Breaking News
Memuat breaking news...

Ketua MUI P. Sidimpuan: Ulama Tak Boleh Jadi Penjilat, Kompetensi Wajib Ditingkatkan

Redaksi
Redaksi
Rabu, 9 September 2026 - 5.21 PM WIB
Ketua MUI P. Sidimpuan: Ulama Tak Boleh Jadi Penjilat, Kompetensi Wajib Ditingkatkan
Ketua MUI Kota Padangsidimpuan, Ustaz Drs. H. Zulfan Efendi Hasibuan, MA, saat memberikan arahan pada pembukaan Pelatihan Ulama se-Kota Padangsidimpuan, Rabu (9/9/2026). Waspada.id/Mohot Lubis.
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

P. SIDIMPUAN (Waspada.id): Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padangsidimpuan, Ustaz Drs. H. Zulfan Efendi Hasibuan, MA, menegaskan, ulama tidak boleh kehilangan marwah dan idealismenya hanya karena berhadapan dengan kepentingan tertentu.

“Kalau kita tidak takut kepada Allah, maka dia bukan ulama. Tidak ada ulama penjilat, karena syarat ulama itu takut kepada Allah,” tegas Ustaz Drs. H. Zulfan Efendi Hasibuan, MA, saat membuka Pelatihan Peningkatan Kompetensi Ulama se-Kota Padangsidimpuan di Aula Kantor MUI, Jl. HT. Rizal Nurdin, Palopat, Padangsidimpuan, Rabu (9/9/2026).

Pelatihan yang mengusung tema “Penguatan dan Peningkatan Kompetensi Keilmuan serta Peranan Ulama dalam Strategi Dakwah di Era Digital” tersebut dilaksanakan selama tiga hari, yakni 9, 16, dan 23 September 2026.

Ustaz Zulfan menilai, peningkatan kompetensi bukan lagi pilihan bagi ulama, melainkan kebutuhan. Sebab, persoalan yang dihadapi umat terus berkembang, sementara masyarakat kini mendapatkan informasi keagamaan dari berbagai sumber, termasuk media sosial.

Untuk itu, ulama dituntut tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki keberanian menjaga kebenaran dan independensi di tengah derasnya arus informasi, kepentingan politik, serta perubahan pola dakwah di era digital.

Menurutnya, predikat ulama membawa tanggung jawab besar. Ulama harus memiliki keluasan ilmu sehingga dapat menjadi tempat masyarakat bertanya, berkonsultasi, dan memperoleh rujukan ketika menghadapi persoalan keagamaan. “Ulama itu pewaris nabi. Nabi tidak mewariskan harta, yang diwariskan kepada kita adalah ilmu,” ujarnya.

Ia bahkan secara terbuka mengatakan bahwa dirinya merasa belum pantas disebut ulama. “Ulama itu sejatinya orang yang sangat luas ilmunya. Saya secara pribadi belum pantas dikatakan ulama. Tapi, seperti kata pepatah, tidak ada rotan, akar pun jadi. Jadi, kita ini pewaris nabi,” katanya.

Karena itu, ia mengingatkan para peserta agar tidak berhenti belajar. Jika kompetensi ulama tidak terus diperkuat, kata Zulfan, jarak antara ulama dengan persoalan nyata yang dihadapi umat akan semakin lebar.

Peserta pelatihan ulama serius mendengarkan materi dari narasumber, Rabu (9/9/2026). Waspada.id/Mohot Lubis.

Perbedaan Syariat Bukan Alasan Saling Menyesatkan

Sementara itu, Sekretaris MUI Kota Padangsidimpuan, Dr. Zul Anwar Ajim Harahap, MA, yang menjadi pemateri pertama, mengajak ulama memahami syariat secara lebih luas, terutama dalam menyikapi perbedaan pendapat.

Ia menjelaskan, praktik ibadah seperti salat telah dikenal sejak masa nabi-nabi terdahulu, namun tata caranya tidak selalu sama. “Salat sudah ada sejak zaman Nabi Musa, zaman Nabi Ibrahim, tetapi tata caranya berbeda,” jelasnya.

Menurut Zul Anwar, berbicara tentang syariat berarti juga berbicara mengenai perbedaan pemahaman. Perbedaan tersebut dapat muncul karena para ulama memiliki metode berbeda dalam memahami dalil yang sama.

Salah satu penyebab perbedaan, lanjutnya, adalah perbedaan dalam memahami ayat atau dalil. Ayat yang sama dapat dipahami dengan pendekatan yang berbeda sehingga melahirkan perbedaan pendapat dalam praktik. “Dalilnya sama, memahaminya berbeda,” ujarnya.

Ia juga menyinggung persoalan bidah yang hingga kini masih menjadi perdebatan di tengah umat. Menurutnya, persoalan khilafiyah membutuhkan kedalaman ilmu, bukan sekadar keberanian memberikan label benar atau salah kepada pihak lain. (Id.46)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement