Kontribusi untuk Industri Nasional, Triharyo Soesilo Raih Penghargaan ITBKontribusi untuk Industri Nasional, Triharyo Soesilo Raih Penghargaan ITB

JAKARTA (Waspada.id): Institut Teknologi Bandung (ITB) menganugerahkan Penghargaan Wirya Jasa Adiutama kepada alumnus Teknik Kimia angkatan 1977, Triharyo Soesilo atau Hengki, atas kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kiprahnya memperkuat kemandirian industri nasional. Penghargaan tersebut diserahkan di Aula Barat Kampus ITB, Sabtu (3/7/2026).
Penghargaan Wirya Jasa Adiutama diberikan kepada Hengki atas jasa dan kontribusinya yang dinilai luar biasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan humaniora di Indonesia.
Rektor ITB menilai kiprah Hengki selama lebih dari empat dekade menunjukkan peran nyata seorang insinyur dalam menghadirkan inovasi yang berdampak bagi pembangunan nasional, mulai dari sektor rekayasa industri, energi, hingga pengembangan teknologi rendah karbon.
Lulus dari ITB pada 1981, Hengki kemudian melanjutkan pendidikan magister di University of Arizona, Amerika Serikat. Tesisnya yang berjudul Computer Software for Plant Design on Micro Computer kemudian diterapkan saat bergabung dengan PT Rekayasa Industri (Rekind), membuka jalan bagi pengembangan kemampuan rekayasa pabrik berbasis teknologi komputer yang lebih efisien.
Pada dekade 1980-an, ketika perancangan pabrik masih bergantung pada komputer mainframe berbiaya tinggi dan didominasi perusahaan asing, Hengki bersama para insinyur Indonesia berhasil mengembangkan kemampuan desain pabrik secara mandiri. Langkah tersebut mendukung pembangunan berbagai pabrik pupuk di Indonesia, Malaysia, dan Brunei sekaligus memperkuat posisi kontraktor nasional.
Kontribusinya berlanjut pada berbagai proyek strategis nasional di sektor energi. Bersama tim Rekind, Hengki terlibat dalam pembangunan sejumlah kilang minyak, termasuk Proyek Kilang Langit Biru Balongan dan Recycle Offgas to Propylene Project (ROPP), pembangunan jaringan pipa gas bawah laut Sumatera–Jawa, hingga proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi yang sebelumnya banyak dikerjakan kontraktor asing.
Pada 2020, Hengki mendapat penugasan dari Menteri BUMN dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai Komisaris Utama PT Kilang Pertamina Internasional. Selain mengawal percepatan penyelesaian proyek-proyek kilang seperti RDMP Balongan dan RDMP Balikpapan, ia juga turut memperkuat sistem mitigasi keselamatan operasional setelah serangkaian insiden kebakaran yang terjadi di sejumlah kilang Pertamina.
Berbagai pengalaman memimpin proyek strategis nasional tersebut kemudian ia tuangkan dalam buku Ilmu Menerobos Sumbatan. Melalui buku itu, Hengki membagikan pengalaman menyelesaikan berbagai proyek besar, termasuk pengembangan biodiesel nasional, proyek kelistrikan 35.000 MW, LNG Tangguh Train 3, hingga sejumlah proyek industri lainnya.
Saat ini, perhatian Hengki beralih pada pengembangan proyek-proyek dekarbonisasi sebagai bagian dari upaya menghadapi perubahan iklim.
"Saya merasa berdosa. Setelah mengikuti kuliah tentang pasar karbon di Yale University, saya sangat kaget bahwa dunia diprediksi hanya tinggal 21 tahun lagi," kata Hengki.
Menurutnya, berbagai kajian ilmiah menunjukkan bahwa pemanasan global berpotensi memicu cuaca ekstrem, kekeringan, banjir berkepanjangan, dan mengancam ketahanan pangan dunia apabila tidak segera diantisipasi.
Atas dasar itu, Hengki kini mengembangkan berbagai proyek karbon, mulai dari Carbon Capture and Storage (CCS) untuk produksi amonia biru, pengolahan biomassa menjadi biochar dan gas pembangkit listrik, penerapan teknologi Alternate Wetting and Drying pada lahan sawah, pemanfaatan gas metana dari tempat pembuangan akhir sampah, hingga program efisiensi energi pada gedung-gedung. Seluruh inisiatif tersebut diarahkan untuk membantu menekan emisi gas rumah kaca dan mendukung percepatan transisi menuju ekonomi rendah karbon di Indonesia. (id11)






























Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda