Kuliah Umum di UNPRI, Karding Ajak 1.000 Mahasiswa Jadi Penjaga Keamanan Hayati


MEDAN (Waspada.id): Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding mengajak sekitar 1.000 mahasiswa Universitas Prima Indonesia (UNPRI) ikut mengambil peran dalam menjaga keamanan hayati Indonesia.
Ajakan tersebut disampaikan Karding saat memberikan kuliah umum bertajuk “Penguatan Sistem Karantina dan Keamanan Hayati dalam Mendukung Ekspor Impor Komoditas Pertanian dan Perkebunan” di UNPRI, Medan, Rabu (28/10).
Menurut Karding, perlindungan sumber daya hayati tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas karantina di pintu masuk dan keluar wilayah.
Perguruan tinggi dan generasi muda juga memiliki ruang besar untuk berkontribusi melalui riset, pengembangan metode deteksi, kajian rantai pasok, hingga pendampingan terhadap pelaku UMKM.
Dalam paparannya, Karding menjelaskan bahwa lalu lintas komoditas pertanian antarwilayah maupun antarnegara selalu membawa peluang ekonomi sekaligus risiko biologis.
Di satu sisi, Indonesia ingin semakin banyak komoditas pertanian dan perkebunan masuk ke pasar internasional. Namun, di sisi lain, lalu lintas barang juga dapat menjadi jalur masuk dan tersebarnya organisme pengganggu tumbuhan maupun penyakit hewan.
"Pengawasan ketat karantina penting untuk mencegah masuknya penyakit komoditas yang berdampak buruk pada ekonomi dan sosial," tegas Karding.
Karena itu, menurut dia, kemampuan mendeteksi risiko sejak dini menjadi bagian penting dalam menjaga sumber daya hayati sekaligus keberlanjutan perdagangan.
Satu media pembawa yang luput dari pengawasan, kata Karding, dapat membawa ancaman yang berdampak lebih luas terhadap pertanian, peternakan, maupun ekosistem.
Dampaknya bukan hanya berpotensi menurunkan produksi, tetapi juga dapat memengaruhi keberterimaan komoditas Indonesia di pasar internasional.
Karding mengatakan, pengamanan tersebut membutuhkan sistem yang bekerja dari hulu hingga hilir.
Selain pengawasan terhadap komoditas yang masuk ke Indonesia, Barantin juga mendorong fasilitasi terhadap produk dalam negeri yang akan diekspor.
Salah satunya dilakukan melalui kebijakan “karpet merah” bagi eksportir yang membutuhkan pendampingan dalam memenuhi persyaratan negara tujuan.
Menurut Karding, pendekatan tersebut diarahkan agar karantina tidak hanya menjadi institusi pengawasan, tetapi juga membantu pelaku usaha memahami persyaratan yang harus dipenuhi sebelum produk masuk ke pasar internasional.
Pendampingan tersebut antara lain diberikan kepada pelaku usaha komoditas unggulan seperti kopi.
Barantin juga mendorong digitalisasi pelayanan dan peningkatan transparansi agar proses sertifikasi dapat berjalan lebih cepat, akurat, dan akuntabel.
Namun, Karding menekankan bahwa perluasan ekspor tetap harus berjalan beriringan dengan kepatuhan terhadap persyaratan karantina dan perlindungan keamanan hayati.
Dalam kesempatan itu, Karding juga mengajak mahasiswa UNPRI tidak hanya melihat isu karantina dari sisi teknis pemeriksaan komoditas.
Menurut dia, dunia akademik dapat mengambil peran melalui pengembangan metode deteksi modern, penelitian mengenai pengelolaan risiko biologis, kajian tata kelola rantai pasok, hingga program pengabdian masyarakat bersama instansi terkait.
Mahasiswa juga dapat terlibat dalam pendampingan UMKM agar pelaku usaha semakin memahami pentingnya ketertelusuran, persyaratan negara tujuan, dan kesiapan produk sebelum memasuki pasar ekspor.
Karding menilai integritas ilmiah menjadi bagian penting dalam keterlibatan generasi muda.
Kejujuran dalam pengelolaan data, hasil penelitian, dan pengambilan keputusan menjadi modal penting ketika mahasiswa nantinya terjun ke dunia kerja maupun memegang posisi kepemimpinan.
Menurut dia, upaya meningkatkan perdagangan tidak boleh mengabaikan aspek perlindungan sumber daya hayati.
Pertumbuhan ekspor, kelancaran impor, dan keamanan hayati harus berjalan dalam satu sistem yang saling mendukung.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi dinilai penting untuk memperkuat sistem karantina sekaligus menjaga keberlanjutan perdagangan.
Melalui kuliah umum tersebut, Karding berharap mahasiswa UNPRI dapat melihat keamanan hayati bukan hanya sebagai isu pemerintah, tetapi sebagai tantangan bersama yang membutuhkan dukungan ilmu pengetahuan, inovasi, dan keterlibatan generasi muda. (id09)
Berita Terkait









































































Discussion
Bagikan pemikiran dan pendapat Anda