh, Kampong Aree.
Setelah doa, sejumlah merpati putih dilepaskan di pelataran Masjid Agung Al-Falah Sigli.
Burung-burung itu terbang ke udara, menjadi simbol perdamaian, harapan dan komitmen bersama untuk menjaga Aceh tetap aman dan damai.
Putihnya merpati yang terbang di langit Sigli seolah membawa pesan bahwa perdamaian yang telah terjaga selama 21 tahun harus terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kapolres Pidie AKBP Jaka Mulyana, S.I.K., M.I.K., mengatakan personel Polres Pidie bersama Kodim 0102/Pidie melaksanakan pengamanan terbuka dan tertutup untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan tertib.
Sebanyak 42 personel Polri Polres Pidie dikerahkan dan dibantu personel TNI. Pengamanan dikendalikan Kabag Ops Polres Pidie AKP Raja Aminuddin Harahap, S.Sos., serta ditempatkan di sejumlah titik, termasuk persimpangan lintasan jalan nasional.
“Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, lancar dan kondusif,” kata Kapolres.
Hasil monitoring juga tidak menemukan pemasangan bendera Bulan Bintang maupun spanduk atau baliho yang bersifat provokatif di lokasi kegiatan.

Menurut Kapolres, menjaga keamanan bukan hanya memastikan kegiatan berjalan lancar, tetapi juga bagian dari upaya bersama merawat perdamaian, memperkuat persatuan dan menjaga Aceh tetap damai dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Damai yang Hidup
Menjelang siang, Kota Sigli kembali menjalankan aktivitas seperti biasa.
Jalan-jalan yang sempat lengang mulai ramai. Pedagang melayani pembeli. Warga bekerja dan menjalankan rutinitas masing-masing.
Masjid Agung Al-Falah pun kembali tenang.
Namun, pesan peringatan HDA ke-21 masih terasa.
Dua puluh satu tahun perdamaian bukan sekadar angka. Di dalamnya ada sejarah, perjalanan panjang dan pengalaman yang menjadi pelajaran bagi generasi hari ini.
Kini masyarakat Aceh dapat beribadah, bekerja, belajar dan menjalani kehidupan sehari-hari dalam suasana aman.
Perdamaian akhirnya tidak hanya hadir dalam seremoni, tetapi terlihat dalam kehidupan warga.
Dari suara azan Subuh yang memanggil warga ke masjid, langkah mereka kembali ke rumah, hingga aktivitas Kota Sigli yang berjalan normal.
Dan ketika merpati putih dilepaskan ke udara, pesan itu kembali ditegaskan:
Damai bukan sekadar sejarah. Damai adalah tanggung jawab yang harus terus dijaga bersama. WASPADA.id
Muhammad Riza
























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda