Breaking News
Memuat breaking news...

Krisis BBM Hantam Eropa, Biaya Perjalanan Warga Membengkak

Redaksi
Redaksi
Jumat, 25 September 2026 - 7.42 AM WIB
Krisis BBM Hantam Eropa, Biaya Perjalanan Warga Membengkak
Foto ilustrasi salah satu SPBU di Inggris
Eksklusif di WhatsApp
Dapatkan berita terkini langsung di layar HP Anda
Waspada+ Gabung
Reading Comfort
adjust the font size

JAKARTA (Waspada.id): Krisis bahan bakar mulai menekan perekonomian Uni Eropa. Lonjakan harga BBM akibat terganggunya pasokan energi membuat biaya perjalanan masyarakat dan operasional sektor logistik melonjak.

Dampaknya bukan lagi sekadar kenaikan harga di stasiun pengisian bahan bakar. Laporan kelompok lingkungan Transport & Environment (T&E) memperkirakan lonjakan harga BBM sejak awal konflik AS-Iran telah menggerus sekitar 53 miliar euro atau Rp1.078 triliun dari perekonomian Uni Eropa.

Melansir Euronews, Kamis (24/9/2026), sebagian besar tambahan biaya tersebut berasal dari diesel yang mencapai sekitar 40 miliar euro atau Rp814 triliun.

T&E memperkirakan lonjakan harga BBM membuat biaya perjalanan warga Eropa bertambah hingga 270 juta euro atau sekitar Rp5,4 triliun setiap hari. Pengguna kendaraan diesel menanggung porsi terbesar, yakni sekitar 203 juta euro atau Rp4,1 triliun per hari.

Diesel Jadi Beban Terbesar

Tekanan terhadap Eropa semakin terasa karena kawasan tersebut memiliki ketergantungan tinggi terhadap diesel.

Diesel mencakup sekitar 43% dari total konsumsi produk minyak Uni Eropa, atau 16 poin persentase lebih tinggi dibandingkan rata-rata global. Angka tersebut juga hampir dua kali lipat dibandingkan konsumsi diesel di Amerika Serikat.

Sektor transportasi darat menjadi pengguna terbesar diesel Eropa dengan porsi sekitar 77% dari total pasokan. Konsumsi tersebut terutama berasal dari mobil penumpang, truk besar, bus dan van. Kenaikan harga kemudian langsung terasa oleh konsumen.

T&E mencatat pengemudi kendaraan diesel di Uni Eropa rata-rata mengeluarkan tambahan 142 euro atau sekitar Rp2,8 juta selama 28 minggu terakhir dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Per 14 September 2026, biaya untuk mengisi penuh tangki kendaraan berkapasitas 50 liter bahkan meningkat sekitar 30 euro atau Rp610 ribu dibandingkan kondisi sebelum perang.

Pengusaha Truk Ikut Tertekan

Krisis BBM juga mulai menghantam sektor logistik. Kenaikan harga diesel membuat biaya operasional kendaraan angkutan barang meningkat signifikan.

Pengusaha truk jarak jauh di Jerman, misalnya, mencatat tambahan pengeluaran hingga 236 euro atau sekitar Rp4,8 juta per minggu. Jika diakumulasikan selama periode pengamatan, kenaikannya mencapai sekitar 6.000 euro atau Rp122,1 juta.

Lonjakan tersebut tidak terlepas dari terganggunya rantai pasok dan produksi bahan bakar olahan.

Konflik di Timur Tengah mengganggu ekspor produk olahan minyak, sementara ketegangan geopolitik di Eropa Timur turut memukul operasional sejumlah kilang minyak Rusia.

Data T&E menunjukkan ekspor diesel dan solar dari Timur Tengah serta Rusia merosot hampir 75% pada Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut kemudian mendorong margin pengolahan minyak atau crack spread melonjak. Selisih antara harga minyak mentah dan harga grosir diesel bahkan menembus lebih dari US$100 per barel, jauh di atas kisaran normal US$10-US$30 per barel.

Harga Diesel Cetak Rekor

Tekanan pasokan akhirnya mendorong harga diesel di Eropa ke level tertinggi.

Pada 14 September 2026, harga rata-rata tertimbang diesel di Uni Eropa tercatat mencapai 2,159 euro per liter, berdasarkan data yang dikutip T&E dari Komisi Eropa.

Angka tersebut menjadi rekor tertinggi sejak Komisi Eropa mulai menghimpun data pada 2005.

Tekanan pasokan diperkirakan belum berakhir. Memasuki musim gugur, permintaan minyak pemanas, sektor pertanian dan transportasi barang berpotensi meningkat. Pada saat bersamaan, sejumlah kilang minyak memasuki jadwal pemeliharaan berkala.

Risiko pasokan semakin besar setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan rencana pembatasan ekspor diesel dari Amerika Serikat.

Work From Home hingga Kendaraan Listrik

Menghadapi tekanan harga BBM yang berkepanjangan, T&E merekomendasikan sejumlah langkah penghematan yang digagas Badan Energi Internasional (IEA).

Salah satunya melalui penerapan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home selama tiga hari dalam sepekan. Kebijakan tersebut diperkirakan dapat mengurangi porsi pengeluaran BBM pengendara hingga 20%.

Langkah lainnya mencakup penurunan batas kecepatan di jalan tol, optimalisasi transportasi publik serta edukasi mengenai berkendara hemat energi.

Dalam jangka panjang, transisi menuju kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dinilai dapat mengurangi ketergantungan Eropa terhadap minyak.

T&E mencatat hampir 8 juta mobil listrik yang beroperasi di Uni Eropa pada 2025 telah membantu menghindarkan konsumsi sekitar 46 juta barel minyak.

Penggunaan kendaraan listrik tersebut juga disebut mampu menghemat biaya impor minyak hingga 2,9 miliar euro atau sekitar Rp59 triliun.

Krisis BBM ini menunjukkan bahwa gangguan pasokan energi tidak hanya berdampak pada harga bahan bakar di tingkat konsumen. Ketika diesel melonjak, biaya perjalanan, distribusi barang hingga aktivitas ekonomi ikut terkena tekanan. (Lip6)

Ikuti WASPADA di Google Berita
Dapatkan berita terbaru langsung dari Google News.
Ikuti
Topik

Discussion

Bagikan pemikiran dan pendapat Anda

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.
Berita Terkait
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement