Breaking News
Memuat breaking news...

Kisah Hebat Franco Baresi di Piala Dunia

Redaksi
Redaksi
Minggu, 2 Agustus 2026 - 7.06 AM WIB
Kisah Hebat Franco Baresi di Piala Dunia
Kapten Timnas Italia Franco Baresi menerima Medali Perak dari Presiden UEFA Lennart Johansson sebagai Runner Up Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

Oleh: Indra Efendi Rangkuti

Dunia sepakbola Internasional kembali kehilangan salah satu legenda besarnya. Franco Baresi sang kapten dan bek tengah legendari AC Milan dan Timnas Italia meninggal dunia pada 31 Juli 2026 akibat sakit di usia 66 tahun.

Kepergian Franco Baresi meninggalkan duka mendalam bagi dunia sepakbola Internasional.Kesuksesannya bersama AC Milan dan Timnas Italia membuat dirinya dihormati dan dikagumi oleh banyak pesepakbola.

Secara luas dianggap sebagai salah satu bek terhebat sepanjang masa.Baresi berada di peringkat ke-19 dalam daftar 100 pemain terhebat abad 20 versi majalah World Soccer.Baresi dinobatkan oleh Pele sebagai salah satu dari 125 Pemain Sepak Bola Terhebat yang Masih Hidup pada upacara penghargaan seratus tahun FIFA pada tahun 2004. Baresi dilantik ke dalam Hall of Fame Sepak Bola Italia pada tahun 2013.

Kiprah hebat Franco Baresi sejak 1978 hingga pensiun pada akhir musim 1996/1997 memang sebuah kisah yang menarik untuk dikenang.Apalagi sepanjang karirnya di sepakbola dirinya hanya memperkuat AC Milan.Pada saat dirinya mundur maka nomor 6 yang identik dengan dirinya juga ikut dipensiunkan oleh AC Milan sebagai penghormatan atas dedikasi Baresi bersama AC Milan.

Aksi Franco Baresi (kedua dari kanan) menghadang Diego Maradona dan Claudio Caniggia saat Italia menghadapi Argentina di Semifinal Piala Dunia 1990 di Stadion San Paolo Italia

Meskipun Baresi mampu bermain di posisi mana pun di lini belakang, ia terutama unggul sebagai bek tengah dan sebagai sweeper , di mana ia menggabungkan atribut defensifnya, dan kemampuannya membaca permainan, dengan visi, teknik, distribusi, dan keterampilan bola yang sangat baik.Kekokohannya membuat dirinya sulit ditembus oleh barisan penyerang lawan. Jangkauan umpan, kemampuan teknis, dan kontrol bola Baresi memungkinkannya untuk maju ke lini tengah untuk memulai permainan menyerang dari belakang, memungkinkannya untuk berfungsi sebagai playmaker sekunder bagi timnya, dan juga bermain sebagai gelandang bertahan atau gelandang tengah bila diperlukan.

Franco Baresi lahir di Travagliato Brescia Italia pada 8 Mei 1960. Franco bersama kakaknya Giuseppe Baresi dibesarkan di sebuah pertanian di pinggiran kota kecil Travagliato di Italia utara. Ayah dari legenda Franco Baresi adalah Ortensio Baresi dan ibunya bernama Prisca Baresi. Bersama istrinya, Prisca Baresi, sang ayah meninggal dunia lebih dulu ketika Franco Baresi berusia 16 tahun, yang kemudian membuat Franco bersama kakaknya, Giuseppe Baresi, menjadi yatim piatu di usia muda. Kakak tertua Franco Baresi Luisa yang berusia 23 tahun mengambil peran sebagai ibu bagi kedua saudara laki-lakinya yang tergila-gila pada sepak bola dan adik perempuannya.

Kapten Timnas Italia Franco Baresi dan Kapten Timnas Brazil Dunga di Final Piala Dunia 1994 yang berlangsung di Stadion Rose Bowl Pasadena Amerika Serikat

Pada awalnya Franco dan Giuseppe melamar ke akademi Inter Milan.Namun hanya Giuseppe yang diterima oleh akademi Inter Milan.Franco Baresi kemudian mencoba melamar ke akademi AC Milan dan dirinya diterima karena tim pemandu bakat AC Milan melihat potensi besar pada diri Farnco Baresi muda.

Dan akhirnya pilihan para pelatih akademi AC Milan tersebut tidak salah.Franco Baresi terbukti menjadi bek tengah handal di AC Milan.Bahkan kelak ban kapten juga melilit di lengannya selama 15 tahun.

Kiprah hebatnya di AC Milan terbukti dengan torehan prestasi hebat yang diraihnya bersama AC Milan.Franco Baresi sukses membawa AC Milan 6 kali menjadi Juara Serie A,3 kali menjadi Juara Piala Champions,3 kali menjadi Juara Piala Super Eropa,2 kali menjadi Juara Piala Interkontinental,4 kali menjadi Juara Supercoppa Italiana dan 2 kali menjadi Juara Serie B.

Selain itu Baresi juga terpilih masuk ke dalam Tim Terbaik Serie A 1987,1988,1989,1990 dan 1992.Franco Baresi juga sukses menduduki peringkat kedua dalam Ballon d’Or 1989.Saat itu Franco Baresi hanya kalah dari rekan setimnya di AC Milan Marco Van Basten.

Kesuksesan – kesuksesan tersebut membuat Franco Baresi layak disematkan sebagai legenda besar AC Milan. Bahkan sebagai penghargaan ketika mundur dari sepakbola pada akhir musim 1996/1997 AC Milan memutuskan mempensiunkan nomor punggung “6” yang identik dengan Baresi atas kiprah pengabdian Baresi selama 20 tahun bersama AC Milan tanpa pernah bermain di klub yang lain.

Aksi brilian Franco Baresi menghadang striker Brazil Romario di Final Piala Dunia 1994

Namun yang tak kalah menarik untuk diikuti adalah kiprah Franco Baresi bersama Timnas Italia di Piala Dunia terutama di Piala Dunia 1994.

1.Kiprah Franco Baresi Bersama Timnas Italia Di Piala Dunia 1982.

Pada usia 22 tahun, Baresi masuk dalam skuad Italia untuk Piala Dunia 1982 di Spanyol. Pemanggilan Baresi saat itu cukup mengejutkan karena pada akhir musim 1981/1982 AC Milan terdegradasi ke Serie B.Padahal waktu itu AC Milan baru promosi kembali ke Serie A.

Pelatih Timnas Italia Enzo Bearzot memanggil 2 pemain AC Milan ke Timnas Italia Piala Dunia 1982.Keduanya adalah Franco Baresi dan Fulvio Collovati.

Timnas Italia sukses menjadi Juara Piala Dunia 1982 setelah mengalahkan Jerman Barat 3-1 di Final.Ini adalah ketiga kalinya Italia menjadi Juara Piala Dunia setelah sebelumn ya pada tahun 1934 dan 1938.

Franco Baresi dengan cekatan menghadang striker Brazil Bebeto di Final Piala Dunia 1994

Namun sayang Franco Baresi tidak sekalipun turun bertanding sepanjang Piala Dunia 1982 tersebut. Saat itu dirinya berada di bawah bayang – bayang bek Juventus Gaetano Scirea.Apalagi saat itu Enzo Bearzot menilai dirinya lebih cocok sebagai gelandang.Namun di posisi gelandang banyak yang dinilai Bearzot lebih baik dari Baresi.

Dan pada Piala Dunia 1986 Enzo Bearzot bahkan tidak memanggil Franco Baresi ke Timnas Italia.Sedangkan kakaknya Giuseppe Baresi dipanggil.Hal inilah yang kelak membuat Franco Baresi kesal kepada sosok Enzo Bearzot yang tidak memberikan kesempatan kepada dirinya untuk menunjukkan kemampuannya.

2.Kiprah Franco Baresi Bersama Timnas Italia Di Piala Dunia 1990.

Hadirnya Azeglio Vicini sebagai pelatih pengganti Enzo Bearzot usai Piala Dunia 1986 memberi harapan baru kepada Franco Baresi.Sinarnya yang cemerlang bersama AC Milan sejak 1987 membuat Azeglio Vicini memilih Franco Baresi sebaagai bek tengah utama Timnas Italia menggantikan Gaetano Scirea.

Setelah tampil gemilang bersama Timnas Italia di Piala Eropa 1988,Baresi kian meneguhkan posisnya sebagai pilihan utama di jantung pertahanan Timnas Italia.Saat itu Baresi sukses membawa Italia lolos ke Semifinal Piala Eropa 1988.

Kesuksesan membawa AC Milan menjadi Juara Piala Champions musim 1989 dan 1990 membuat Azeglio Vicini melirik bintang – bintang AC Milan untuk menjadi bagian utama Timnas Italia di Piala Dunia 1990 yang digelar di Italia.Saat itu Azeglio Vicini memanggil empat pemain AC Milan yaitu : Franco Baresi, Paolo Maldini, Carlo Ancelotti dan Roberto Donadoni. Dan keempatnya adalah pilihan utama di Timnas Italia.

Baresi melakukan penampilan pertamanya di pertandingan Piala Dunia saat memperkuat Italia melawan Austria pada 9 Juni 1990.Penampilan gemilangnya turut membawa Italia menaklukkan Austria 1-0. setelah itu Baresi terus menjadi pilihan utama.

Baresi membantu pertahanan Italia menjadi kokoh dan tak kebobolan selama penyisihan grup.Ketangguhan lini pertahanan Italia di bawah komando Franco Baresi,Paolo Maldini dan sang kapten Giuseppe Bergomi terus berlanjut hingga babak 8 besar Piala Dunia 1990 dengan membuat lini pertahanan Italia tak kebobolan.

Penampilan gemilang Baresi terus berlanjut saat menghadapi Argentina di Semifinal yang berlangsung di Stadion San Paolo Napoli. Walau mendapat terakanan dari suporter Napoli yang justru mendukung Argentina karena keberadaan Diego Maradona, Baresi tampil mantap di jantung pertahanan Italia. Penampilan gemilangnya sebagai bek tengah sukses membuat Diego Maradona tak berkutik. Sayang keunggulan Italia lewat gol Salvatore Schillaci paad menirt ke-17 harus buyar setelah Claudio Cannigia menyamakan kedudukan pada menit ke-67.

Gol Cannigia ini membuat rekor tanpa kebobolan Italia selama 518 menit di Piala Dunia 1990 ternoda.Namun itu tidak membuat penilaian publik memudar kepada Baresi.Pertandingan akhirnya berlanjut ke drama adu penalti setelah dalam perpanjangan waktu tidak ada tambahan gol hyang dicetak kedua tim.

Meski sukses mengeksekusi penalti pada adu penalti namun Baresi harus menelan kekecewaan karena Italia takluk dari Argentina dalam adu penalti tersebut.Franco Baresi,Roberto Baggio dan Luigi De Agostini sukses mengeksekusi penalti.Namun Roberto Donadoni dan Aldo Serena gagal.sedangkan empat eksekutor Argentina yaitu : Jose Serrizuela,Jorge Burruchaga, Julio Olarticoechea dan Diego Maradona sukses mengeksekusi penalti.

Di perebutan tempat ketiga akhirnya Italia sukses menaklukkan Inggris 2-1.Baresi kembali tampil gemilang dengan mematikan pergerakan striker andalan Inggris Gary Lineker.

Kemampuannya menjaga lini pertahanan Italia dengan hanya kebobolan dua gol selama Piala Dunia 1990 membuat Franco Baresi dipuji oleh banyak fihak.Terbukti Baresi terpilih ke dalam Tim terbaik Piala Dunia 1990.Sukses ini terasa istimewa karena inilah penampilan perdananya sebagai pemain inti di Piala Dunia 1990 sekaligus mematahkan penilaian Bearzot yang menganggap Baresi bukan bek tengah yang baik.

3.Kiprah Franco Baresi Bersama Timnas Italia Di Piala Dunia 1994.

Franco Baresi mengalami kram dan ditolong oleh rekan setimnya Paolo Maldini dam Lorenzo Minotti di Final Piala Dunia 1994

Hadirnya mantan pelatih AC Milan Arrigo Sacchi sebagai pelatih Timnas Italia menggantikan Azeglio Vicini usai Vicini gagal membawa Timnas Italia lolos ke Piala Eropa 1992 membuat aroma AC Milan kian terasa di Timnas Italia.Apalagi AC Milan meraih kesuksesan dengan tiga kali berturut – turut menjadi Juara Serie A pada musim 1991/1992,1992/1993 dan 1993/1994 serta sukses menjadi Juara Liga Champions 1994 setelah menaklukkan Barcelona 4-0 di Final.

Arrigo Sacchi memanggil tujuh pemain AC Milan untuk memperkuat Timnas Italia di Piala Dunia 1994 yang digelar di Amerika Serikat.Bintang – bintang AC Milan yang dipanggil adalah : Franco Baresi,Paolo Maldini,Alessandro Costacurta, Mauro Tassotti, Demetrio Albertini, Roberto Donadoni dan Daniele Massaro.

Warna AC Milan kian kental karena Sacchi juga memanggil Alberico Evani. Evani adalah anak asuh Sacchi ketika melatih AC Milan pada periode 1987 – 1991. Pada akhir musim 1992/1993 Evani pindah ke Sampdoria.

Sacchi menunjuk Franco Baresi sebagai kapten baru Timnas Italia menggantikan bintang Inter Milan Giuseppe Bergomi yang tidak dipanggil.Tanggung jawab ini diterima oleh Baresi dengan penuh semangat walau saat itu usianya sudah 34 tahun.

Sayang langkah Italia tersendat di pertandingan pertama.Meski tampil bagus sebagai komandan lini pertahanan Italia dengan meredam serangan balik cepat Irlandia,Italia harus takluk 0-1 dari Irlandia lewat gol cepat yang dicetak oleh Ray Houghton di menit ke-12.Ditambah lagi duet striker Italia Roberto Baggio dan Giuseppe Signori gagal menembus pertahanan rapat Irlandia yang digalang Paul McGrath dan Phil Babb.

Kekalahan ini membuat Italia harus menang saat menghadapi Norwegia di pertandingan kedua.Laga ini berlangsung keras. Italia bahkan harus bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-21 akibat kiper Gianluca Pagliuca mendapat kartu merah. Roberto Baggio kemudian juga harus keluar lapangan sebagai konsekuensinya.

Duka Italia kian parah karena pada menit ke-49 Franco Baresi harus ditandu keluar lapangan akibat mengalami cedera meniskus lutut yang parah setelah berbenturan dengan pemain Norwegia.Luigi Apolloni masuk menggantikan Baresi dan ban kapten berpindah kepada Paolo Maldini. Italia akhirnya menang 1-0 lewat gol yang dicetak oleh Dino Baggio pada menit ke-69.

Dua hari setelah cedera, Baresi tidak bisa meluruskan kakinya. Tim medis Italia segera bertindak, operasi dijadwalkan, dan setelah prosedur selama 20 menit, proses pemulihan pun dimulai. Istri, putra, dan ayah mertua Baresi semuanya terbang untuk memberikan dukungan moral. Dua hari setelah prosedur, Baresi kembali berdiri dan menaruh asa untuk kemabli tampil memperkuat Italia jika Italia lolos ke Final.

Franco Baresi menjadi eksekutor pertama Italia dalam drama adu penalti dan tendangannya melambung di atas mistar Claudio Taffarel pada Final Piala Dunia 1994

Banyak yang menilai Piala Dunia sudah berakhir bagi Baresi. Biasanya pemulihan cedera seperti itu akan memakan waktu minimal sebulan.apalagi usia Baresi sudah tergolong tua untuk pesepakbola profesional.Dengan penuh kesungguhan Baresi terus menjalani proses pemulihan. Hal ini menuai simpati dari tim medis dan ofisial Italia lainnya.

Di bawah komando Paolo Maldini sebagai kapten dan Roberto Baggio langkah Italia tertatih – tatih.Setelah bermain imbang 1-1 dengan Meksiko di laga terakhir penyisihan grup,Italia lolos ke babak 16 besar sebagai salah satu peringkat tiga terbaik.

Di babak 16 besar Italia harus bersusah payah untuk menaklukkan Nigeria 2-1 lewat gol penentu yangdicetak Roberto Baggio di menit ke-102.Lalu di babak 8 besar Italia harus berjuang hingga injury time untk menaklukkan Spanyol 2-1.

Sayang kemenangan Italia ini ternoda karena seusai pertandingan bek kanan Mauro Tassotti mendapat sanksi berat dari FIFA. Tassotti tertangkap kamera menyikut hidung Luis Enrique di kotak penalti pada menit-menit akhir laga melawan Spanyol. Wasit di lapangan tidak melihat kejadian tersebut, tetapi FIFA menjatuhkan hukuman skorsing delapan laga seusai pertandingan, yang otomatis membuatnya absen hingga sisa turnamen termasuk partai final.

Kondisi ini membuat Italia kian oleng karena kehilangan Tassotti di laga Semifinal melawan Bulgaria. Roberto Mussi tampil menggantikan Tassotti.Dengan susah payah Italia menaklukkan Bulgaria 2-1 dan lolos ke Final menghadapi Brazil.

Namun kembali ujian berat menerpa Italia. Alessandro Costacurta mendapat kartu kuning saat melawan Bulgaria dan harus absen di Final karena akumulasi kartu yang diterimanya. Sebelumnya pada laga melawan Nigeria, Costacurta juga menerima kartu kuning.

Ini merupakan tamoaran keras bagi Italia yang sudah kehilangan Baresi dan Tassotti.Banyak fihak menilai pertahanan Italia akan mudah dibobol Brazil yang punya duet maut Romario dan Bebeto di lini depan.

Namun secara tak terduga Italia menurunkan Franco Baresi di laga Final. Baresi yang 24 hari sebelumnya baru menjalani operasi cedera meniskus parah yang dialaminya ternyata pulih cepat dan siap tampil di Final walau kondisi fisiknya tidak berada dalam kondisi 100 persen.Hal ini mengejutkan Brazil yang sebelumnya menduga Baresi akan absen.Walau demikian Brazil optimis bisa menembus pertahanan Italia yang dikomandoi Baresi.

Kembalinya Baresi memberi semangat baru bagi Italia. Sang kapten memasuki lapangan memimpin rekan – rekannya dengan “muka perang” yang menandakan dirinya siap tempur menghadapi Brazil. Baresi berduet dengan Paolo Maldini di jantung pertahanan dan diapit Roberto Mussi di sisi kanan serta Antonio Benarrivo di sisi kiri.

Kekhawatiran apa pun terhadap Baresi dengan cepat sirna begitu pertandingan dimulai. Baresi berada dalam performa terbaiknya. Kemampuannya membaca permainan tak tertandingi dan, selama final, meningkat ke level di mana Baresi tampaknya tahu ke mana bola akan pergi sebelum pemain yang mengopernya menyadarinya.

Berkali-kali, upaya lini tengah Brazil untuk membangun umpan terobosan menembus lini belakang Italia digagalkan oleh Baresi. Dengan gerakan menyilang, ia memotong umpan terobosan demi umpan terobosan, seringkali melancarkan serangan bagi Italia dalam prosesnya. menerobos pertahanan dengan gaya khasnya, memecah lini pertahanan dan memulai serangan. Baresi bahkan beberapa kali turtut maju ke tengah dan depan untuk membantu serangan.

Romario bahkan seperti frustrasi karena tidak mampu melepaskan diri dari kawalan Baresi. Demikian juga Bebeto yang tak berdaya menghadapi kawalan Baresi dan Maldini.Baresi bahkan tampil kokoh hingga babak perpanjangan waktu walau sempat terlihat beberapa kali meringis menahan sakit. Pendukung Italia dan wartawan berdecak kagum melihat aksi Baresi di pertandingan Final ini. Bahkan media menilai inilah penampilan terbaik Baresi selama Piala Dunia 1994.

Pertandingan akhirnya dilanjutkan ke babak adu penalti setalah kedua tim bermain imbang 0-0 hingga perpanjangan waktu usai.Seperti halnya Semifinal Piala Dunia 1990 saat adu penalti melawan Argentina,Baresi maju sebagai eksekutor pertama. Dengan semua kekuatan yang tersisa di kakinya, ia melangkah maju. Awalnya memutuskan untuk menendang bola ke sisi kiri Claúdio Taffarel, namun ia secara fatal mengubah pikirannya pada saat yang krusial dan akhirnya tendangannya melambung di atas mistar. Baresi kemudian berlutut dan kepala tertunduk meratapi kegagalannya.

Italia akhirnya gagal menaklukkan Brazil dalam adu penalti.Dari lima eksekutor hanya Demetrio Albertini dan Alberico Evani yang sukses menjalankan tugasnya.Sedangkan Brazil dari empat eksekutor hanya Marcio Santos yang tendangannya berhasil diblok kiper Gianluca Pagliuca.

Begitu tendangan penalti Roberto Baggio melambung di atas mistar Taffarel,meledaklah kesedihan di wajah skuad Italia.Baresi terlihat menahan air mata.Perjuangannya untuk bangkit dari cedera dan tampil luar biasa di Final seolah hilang tanpa bekas akibat kegagalannya mengeksekusi penalti.

Franco Baresi terduduk lemas usai tendangan penaltinya melambung di atas mistar Claudio Taffarel di Final Piala Dunia 1994

Meski begitu Franco Baresi sukses menorehkan prestasi sebagai pesepakbola keenam yang meraih medali emas,perak dan perunggu di Piala Dunia.Sebelumnya lima pesepakbola Jerman sukses mencatat prestasi tersebut yaitu : Franz Beckenbauer, Sepp Maier, Wolfgang Overath, Jurgen Grabowski dan Horst Dieter Hottges.

Franco Baresi meraih Medali Emas di Piala Dunia 1982, meraih Medali Perak di Piala Dunia 1994 dan meraih Medali Perunggu di Piala Dunia 1990.

Belakangan bintang Jerman Miroslav Klose juga sukses melengkapi medalinya di Piala Dunia setelah sukses membawa Jerman menjadi Juara Piala Dunia 2014. Hingga saat ini hanya tujuh pesepakbola tersebut yang sukses meraih ketiga medali secara lengkap di Piala Dunia.

Kesuksesan Baresi ini terasa istimewa karena dirinya satu – satunya pesepakbola Italia dan satu – satunya di luar pesepakbola Jerman yang sukses meraihnya.

Setelah kekalahan di Final Piala Dunia 1994, Baresi tampil sekali lagi untuk Timnas Italia, dalam pertandingan kualifikasi Piala Eropa 1996 saat partai tandang melawan Slovenia pada 7 September 1994, yang berakhir imbang 1–1. Baresi kemudian pensiun dari tim nasional pada usia 34 tahun dan menyerahkan ban kapten kepada rekan setimnya di AC Milan, Paolo Maldini.

Pada 28 Oktober 1997 AC Milan menggelar pertandingan perpisahan untuk menghormati Franco Baresi di Stadion San Siro Milan.Sederet bintang – bintang dunia hadir dalam pefrtandingan tersebut seperti : Marco Van Basten, Ruud Gullit, Frank Rijkaard, Carlo Ancelotti,Gianluca Vialli, Zico, Ray Wilkins, Romario, George Weah,Roberto Baggio,Danny Blind, Hugo Sanchez, Fernando Hierro, Ronald De Boer, Fernando Redondo dan lainnya. Ini bukti Baresi sosok yang sangat dihormati oleh bintang – bintang sepakbola dunia.

Romario yang dikawal Baresi pada Final Piala Dunia 1994 mengakui Baresi sebagai bek terkuat yang pernah dihadapinya.Romario mengungkapkan itu saat mengungkapkan duka atas wafatnya Franco Baresi.

“Saya dua kali menghadapinya ketika memperkuat PSV Eindhoeven menghadapi AC Milan pada 1992 dan 1993 serta sekali pada Final Piala Dunia 1994 dan saya merasakan betapa tangguhnya Baresi mengawal saya.Saya bisa mengatakan ini tanpa ragu sedikit pun, dia adalah pemain terberat yang pernah saya hadapi sepanjang karier saya. Saya menyampaikan rasa hormat saya atas segala yang telah dia lakukan untuk sepak bola, serta kasih sayang saya kepada keluarga dan teman-temannya," ungkap Romario.

Presiden FIFA Gianni Infantino menyampaikan ucapan duka mendalam atas wafatnya legenda AC Milan dan Timnas Italia, Franco Baresi, yang meninggal dunia pada usia 66 tahun. Infantino mengenang Baresi sebagai sosok kapten dan legenda yang keabadian karyanya akan selalu dikenang dalam sejarah sepak bola.

Gianni Infantino berkata : “ Baresi adalah "seorang kapten yang abadi, sebuah kisah yang abadi" dan sosoknya akan selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia sepak bola”.

FIFA bahkan secara khusus menuliskan kisah tentang kiprah Franco Baresi ketika mengikuti Piala Dunia 1982,1990 dan 1994 di website resmi FIFA.Sebuah bukti FIFA menghormati prestasi hebat Baresi di pentas Piala Dunia.

Mantan kiper Timnas Italia Dino Zoff memberikan penghormatan kepada Franco Baresi yang merupakan rekan setimnya di Piala Eropa 1980 dan Piala Dunia 1982. Kiper Italia saat Juara Piala Dunia 1982 itu menyoroti dampak besar Baresi baik di dalam maupun di luar lapangan.

"Ini adalah momen kesedihan yang besar atas kepergian sosok luar biasa, seorang pesepakbola. Franco Baresi adalah pribadi yang baik dan seorang juara di dalam maupun di luar lapangan. Ini benar-benar kehilangan besar bagi keluarganya, bagi para penggemar, dan bagi sepakbola Italia. Sebagai pemain, dia memenangi segalanya di semua level, piala, gelar liga, dan bersama tim nasional, semuanya dengan prestasi besar. Kehilangan Franco Baresi adalah kehilangan bagi seluruh olahraga Italia," ungkap Zoff.

Selamat jalan Franco “Il Capitano” Baresi.WASPADA.id

Penulis adalah pengamat olahraga

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik
No topics for this article yet.

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement