Ketua DPP-PWA, Maimun Asnawi: Samudera Pasai, Antara Kejayaan Silam dan Kebangkitan yang Tertunda


Di pesisir utara Aceh, sejarah berbisik lewat ombak yang tak pernah berhenti menyentuh daratan. Di tanah yang pernah menjadi mercusuar Islam pertama di Nusantara, Samudera Pasai, kini berdiri pelabuhan Krueng Geukueh yang sunyi. Sejarah mencatat, Sultan Malikussaleh memaksa dunia singgah karena lada dan sutra yang tak tergantikan. Namun hari ini, kapal-kapal raksasa melintas tanpa menoleh, sebab kita tak lagi punya alasan yang membuat mereka berhenti.
Jejak Sejarah dan Siklus Peradaban
Ketua DPP Persatuan Wartawan Aceh (PWA), Maimun Asnawi, S.HI., M.Kom.I, menatap fenomena ini dengan nada reflektif. "Samudera Pasai runtuh 500 tahun silam, ditelan kolonialisme dan perang. Tapi teori siklus peradaban mengajarkan: setiap pusat kejayaan bisa lahir kembali. Selat Malaka tetap jalur terpadat dunia. Aceh tetap pintu gerbang barat Nusantara. Modal sejarah itu tidak pernah hilang," ujarnya.
Maimun mengingatkan, sejarah tidak berulang dalam bentuk yang sama. Jika dulu kejayaan lahir dari lada dan sutra, maka kini kebangkitan harus lahir dari energi, pangan, dan ruang logistik.
Mengapa Pasai Tertinggal, Singapura Menang
Sejarah mencatat, Sultan Malikussaleh memaksa kapal asing singgah karena lada dan sutra yang tak tergantikan. Namun kini, Singapura yang berdiri di titik jepit Selat Malaka menjelma sebagai hub kontainer internasional. Krueng Geukueh terjebak sebagai pelabuhan spoke tanpa hinterland industri.
“Pelabuhan kita kalah dalam efek jaringan. Kapal lebih memilih Singapura karena efisiensi dan infrastruktur. Krueng Geukueh tidak punya daya tarik, sebab industri di darat belum bergerak. Tanpa barang yang diproduksi, pelabuhan hanya jadi dermaga kosong.”
Cetak Biru Kebangkitan: The Green & Energy Gateway of Malacca
Meski tertinggal, peluang kebangkitan tetap terbuka. Menurut Maimun, strategi Aceh bukan meniru Singapura, melainkan menciptakan ruang baru:
Rest Area Kapal Dunia: pusat pengisian bahan bakar hijau (hydrogen, LNG, ammonia) memanfaatkan warisan infrastruktur Arun. Agroindustri Premium: kopi Gayo, sawit, dan hasil laut diolah di tepi pelabuhan, bukan dikirim mentah ke Medan. Dan, gudang Komoditas Curah: semen, pupuk, dan batu bara ditimbun di lahan luas Aceh, sesuatu yang tak mungkin dilakukan Singapura.
“Zaman dulu, Pasai berjaya karena lada dan sutra. Hari ini kita bisa berjaya lagi dengan energi hijau, pangan, dan ruang logistik. Dunia butuh itu, dan Singapura tidak bisa menyediakannya,” tegas Maimun.
Krisis Kepemimpinan: Titik Buntu yang Menyakitkan
Aceh Utara merayakan 800 tahun Samudera Pasai dengan festival budaya dan gegap gempita panggung. Namun di balik itu, pelabuhan tetap kosong, KEK Arun Lhokseumawe berjalan lambat, dan hanya ada teriakan tanpa gebrakan.
“Sejarah tidak akan berulang hanya dengan slogan. Kita butuh pemimpin yang berani menantang arus, bukan sekadar mengulang kata-kata indah di podium,” ujar Maimun, matanya menatap jauh seolah mencari bayangan Malikussaleh di masa kini.
Samudera Pasai pernah berjaya karena memaksa dunia singgah. Aceh hari ini bisa kembali berjaya jika berani menawarkan sesuatu yang dunia butuhkan. Modalnya sudah ada, cadangan gas Andaman adalah kartu truf. Yang hilang hanyalah sosok visioner yang mampu menjahit potensi menjadi kenyataan.
“Kita tidak kekurangan sumber daya, kita kekurangan keberanian. Jika Aceh ingin bangkit, ia harus melahirkan pemimpin yang berani menjemput sejarah, bukan sekadar merayakan masa lalu,” ujar Maimun menutup kalimat penutup yang menggugah.(id70)












Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda