Breaking News
Memuat breaking news...

Kontroversi Ballon d’Or

Redaksi
Redaksi
Selasa, 27 Oktober 2026 - 10.27 PM WIB
Kontroversi Ballon d’Or
Harry Kane peraih Ballon d'Or 2026
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size
Advertisement

Oleh: Indra Efendi Rangkuti

Penghargaan Ballon d’Or 2026 untuk kategori sepak bola putra kembali memunculkan kontroversi.

Penilaian Ballon d’Or 2026 didasarkan pada prestasi seorang pesepak bola selama periode 3 Agustus 2025 hingga 19 Juli 2026. Jika melihat prestasi pada periode tersebut, memang wajar jika muncul kontroversi.

Pada penganugerahan Ballon d’Or 2026 yang berlangsung pada 26 Oktober 2026 (27 Oktober 2026 dini hari WIB) di London Palladium, London, Inggris, bintang Inggris Harry Kane dinobatkan sebagai peraih Ballon d’Or 2026, mengalahkan bintang Prancis Kylian Mbappe dan bintang muda Spanyol Lamine Yamal.

Harry Kane mengakhiri penantian 25 tahun dunia sepak bola Inggris sejak terakhir kali Michael Owen meraih Ballon d’Or pada 2001.

Kontroversi muncul pada Ballon d’Or 2026 karena banyak pihak menilai Lamine Yamal lebih pantas meraih penghargaan tersebut berdasarkan prestasi pesepak bola selama periode 3 Agustus 2025 hingga 19 Juli 2026.

Kontroversi Ballon d’Or

Lamine Yamal Mengangkat Trofi Piala Dunia 2026.Dianggap Lebih Layak Meraih Ballon d'Or 2026

Harry Kane memang sukses membawa Bayern Muenchen meraih gelar juara Bundesliga dan DFB Pokal musim 2025/2026 serta Piala Super Jerman 2026. Namun, di Piala Dunia 2026, langkah Harry Kane bersama Timnas Inggris terhenti di semifinal dan harus puas berada di peringkat ketiga.

Sementara itu, Lamine Yamal sukses di kompetisi domestik dan Piala Dunia. Lamine Yamal membawa Barcelona menjadi juara Liga Spanyol musim 2025/2026 dan meraih gelar juara Piala Super Spanyol 2026.

Bahkan, Lamine Yamal berperan besar dalam membawa Timnas Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina 1-0 di final.

Lebih ironis lagi, prestasi Yamal pada Ballon d’Or 2026 menurun dibandingkan dengan 2025. Jika pada 2025 Lamine Yamal menduduki peringkat kedua di bawah Ousmane Dembele, pada 2026 ia harus puas berada di peringkat ketiga di bawah Harry Kane dan Kylian Mbappe.

Kontroversi pun bermunculan atas hasil Ballon d’Or ini. Sebelum edisi 2026, penghargaan Ballon d’Or juga pernah memunculkan kontroversi pada 1995, 2000, 2010, 2013, dan 2024.

Kontroversi tersebut bahkan masih terus dibahas hingga kini.

Kontroversi Ballon d’Or 1995

Ballon d’Or 1995 merupakan edisi pertama ketika pemain yang berasal dari luar Eropa, tetapi berkompetisi di Eropa, diizinkan masuk nominasi sekaligus mengikuti perebutan penghargaan Ballon d’Or.

Pada edisi tersebut, bintang Liberia yang pindah ke AC Milan pada awal musim 1995/1996, George Weah, dinobatkan sebagai yang terbaik setelah mengalahkan dua pesaingnya, yaitu Jürgen Klinsmann dan Jari Litmanen.

Kontroversi Ballon d’Or

George Weah peraih Ballon d'Or 1995

Penghargaan ini menimbulkan kontroversi karena dua bintang Ajax, Jari Litmanen dan Patrick Kluivert, dianggap lebih layak dinobatkan sebagai yang terbaik. Hal ini disebabkan peran besar keduanya dalam membawa Ajax Amsterdam meraih gelar juara Champions Cup (League) 1994/1995, Piala Super Eropa 1995, dan Piala Toyota (Interkontinental) 1995.

Patrick Kluivert sendiri merupakan pencetak gol kemenangan Ajax ketika menaklukkan AC Milan 1-0 di final Champions Cup 1994/1995. Bahkan, Patrick Kluivert juga menjadi sosok penting yang membawa Timnas Belanda lolos ke Piala Eropa 1996 setelah dua golnya memastikan kemenangan Belanda atas Irlandia dengan skor 2-0 pada babak play-off prapenyisihan Piala Eropa 1996 yang digelar pada 13 Desember 1995 di Stadion Anfield, Liverpool.

Sementara itu, George Weah, meskipun tampil gemilang bersama PSG pada musim 1994/1995, hanya mampu membawa klub tersebut menjadi juara Piala Prancis 1994/1995. Di Champions Cup 1994/1995, Weah memang menjadi pencetak gol terbanyak, tetapi hanya mampu membawa PSG melangkah hingga semifinal. Pada babak tersebut, langkah PSG terhenti setelah takluk dari AC Milan.

Namun, Jari Litmanen hanya berada di peringkat ketiga, sedangkan Patrick Kluivert harus puas berada di peringkat kelima.

Sebuah fakta ironis di tengah dominasi Ajax di Eropa dan dunia pada 1995.

Kontroversi Ballon d’Or 2000

Tahun 2000 penuh kontroversi bagi Luis Figo. Bintang Portugal itu pindah dari Barcelona ke rival abadinya, Real Madrid, pada awal musim.

Selain perpindahan tersebut, kontroversi lain terjadi karena Figo justru menjadi pemenang Ballon d’Or 2000. Figo mengalahkan Zinedine Zidane dan Andriy Shevchenko.

Kontroversi Ballon d’Or

Luis Figo peraih Ballon d'Or 2000

Awalnya, publik mengira Zinedine Zidane yang akan memenangkan Ballon d’Or 2000. Apalagi, Zidane menjadi aktor penting yang membawa Timnas Prancis menjadi juara Piala Eropa 2000 di Belanda dan Belgia.

Selain Zidane, bintang Italia Francesco Totti juga diprediksi akan meraih Ballon d’Or 2000 setelah sukses menjadi Pemain Terbaik Serie A 2000, Pemain Terbaik Final Piala Eropa 2000, dan memimpin AS Roma berjaya di Serie A pada awal musim 2000/2001.

Namun, Zidane harus puas menjadi runner-up, sedangkan Totti hanya berada di peringkat ke-14.

Figo sendiri gagal total bersama Barcelona pada musim 1999/2000 dan bersama Timnas Portugal di Piala Eropa 2000. Bahkan, dirinya menjadi sasaran kemarahan penggemar Barcelona ketika pindah ke Real Madrid pada awal musim 2000/2001.

Figo kemudian mengakui bahwa dirinya tidak seharusnya mendapatkan Ballon d’Or 2000 tersebut. Ia meyakini gelar itu lebih pantas diraih oleh legenda hidup AS Roma, Francesco Totti.

Kontroversi Ballon d’Or 2010

Pada 2010, Lionel Messi dinobatkan sebagai pemenang Ballon d’Or setelah mengalahkan dua rekan setimnya di Barcelona saat itu, Andrés Iniesta dan Xavi Hernández. Padahal, Iniesta dan Xavi berhasil membawa Timnas Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2010.

Sementara itu, Messi gagal membawa Argentina melangkah jauh di Piala Dunia 2010 setelah kandas di babak perempat final. Argentina takluk 0-4 dari Jerman pada babak tersebut. Bahkan, sepanjang Piala Dunia 2010, penampilan Messi dinilai tidak meyakinkan. Ia tidak mencetak satu gol pun sepanjang turnamen tersebut.

Kontroversi Ballon d’Or

Lionel Messi peraih Ballon d'Or 2010

Kesuksesan Messi sepanjang musim 2009/2010 hanya membawa Barcelona meraih gelar juara Liga Spanyol dan Piala Super Spanyol. Keberhasilan itu pun tidak lepas dari peran dan dukungan Xavi serta Iniesta.

Sosok yang dianggap layak memenangi Ballon d’Or 2010 adalah pesepak bola asal Belanda, Wesley Sneijder. Saat itu, Sneijder menjadi aktor kunci yang sukses membawa Inter Milan meraih treble winner, yaitu gelar juara Liga Italia, Coppa Italia, dan Champions League.

Bahkan, pada semifinal Champions League musim 2009/2010, Sneijder sukses memimpin rekan-rekannya menaklukkan Barcelona yang saat itu diperkuat Messi, Iniesta, dan Xavi.

Di Piala Dunia 2010, Sneijder juga menjadi aktor kunci yang sukses membawa Timnas Belanda lolos ke final. Namun, Belanda akhirnya takluk 0-1 dari Spanyol melalui gol yang dicetak Andrés Iniesta pada babak perpanjangan waktu.

Pada Piala Dunia 2010, Sneijder menjadi salah satu dari tiga pemain yang mencetak gol terbanyak dengan koleksi lima gol. Namun, FIFA akhirnya memutuskan bintang Jerman Thomas Müller sebagai peraih Golden Boot.

Hampir semua pencinta sepak bola sepakat bahwa Sneijder paling layak meraih Ballon d’Or 2010. Namun, kenyataan pahit harus diterimanya. Bukan hanya gagal meraih Ballon d’Or 2010, ia juga tidak masuk dalam daftar tiga besar karena hanya berada di peringkat keempat.

"Sedikit tidak adil bahwa saya tidak diberikan Ballon d’Or dan Messi memenangkannya. Namun, saya bukan tipe orang yang akan menangisi hal macam itu. Ballon d’Or adalah penghargaan individu dan saya lebih memilih memenangkan trofi bersama tim. Bila saya diharuskan memilih Liga Champions atau Ballon d’Or, saya akan memilih trofi Liga Champions yang sudah saya menangkan. Saya sangat bahagia dengan gelar tersebut," ujar Sneijder kepada media kala itu.

Kontroversi Ballon d’Or 2013

Selain Ballon d’Or 2010, edisi 2013 juga mengundang kontroversi ketika Cristiano Ronaldo dinobatkan sebagai pemenang, mengungguli Franck Ribéry dan Lionel Messi. Hal ini disebabkan Ribéry dinilai lebih sukses bersama Bayern Muenchen pada tahun tersebut.

Sepanjang musim 2012/2013, Franck Ribéry menjadi pilar penting yang sukses membawa Bayern Muenchen meraih gelar juara Bundesliga, DFB Pokal, dan Champions League alias treble winner. Kesuksesan tersebut dilanjutkan dengan gelar Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub.

Namun, faktanya, Franck Ribéry tetap kalah dari Cristiano Ronaldo dalam persaingan Ballon d’Or.

Kontroversi Ballon d’Or

Cristiano Ronaldo peraih Ballon d'Or 2013

Padahal, pada musim 2012/2013, Cristiano Ronaldo dinilai tidak bersinar bersama Real Madrid. Ia tidak mampu membawa klub tersebut meraih gelar apa pun pada musim itu. Di Champions League, Real Madrid takluk dari Borussia Dortmund pada semifinal. Sementara itu, di Liga Spanyol, Real Madrid hanya menjadi runner-up setelah kalah bersaing dengan Barcelona.

Selain itu, keputusan FIFA memperpanjang tenggat waktu pemungutan suara Ballon d’Or 2013 juga menimbulkan polemik. Seharusnya, batas akhir pemungutan suara adalah 15 November 2013. Namun, FIFA memperpanjang tenggat waktu tersebut hingga 29 November 2013.

Ribéry sendiri merasa terluka atas kegagalannya meraih Ballon d’Or 2013 tersebut.

"Ballon d’Or 2013 itu tidak adil. Itu adalah musim yang luar biasa bagi saya, dan saya seharusnya memenangkannya. Mereka memperpanjang waktu pemungutan suara, dan sesuatu yang aneh terjadi. Saya merasa itu adalah pilihan politis," kata Ribéry kepada La Gazzetta dello Sport ketika menyikapi kegagalannya kala itu.

Kontroversi Ballon d’Or 2024

Kontroversi Ballon d’Or 2024 menarik untuk dikenang karena diwarnai aksi boikot klub besar Spanyol, Real Madrid, terhadap malam penganugerahan.

Real Madrid memutuskan memboikot penghargaan tersebut dengan tidak menghadiri malam penganugerahan Ballon d’Or 2024 yang berlangsung di Théâtre du Châtelet, Paris, Prancis, pada Senin, 28 Oktober 2024, pukul 20.45 waktu setempat atau Selasa, 29 Oktober 2024, pukul 02.45 WIB.

Real Madrid sebenarnya meraih dua penghargaan pada Ballon d’Or 2024, yaitu kategori pelatih terbaik yang diraih Carlo Ancelotti dan Tim Terbaik yang diraih oleh Real Madrid.

Aksi boikot ini merupakan bentuk protes atas tidak terpilihnya penyerang Real Madrid asal Brasil, Vinícius Jr., sebagai peraih Ballon d’Or 2024.

Real Madrid berpandangan bahwa Vinícius Jr. jauh lebih layak menerima penghargaan tersebut dibandingkan dengan bintang Manchester City asal Spanyol, Rodri. Rodri terpilih sebagai peraih Ballon d’Or 2024 setelah mengungguli dua bintang Real Madrid, yaitu Vinícius Jr. dan Jude Bellingham.

Sepanjang periode tersebut, Vinícius Jr. sukses membawa Real Madrid menjadi juara Liga Spanyol 2023/2024, juara Champions League 2023/2024, juara Supercopa de España 2024, dan juara UEFA Super Cup 2024.

Sementara itu, Rodri sukses membawa Manchester City menjadi juara Premier League 2023/2024. Selain itu, Rodri juga menjadi aktor utama yang sukses membawa Timnas Spanyol menjadi juara Piala Eropa 2024. Ia juga terpilih sebagai Pemain Terbaik Piala Eropa 2024.

Kontroversi Ballon d’Or

Rodri peraih Ballon d'Or 2024

Tentu wajar jika kontroversi muncul karena, dari segi prestasi, Vinícius Jr. terlihat lebih mentereng dibandingkan dengan Rodri. Kriteria yang ditetapkan para pemilik suara dalam penentuan peraih Ballon d’Or 2024 pun menimbulkan tanda tanya bagi publik.

Apalagi, pada perempat final Champions League 2023/2024, Real Madrid yang diperkuat Vinícius Jr. berhadapan dengan Manchester City yang diperkuat Rodri. Hasilnya, Real Madrid sukses menyingkirkan Manchester City melalui drama adu penalti.

Begitulah fenomena kontroversi yang muncul dalam pemberian Ballon d’Or. Semoga ke depan tidak ada lagi kontroversi ketika penghargaan Ballon d’Or digelar. Waspada.id

- Penulis adalah pemerhati olahraga

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Berita Terkait

Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement