Kisah Nabila, Bocah Tuna Netra dari Madang Ara Menyentuh Hati Bang ZekKisah Nabila, Bocah Tuna Netra dari Madang Ara Menyentuh Hati Bang Zek

Cahaya siang itu menembus celah jendela rumah sederhana di Kampung Madang Ara, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang.
Di sudut ruangan, seorang bocah perempuan duduk dalam pelukan seorang perempuan paruh baya.
Wajahnya tertunduk, kedua tangannya menutup mata yang sejak lahir tak pernah mengenal terang.
Namanya Nabila. Usianya baru lima tahun. Namun hidup telah memperkenalkannya pada keterbatasan yang tak ringan, karena tuna netra sejak lahir.
Di tengah kesunyian yang ia jalani, hari itu menjadi sedikit berbeda. Ada langkah-langkah yang datang membawa harapan.
Jumat, 21 Agustus 2026, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Muhammad Zakiruddin, yang akrab disapa Bang Zek, datang langsung ke rumah Nabila.
Perjalanan dari Banda Aceh ke kampung itu bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah bentuk kepedulian yang nyata.
Didampingi Datok Penghulu Madang Ara, Sudarma, Bang Zek menyerahkan bantuan berupa sembako, pakaian, tas, hingga peralatan dapur.
Bantuan itu mungkin sederhana bagi sebagian orang, namun bagi Nabila dan keluarganya, itu adalah bentuk perhatian yang begitu berarti.
Di ruangan yang bersahaja itu, suasana terasa hangat sekaligus haru.
Sudarma tak bisa menyembunyikan rasa haru dan bangga. Baginya, kehadiran seorang wakil rakyat hingga ke kampung kecil seperti Madang Ara, dinilainya luar biasa.
“Saya sangat terharu dan bangga kepada Bang Zek. Dari Banda Aceh datang ke kampung kami, menunjukkan empati dan kepedulian kepada Nabila. Anak yang sejak lahir mengalami tuna netra. Wakil rakyat seperti ini patut diapresiasi, karena benar-benar menjalankan amanah rakyat,” ucap Sudarma dengan nada penuh hormat.
Ia mewakili keluarga Nabila menyampaikan terima kasih yang mendalam.
“Semoga bantuan ini bisa meringankan beban keluarga dan menjadi penyemangat bagi Nabila untuk terus menjalani hidup,” tambahnya.
Sementara itu, Bang Zek yang duduk bersila di lantai rumah tersebut tampak berbincang hangat dengan keluarga Nabila.
Baginya, bantuan yang diberikan bukanlah akhir, melainkan awal dari perhatian yang lebih luas.
“Kami hadir di sini bukan hanya untuk menyerahkan bantuan, tetapi untuk memastikan bahwa anak-anak seperti Nabila tidak merasa sendiri.
Mereka punya hak yang sama untuk diperhatikan, untuk dibantu, dan untuk memiliki masa depan yang lebih baik,” ujar Bang Zek kepada Waspada.id. Jumat, (21/8/2026).
Bang Zek menegaskan, sebagai wakil rakyat, dirinya memiliki tanggung jawab moral untuk turun langsung melihat kondisi masyarakat, terutama mereka yang membutuhkan perhatian khusus.
Ia menyampaikan, bahwa Nabila adalah pengingat bagi semua pihak, bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang hidup dalam keterbatasan.
"Saya berharap, bantuan ini bisa sedikit meringankan beban keluarga, sekaligus mengajak pihak lain, baik pemerintah maupun masyarakat untuk bersama-sama hadir membantu,” lanjutnya.
Lebih jauh, Bang Zek juga berkomitmen akan mendorong perhatian lebih serius dari pemerintah terhadap anak-anak penyandang disabilitas, khususnya di daerah terpencil.
“Ke depan, kita ingin ada program yang lebih berkelanjutan, bukan hanya bantuan sesaat. Anak-anak seperti Nabila perlu akses pendidikan, pendampingan, dan perhatian jangka panjang. Itu yang akan terus kita perjuangkan,” tegasnya.
Di balik keterbatasan yang dimiliki Nabila, ada kekuatan yang tak terlihat, yakni ketabahan.
Dan di balik kedatangan Bang Zek hari itu, ada pesan yang lebih besar, bahwa kepedulian, sekecil apa pun, mampu menghadirkan cahaya, bahkan bagi mereka yang hidup dalam gelap.
Di rumah sederhana itu, mungkin tak ada cahaya yang bisa dilihat Nabila.
Namun hari itu, ia merasakan sesuatu yang jauh lebih terang, karena ada hadirannya wakil rakyat yang peduli.
Sutrisno


























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda